Sunday, May 5, 2013

Bupati Launching Web Wisata Sidoarjo


Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah SH,M.Hum melakukan launching website terkait dunia wisata di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Website yang diprakarsai oleh Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Sidoarjo itu bertujuan sebagai referensi bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin mengunjungi kabupaten yang terkenal akan udang dan bandengnya itu.

Untuk mengetahui dunia wisata di Kabupaten Sidoarjo, para wisatawan dapat membuka melalui website www.pesonawisatasidoarjo.com dan diharapkan dapat memberikan informasi secara detail terkait dunia wisata di Sidoarjo.

“Ini merupakan langkah yang tepat sebagai upaya dalam memberikan informasi kepada seluruh masyarakat luas atau wisatawan guna mengetahui potensi wisata yang ada di Kabupaten Sidoarjo,” ujarnya.

Diharapkan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sidoarjo dapat menjadikan potensi obyek wisata yang ada di Sidoarjo akan mengalami peningkatan dan kemajuan yang sangat pesat.

“Hal itu akan juga berdampak pada perkembangan para pelaku usaha jasa wisata di Sidoarjo yang semakin bertambah banyak,” kata H. Saiful Ilah Halal Bihalal Keluarga Besar Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Sidoarjo yang diselenggarakan di The Sun Hotel Sidoarjo beberapa waktu yang lalu.

Menurut H. Saiful Ilah bahwa salah satu komponen penunjang kemajuan potensi wisata di Kabupaten Sidoarjo adalah para pelaku usaha jasa wisata itu sendiri.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sidoarjo Ir. Pramu Sigit Priyandono, MT mengatakan bahwa website yang di prakarsai oleh Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Sidoarjo tersebut nantinya akan menjadi pusat informasi pariwisata yang ada di kabupaten Sidoarjo.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini banyak orang yang tidak tahu bahkan meragukan tentang tempat pariwisata di Kabupaten Sidoarjo yang dapat dijadikan jujugan. Untuk itu bersama dengan Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Sidoarjo yang sudah terbentuk, ia bertekad untuk mewujudkan Kabupaten Sidoarjo menjadi pusat wisata baru.

“Selama ini kita seolah-olah jadi penonton saja, melihat hilir mudik orang dari Surabaya ke Malang, maupun Denpasar yang melawati Sidoarjo tanpa meliriknya,” katanya.

Menurut Pramu Sigit bahwa ada 9 asosiasi maupun persatuan-persatuan serta paguyuban yang tergabung dalam Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Sidoarjo dan salah satunya adalah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Sidoarjo (APPWS) yang akan ikut serta dalam memajukan pariwisata di Kabupaten Sidoarjo.

“Dengan bermunculan tempat wisata baru di Kabupaten Sidoarjo seperti tempat pemancingan dan outbond yang belum lama ini di buka oleh Bupati Sidoarjo. Biro perjalanan wisata dan travel akan menjadikan Sidoarjo pusat ampiran baru bagi para wisatawan yang dibawanya,” terangnya. (imams/sgt)

Sumber : bertasidoarjo.com

Desa Sepande Pusat Penghasil Tempe dan Tahu di Sidoarjo


Desa sepande merupakan desa yang berada di sebelah barat dari bundaran air mancur Sidokare Asri. Banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai pengusaha dan pembuat tempe di Desa Sepande,kecamatan Candi,Sidoarjo menyebabkan desa Sepande diberi julukan sebagai desa penghasil tempe dan tahu.Alhasil,banyak masyarakat Sidoarjo yang mengenal desa Sepande sebagai desa penghasil tempe dan tahu di Sidoarjo.

Jika anda memasuki desa Sepande anda akan di sambut dengan pohon beringin rindang yang merupakan ciri khas jika anda memasuki desa sepande.Sejauh mata memandang, terlihat rumah-rumah warga yang berjejer rapi sedang melakukan aktivitas pengolahan kedelai menjadi tempe dan tahu. Dari informasi yang kami terima ,pembuatan tempe dan tahu di desa sepande masih bersifat tradisional yang proses pengolahanya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar dalam pembuatanya,yang menyebabkan tempe dan tahu dari sepande memiliki rasa yang sedap.

Dari pendapat yusuf warga desa sepande ” iya,ini sejak dulu sebagai desa penghasil tempe karena banyak penduduk yang usaha sebagai penghasil tempe.Banyak pedagang pedagang dari pasar larangan yang mengambil tempe dan tahu dari desa sepande untuk di jual”.Dengan adanya desa desa yang menjadi kawasan industri rumahan seperti desa Sepande,di harapkan ekonomi masyarakat di Sidoarjo dapat semakin berkembang dengan baik.

Sumber : sidoarjopos.com

Batu Prasasti Airlangga di Sidoarjo Bisa Memanjang


detikTravel Community - 
Tak banyak traveler yang tahu keberadaan batu prasasti Airlangga di Sidoarjo, Jatim. Selain dinikmati oleh wisatawan dan pecinta sejarah, batu ini punya cerita aneh bin ajaib. Setelah dipelihara beberapa tahun, konon batu itu bertambah panjang. Penasaran?

Nama Airlangga mengingatkan kita pada sebuah perguruan tinggi terkenal di Surabaya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa di Sidoarjo, Jawa Timur berdiri sebuah prasasti kuno warisan Raja Airlangga yang dijadikan destinasi menarik. Kebanyakan traveler atau penikmat sejarah hanya mengetahui keberadaan situs-situs purbakala yang ada di Kota Trowulan–Mojokerto sebagai warisan Kerajaan Majapahit, atau situs purbakala warisan Kerajaan Singosari yang ada di Kota Singosari–Malang. Situs pubakala tadi tentunya sudah tidak asing lagi seperti Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.

Perjalanan kami menyusuri kawasan pedesaan di Kecamatan Krian-Sidoarjo, Jawa Timur bukan saja menarik tetapi sungguh menyenangkan. Selama perjalanan menuju situs, kami menjumpai lahan persawahan yang subur dan begitu luas dengan udara yang masih segar. Pikir kami, "Ternyata masih banyak lokasi pedesaan yang sejuk dan asri di dekat kami tinggal di pinggiran Gresik itu yang belum kami kunjungi."

Siapa sangka kalau di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian-Sidoarjo ada sebuah prasasti yang dibuat di masa Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan, Kediri. Memasuki lokasi situs di kawasan Dusun Klagen, pasti pengunjung dibuat keheranan. Betapa tidak, situs yang menjadi bukti kebesaran Raja Airlangga ini ternyata berada di antara rumah-rumah warga. Tidak ada istimewanya. Sepintas mirip batu nisan yang berukuran besar saja. Tidak ada papan nama khusus layaknya candi-candi Majapahit di Trowulan yang kesohor itu. Hanya ada pelindung situs yang berupa joglo kecil dengan pagar mengelilingi prasasti.

Informasi yang lengkap tentang seluk beluk situs juga tidak ada. Sangat sederhana untuk ukuran bangunan cagar budaya. Konon tanah di mana prasasti berada menjadi milik leluhur Hoesin, sang juru kunci yang kini diangkat menjadi PNS oleh Dinas Purbakala. Ironis memang benda cagar budaya yang semestinya menjadi bahan belajar anak-cucu kita kelak ternyata kurang terpelihara. Padahal situs ini dibangun sebelum masa Kerajaan Majapahit.

Prasasti bertulis dengan menggunakan bahasa Jawa kuno itu terbuat dari batu andesit yang merupakan batu sungai atau gunung dengan ukuran tinggi kira-kira 2 meter, lebar kira-kira 1 meter dan ketebalan kira-kira 30 sentimeter. Ketika kami bertanya kepada salah seorang ibu yang tinggalnya persis di samping situs, ia mengatakan batu itu warisan Raja Airlangga. Tetapi setelah itu ibu-ibu tadi menyarankan agar saya menemui langsung Pak Hoesin sebagai juru kunci situs Airlangga.

Pak Hoesin sendiri tinggal tidak jauh dari situs Airlangga. Ketika kami datang beliau sedang berbenah di rumahnya yang sekaligus dijadikan tempat usaha toko sembako dan warung nasi bebek. Kami akhirnya terlibat dalam perbincangan santai seputar kisah prasasti Airlangga tersebut.

Sambil duduk di atas sebuah bangku bambu besar, Pak Hoesin mengatakan prasasti itu dibuat sebagai bahan ingatan untuk rakyat saat itu. Kawasan di pinggiran Sungai “Kalagyan” yang sekarang Klagen menjadi daerah yang dibebaskan dari pajak dan dimakmurkan atau daerah perdikan.

Di kawasan itu pula Raja Airlangga membuatkan tambak dan lahan pertanian untuk rakyat sebagai budi baik sang raja karena di kawasan itu sebelumnya telah dilanda banjir Sungai Brantas. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Prasasti Airlangga dibangun sebagai penanda atas bangunan dam yang diperuntukkan bagi rakyat di sekitarnya. Waduk atau dam ini berfungsi mengendalikan air Sungai Brantas yang sering melanda pemukiman warga sekitar Kalagyan.

"Kira-kira dua ratus meter ke belakang prasasti, terdapat bangunan batu bata tersusun rapi sepanjang kira-kira 2 meter layaknya bangunan waduk saja," tutur Pak Hoesin.

Tetapi dinas purbakala kemudian mengeruk kembali situs waduk tadi karena dana yang diperlukan untuk proses eskavasi dirasa sangatlah besar. Warga sekitar Dusun Klagen masih menuakan benda purbakala warisan Airlangga tadi. Terbukti setiap kali mereka punya hajatan, mereka menempatkan sesaji di Prasasti Airlangga kemudian melakukan ritual-ritual tertentu. Singkatnya, mereka meminta ijin terlebih dulu kepada leluhur mereka lewat situs ini.  Â

"Di dalam areal situs sebenarnya terdapat tiga batu tegak yang satu telah diambil seseorang yang masih menjadi tetangga sang juru kunci sendiri," ungkap Pak Hoesin.

Saat ditanya kenapa ia tidak meminta batu itu untuk dikembalikan, Pak Hoesin menjawab batu tersebut sudah menjadi cagar budaya yang dilindungi negara. Lanjutnya, batu itu akan dikembalikan lagi oleh si pengambil setelah dipasang papan peringatan terkait pencurian benda cagar budaya. Pak Hoesin mengaku tak tahu, kenapa si pencuri sangat berani mengambil prasasti itu.

Ada kisah misteri terkait batu prasasti ini. Salah seorang tetangga Hoesin secara diam-diam mengambil salah satu dari batu prasasti Airlangga. Setelah dipelihara beberapa tahun, batu tegak yang diambilnya tadi ternyata bertambah panjang! Itulah yang diceritakan Pak Hoesin kepada saya. Kami pun mohon pamit kepada Pak Hoesin untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Sumber : travel.detik.com

Sidoarjo Twitter User Group

@SdaTUG (Sidoarjo Twitter User Group) 
Komunitasnya arek twitter Sidoarjo. 
Ayo rek gabung! Mention ke sini untuk share apapun tentang Sda! Sidoarjo


Tradisi Buri, Panen Bandeng & Udang Windu di Kalangan Petambak Sidoarjo


Warga Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo dan warga sekitar melakukan tradisi buri (panen bandeng dan windu).

Mereka membantu mengambil sisa ikan yang dipanen untuk diberikan ke pemilik tambak, Minggu (14/4/2013. Atas upayanya ini, warga mendapat bagian dari hasil yang diperoleh. Tradisi buri ada sejak turun-temurun di kalangan petambak Sidoarjo.

Sumber: Tribunnews

Empat Investor Siap Bangun Sea World Sidoarjo


KOTA Delta bakal memiliki sea world. Rencana pembangunan tempat wisata itu akan dikerjakan wilayah pantai Sedati. Meski sampai sekarang lahan mana yang akan ditempati
sea world ini belum pasti, tetapi sudah ada keinginan investor untuk menanamkan modalnya.

Hingga kini, ada empat perusahaan yang mengajukan diri untuk menggarap wahana ini. Dari empat tersebut, satu di antaranya sudah mendapatkan izin lokasi dari badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BPPD) Sidoarjo.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang permukiman dan Prasarana Wilayah Eni Rostianingsih.

“Ada satu perusahaan yang sudah mendapatkan izin lokasi untuk ikut menggarap proyek ini,” ujarnya. 

“Kalo tidak salah namanya PT Jaswinda. Dia akan menggarap 300 hektar,” tuturnya.

Proyek sea world ini masuk dalam rencana tata ruang kawasan strategis pesisir yang telah diperdakan pada 2009 silam. Pemerintah Sidoarjo sendiri menyediakan lahan seluas
1.500 hektar untuk proyek tersebut. 

“Letaknya di Desa Banjar Kemuning dan Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati,” imbuhnya.

Dalam pengerjaannya, Bappeda berfungsi sebagai fasilitasi dari investor yang berminat untuk menggarap kawasan tersebut.

“Kita hanya sebagai fasilitator bagi investor untuk mengembangkan kawasan tersebut dengan catatan mereka harus mempunyai konsep yang tepat untuk kawasan ini,” tuturnya.

Sesuai rencana, untuk sea world akan digarap oleh empat investor dengan pembagian wilayah yang berbeda. 

“Ada yang menggarap sarana prasarana, wisata air dan tidak menutup kemungkinan
mungkin ada yang membangun hotel,” katanya

Selain itu investor yang berminat juga diminta untuk menyiapkan desain rancangan
pembangunan sea world. Di antaranya termasuk teknologi apa yang akan digunakan sehingga antara pemkab dengan investor terdapat persamaan persepsi.

Hingga saat ini Eny mengaku terus menunggu kesiapan investor untuk melakukan pengembangan di kawasan tersebut. Eny menyebutkan terdapat sebuah konsorsium
dari Korea yang berminat untuk mengembangkan kawasan tersebut. 

“Tapi hingga kini mereka belum mengajukan desain dan teknologi yang mereka
gunakan,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menyatakan tahun 2013 sea world sudah mulai dibangun. 

“Tahun ini akan segera dibangun dan diusahakan selesai tahun ini juga,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Saiful Ilah juga mengatakan membangun sea world telah didasarkan berbagai pertimbangan. Salah satunya Sidoarjo dekat dengan laut dan taman wisata laut
yang berada di pesisir pantai. 

Sehingga diharapkan bisa menekan biaya operasional. Bahkan dijanjikan sea world ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia.

“Sea world di Sidoarjo nantinya bakal menjadi yang terbesar di Indonesia,” tandas Saiful Ilah.

Kata Saiful, pembangunan akan menggunakan jasa konsultan Underwater Word, yakni sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan pembangunan sea
world. 

Perusahaan ini sudah membangun, salah satunya membangun sea world terbesar di Changsa,
Provinsi Hunan, China. Antara Pemkab Sidoarjo dengan pihak investor kini telah menjalin komunikasi intensif. Untuk pembangunan sea world, keseriusan investor telah dituangkan
dalam bentuk penandatanganan pernyataan bersama antara Bupati Sidoarjo dengan Direktur Underwater World, Lim Nay Hian, di Changsan China.

Di sisi lain Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto mengatakan sea world diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan di wilayah timur Sidoarjo.

Berdirinya sea world ini diyakini tidak akan menganggu keberadaan tambak yang memang banyak tersebar di wilayah Sedati.

“Yang dipakai adalah tambak yang sudah tidak produktif,” katanya.

Selain itu, ia memastikan tidak akan menganggu hutan mangrove yang ada di kawasan pesisir. 

“Kemungkinannya sebelum mangrove. Hutan mangrove harus aman,” pungkasnya.

Pemkab yakin sea world akan terbangun di Kota Delta. Menurut Hadi Sutjipto, rencana pembangunan yang akan dibiayai investor dari China, Underwater World itu, sudah dalam
proses pembebasan lahan meski belum tuntas.

Hadi Sutjipto berharap masyarakat bisa memberikan dukungan. Hal itu, kata dia, bisa ditunjukkan dengan melepaskan lahan dengan harga yang wajar, sehingga proses bisa berjalan lancar.

Sumber: radar surabaya

Sunday, April 28, 2013

Pasar Taman Pinang - Gading Fajar


Malioboro - Yogyakarta

Jika di Yogyakarta ada Malioboro. Dan jika di Singapura ada Bugis Street. Ya, dua-duanya adalah suatu jalan yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima. 


Bugis Street - Singapura

Di kota Sidoarjo juga tidak kalah. Yaitu di jalan kembar perumahan Taman Pinang - Gading Fajar, Sidoarjo, tiap hari dipenuhi pedagang aneka jenis kebutuhan, terutama malam minggu dan hari Minggu.

Pasar Taman Pinang - Gading Fajar

Kalau Sabtu malam, Minggu pagi, dan Minggu malam silahkan telusuri sepanjang jalan ini dengan jalan kaki (sepanjang kurang lebih 1 km) di area ini ada berbagai pedagang, kuliner, elektronik, komputer, laptop, handphone, furniture, dekorasi rumah, mobil, motor, jasa perkreditan, fashion, pakaian, tas, sepatu, sandal, make up, asesoris, mainan anak, binatang peliharaan, ikan, ular, kucing ras, hamster, tokek, katak, kelinci, kerajinan tangan, keperluan dapur dan sayur-sayuran. 

Lengkap! Semua tersedia di stand-stand yang tidak permanen, stand mobil, dan bahkan hanya meja dan payung saja.

Tidak pernah sepi pengunjung. Pedagangnya pun seperti tak pernah sepi pembeli. Selalu saja ada orang yang berhenti di depannya untuk melihat, menawar, dan membeli. 

Related Posts