Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, October 9, 2023

Kerajaan Jenggala

Kerajaan Janggala atau nama lainnya Jenggala adalah salah satu kerajaan Hindhu yang terletak di kawasan Sidoarjo Jawa Timur. Sama seperti kerajaan pada umumnya, Jenggala juga mempunyai silsilah kerajaan, masa kejayaan hingga peninggalan-peninggalannya. Bahkan keberadaan kerajaan ini dianggap penting bagi kerajaan-kerajaan lain yang ada di sekitarnya.

Nah, buat yang mau tahu lebih detail mengenai sejarah Kerajaan Jenggala, Kami akan mengulas secara lengkap tentang kerajaan ini beserta kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakatnya. Yuk, simak.


Sejarah Kerajaan Jenggala 

Kerajaan Jenggala diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1042 yang merupakan salah satu dari dua kerajaan pimpinan Airlangga dari wangsa Isyana. Kerajaan yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa timur ini berakhir pada tahun 1930-an. Menurut catatan sejarahnya, nama Jenggala berasal dari kata ‘Hujung Galuh’, serta dalam catatan Cina menyebutkan’Jung-ya-lu’.

Hujung Galuh menjadi bagian dari kota Surabaya yang berada di daerah muara sungai Brantas. Pada zamannya, daerah tersebut dijadikan sebagai pelabuhan penting dimana bukan hanya untuk kerajaan Jenggala saja melainkan juga beberapa kerajaan lainnya seperti Majapahit, Singhasari, Kediri dan Kahuripan. Meskipun begitu, Kerajaan Janggala dan Kadiri tidak pernah akur dan mereka selalu terlibat konflik meskipun berasal dari satu kerajaan yang sama.

Sementara bersama Kerajaan Kahuripan, justru Kerajaan Jenggala dapat tumbuh semakin cepat karena Mapanji Garasakan sebagai raja pertamanya mempunyai kemampuan untuk melakukan diplomasi serta mengatur pemerintahan di daerah kekuasaannya. Perkembangannya bahkan tidak hanya dilihat dari sektor pemerintahannya hanya saja, melainkan ekonomi, karya sastra dan kesenian. Secara internasional pada saat itu Kerajaan Jenggala juga diakui oleh kerajaan-kerajaan lainnya dari India, Tiongkok serta negara lainnya.


Lokasi, Letak Geografis Dan Peta Wilayah

Seperti yang telah kami singgung sebelumnya, Kerajaan Jenggala berlokasi di Sidoarjo provinsi Jawa timur.

Pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala beribukota di Kahirpan yang kepemimpinan pertama kalinya diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Namun sayangnya, tidak ada satu peninggalan pun yang benar-benar memastikan di mana tempatnya lokasi kerajaan Jenggolo. Beberapa sumber sejarah menyebutkan tentang keraton Jenggolo, tapi juga tidak dijelaskan secara gamblang titik lokasinya berada di Sidoarjo bagian mana.

Hal itu karena tidak adanya kitab-kitab peninggalan kerajaan Jenggolo yang dapat menunjukkan lokasi dan pusat pemerintahan kerajaan ini. Sehingga banyak bermunculan pendapat-pendapat para ahli sejarawan tentang lokasi Kerajaan Jenggala. Salah satunya menurut tulisan dari buku sejarah Sidoarjo yang dibuat pada tahun 1970, menyebutkan letak Keraton Jenggolo berada di sungai pepe yang diungkapkan berdasarkan penemuan beberapa arca di lokasi tersebut.

Dari buku tersebut menjelaskan bahwa lokasi Keraton Jenggolo tepatnya berada di kecamatan Gedangan. Namun pendapat lain menyebutkan bahwa Keraton Jenggolo berada di alun-alun sama seperti pusat kota Sidoarjo saat ini. Pendapat tersebut didasarkan karena adanya arca Batara Ismaya dan patung katak raksasa yang ada di alun-alun hingga tahun 1975.

Ada juga yang menyebutkan bahwa Larangan, Kecamatan Candi, dulunya adalah salah satu wilayah kekuasaan dan pusat militer Kerajaan Jenggala. Pendapat tersebut didukung karena beberapa penemuan benda purbakala saat penggalian tahun 1980-an diantaranya seperti gelang lengan, rompi perang, perhiasan dan pedang. Meskipun tidak disebutkan sebagai pusat pemerintahan, tapi wilayah Larangan diyakini merupakan kompleks kemiliteran pada zaman kekuasaan Kerajaan Jenggala.


Silsilah Raja   

Periode Kerajaan Jenggala hanya dipimpin oleh tiga raja saja, sehingga kekuasaan kerajaan ini terhitung cukup pendek. Beberapa nama raja raja yang pernah memimpin Kerajaan Jenggala diantaranya Mapanji Garasakan, Mapanji Alanjung Ahyes, dan Samarotsaha. Kepemimpinan raja di Kerajaan Jenggala diketahui berdasarkan peninggalan prasasti seperti berikut ini:

Prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Malenga (1052) dan prasasti Kambang Putih menunjukkan kepemimpinan dari raja Mapanji Garasakan.

Prasasti Banjaran (1052) menunjukkan kepemimpinan Alanjung Ahyes

Prasasti Sumengka (1059) menunjukkan kepemimpinan Samarotsaha

Sayangnya tidak ada informasi secara jelas bagaimana kehidupan dari setiap kepemimpinan Kerajaan Jenggala tersebut. Diketahui bahwa pada masa kepemimpinan dari Mapanji Garasakan kerajaan pernah terlibat perang dengan Kerajaan Kediri. Akibat peperangan tersebut membuat Jenggala terpaksa memindahkan pusat pemerintahannya ke Lamongan dan menjadi awal mula keruntuhan kerajaan.


Kehidupan Di Kerajaan Jenggala

Kehidupan politik, ekonomi dan budaya di Kerajaan Jenggala memang tidak banyak diceritakan. Namun kami akan mencoba untuk merangkum sedikit tentang setiap sisi kehidupan di Kerajaan Jenggala tersebut berikut ini:


1. Kehidupan Politik

Secara politik, pusat kekuasaan Kerajaan Jenggala berhasil menguasai wilayah muara sungai yang dijadikan sebagai jalur perdagangan. Sehingga di wilayah sungai Porong tersebut, menjadi titik pusat pemerintahan sekaligus perekonomian Kerajaan Jenggala. Sementara periode kepemimpinan di Kerajaan Jenggala hanya sampai pada raja ketiga saja sebelum akhirnya jatuh ke tangan Kerajaan Kediri.


2. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan perekonomian dari Kerajaan Jenggala pada awal pemerintahannya terbilang maju sangat pesat. Karena sejak masa kepemimpinan raja pertama Mapanji Garasakan memiliki kemampuan melakukan diplomasi ke berbagai daerah kekuasaan dan mengatur pemerintahan dengan baik. Bahkan kerajaan ini berhasil menguasai wilayah jalur perdagangan Sungai Porong dan menjadi pusat perdagangan terbesar kedua di nusantara setelah Kerajaan Sriwijaya. Melihat pesatnya perekonomian di Kerajaan Janggala  bisa disimpullkan bahwa rakyat dari kerajaan ini pun sudah mengenal uang.


3. Kehidupan Budaya

Perkembangan Kerajaan Jenggala tidak hanya dari sektor pemerintahan dan ekonominya saja, melainkan juga kesenian dan karya sastra. Namun dalam catatan sejarah tidak ada yang menyebutkan atau menjelaskan secara terperinci bagaimana kehidupan budaya, kesenian dan karya sastra yang ada di kerajaan ini. Prasasti-prasasti peninggalan dari Kerajaan Jenggala pun hanya menunjukkan masa pimpinan setiap raja kerajaan, tapi tidak secara gamblang menyebutkan tentang kehidupan budaya di Kerajaan Jenggala.


Masa Kejayaan Kerajaan Jenggala

Masa kejayaan Jenggala terlihat pada periode pertama pemerintahan, yaitu pada masa kepemimpinan Mapanji Garasakan. Seperti yang telah kami ceritakan sebelumnya, pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan berhasil membawa Kerajaan Jenggala menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Nusantara.

Bahkan perkembangan dari Kerajaan Jenggala ini jauh lebih besar daripada kehidupan Kerajaan Kahuripan pada waktu itu (kerajaan lainnya dari hasil pemisahan Kerajaan Airlangga). Wilayah kekuasaan Kerajaan Jenggala pun sangat luas dengan sistem perekonomian yang sangat maju. Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Jenggala hanya berhenti pada periode pemerintahan Mapanji Garasakan sebelum akhirnya terus mengalami penurunan.


Penyebab Keruntuhan        

Puncak kejayaan dan penyebab runtuhnya Kerajaan Jenggala sebenarnya sulit untuk dipahami karena terjadinya masa kegelapan. Namun berdasarkan penemuan dari Prasasti Ngantang tahun 1035 diketahui bahwa kerajaan ini ditaklukkan oleh Sri Jayabhaya raja Kadiri. Dengan semboyannya yang sangat terkenal yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang, Jenggala akhirnya menjadi bawahan dari Kerajaan Kediri.

Runtuhnya Kerajaan Jenggala tersebut terjadi pada masa pemerintahan Mapanji Lanjung Ahyes karena sering mendapatkan serangan dari Kerajaan Kediri. Melihat dari catatan sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyebab keruntuhan Kerajaan Jenggala adalah penaklukan atau serangan dari kerajaan lain. Melalui penaklukan tersebut membuat masa Kerajaan Jenggala berakhir dan berada dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri.

Berdasarkan prasasti Turun Hyang II menjadi bukti adanya peperangan antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri sepeninggalan Airlangga. Sementara kemenangan Kerajaan Kediri atas peperangan dengan Kerajaan Jenggala tercatat pada prasasti Ngantang


Peninggalan Kerajaan          

Periode Kerajaan Jenggala dimulai tahun 1042 dan berakhir pada tahun sekitar 1130 an. Salah satu kerajaan nusantara yang berlokasi di kabupaten Sidoarjo Jawa Timur ini cukup minim di ketahui mengenai peninggalan situsnya. Berikut ini beberapa situs peninggalan Kerajaan Jenggala yang ada dalam catatan sejarah:


1. Candi Prada

Kerajaan Jenggala adalah salah satu kerajaan bercorak agama Hindu-Budha, sehingga tak heran jika candi menjadi salah satu situs peninggalannya. Candi peninggalan ini berada di dusun Reno Pencil Sidoarjo, tapi sayangnya sudah dirusak oleh penduduk pada tahun 1965. Padahal peninggalan dari Kerajaan Jenggala cukup minim, sehingga sangat disayangkan jika salah satu peninggalan yang berharga ini harus dirusak.

Candi yang berada di kawasan porong-sidoarjo tersebut merupakan situs purbakala peninggalan Mpu Baradah. Di sekitar situs candi tersebut juga ditemukan prasasti Watumanak di mana oleh warga setempat menyebutnya sebagai Punden Prada. Menurut informasi sejarahnya, Mpu Baradah membuat situs candi tersebut sebagai sarana pemujaan terhadap sang Hyang Batara Ismaya atau Batara Kartika.


2. Prasasti Turun Hyang II Dan Sirah Keting

Peninggalan berupa prasasti ini menceritakan tentang adanya peperangan antara Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala. Sejak awal mula pemisahan kedua kerajaan tersebut dari Kerajaan Airlangga memang tidak pernah akur. Prasasti yang ditulis pada tahun 1104 ini menceritakanmengenai kalahnya Kerajaan Jenggala pada peperangan yang dipimpin oleh Sri Jayabhaya.


3. Situs Tumpukan Batu Bata Di Sidoarjo

Belum lama ini di daerah persawahan Desa Urang Agung Sidoarjo ditemukan sebuah situs bersejarah yang konon merupakan bekas peninggalan dari Kerajaan Janggala. Situs yang ditemukan tersebut berupa tumpukan batu bata seluas sekitar 4 meter persegi yang ditemukan oleh penduduk desa area sawah saat menggali. Namun sayangnya tidak ada informasi lengkap terkait situs peninggalan ini, termasuk mengenai kapan tahun dibuatnya.


4. Sumor Kuno

Ada satu lagi benda yang didugamerupakan peninggalan dari Kerajaan Jenggala Sidoarjo yaitu Sumor Kuno yang digunakan untuk berbuat klenik. Benda tersebut berada di tengah area tambak, tepatnya di desa Pepe Tambak, Sedari, Sudoarjo. Banyak orang dari berbagai wilayah mengunjungi tempat keberadaan Sumor Kuno ini.

Pengunjung biasanya datang pada malam Jumat atau malam suro untuk melakukan sesuatu karena peninggalan tersebut masih dikeramatkan. Penduduk sekitar menceritakan bahwa biasanya pengunjung yang mendatangi sumor kuno guna untuk mencari batu mustika atau benda kuno seperti keris berukuran kecil. Pengakuan dari penduduk sekitar memang sering benda-benda kuno di Sumor Kuno, tapi tidak banyak yang berani membawa pulang. Menariknya, sumur tersebut masih bersih dan tetap segar sehingga masih bisa digunakan sebagaimana sumur pada umumnya.


Sumber :

https://www.selasar.com/kerajaan/jenggala/

Sunday, June 18, 2023

5 Candi Di Sidoarjo Jawa Timur

5 Candi Di Sidoarjo Jawa Timur, Wajib Dikunjungi Bagi Pecinta Wisata Sejarah!

- Senin, 19 Juni 2023 | 06:00 WIB

  

Wisata sejarah tentunya sangat dibutuhkan bagi kalian yang sering dan suka untuk mengungkit dan memperdalam masalah sejarah. Karena, sejarah adalah hal yang perlu digali kembali ilmunya, wawasannya, supaya tidak hilang akan perkembangan zaman modern sekarang.

Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur, di mana Sidoarjo juga terkenal sebagai kabupaten yang menawarkan banyak tempat wisata yang mengandung unsur sejarah.

Beberapa wisata yang bisa dikatakan wajib bagi pecinta sejarah adalah candi yang ada di Sidoarjo tersebut, apalagi candi di Sidoarjo ada beberapa masih berdiri kokoh dan juga menarik untuk dikunjungi.

Selain berdiri kokoh, spot yang bagus juga menjadikan keunikan tersendiri dari beberapa wisata candi yang ada di Sidoarjo tersebut. Dan penulis akan memaparkan setidaknya 5 wisata candi di Sidoarjo Jawa Timur yang harus kalian kunjungi, bagi kalian yang suka berwisata sekalian belajar akan sejarah. 


Pertama, Candi Sumur.

Beberapa dari kalian tentunya ada yang sudah tidak asing kalau mendengar nama Candi Sumur. Candi sumur merupakan nama salah satu candi yang ada di Sidoarjo yang cukup popular dikalangan warga lokal maupun wisatawan luar negeri.

Candi satu ini memiliki bentuk bangunan yang unik dan sangat menarik. Meskipun bentuk candi sudah tidak utuh, tetapi di sisi lain menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Candi sumur ini berlokasi di Candipari Kulon, Candipari, kecamatan Porong, Sidoarjo. Konon katanya Candi Sumur ini dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat atau adik angkat dari Putra Prabu Brawijaya.

Candi sumur ini merupakan salah satu cagar budaya di kabupaten Sidoarjo yang bisa kalian kunjungi.


Kedua, Candi Pari.

Candi pari ini juga termasuk candi yang sangat popular dan juga ramai didatangi para wisatawan. Candi ini juga tidak jauh dari candi sumur, letaknya berada di jalan Purbakala, Porong, Sidoarjo. Bangunan candinya yang megah dan rumput taman di sekeliling yang terawat menjadikan Candi Pari tanpak megah dan indah.

Meskipun didirikan sudah lumayan lama, tetapi candi ini masih kokoh berdiri. Menurut batu yang ada dibagian gerbang, candi ini tertulis dibangun pada tahun 1293 saka, atau 1371 Masehi.


Ketiga, Candi Tawangalun.

Candi satu ini juga termasuk candi yang sering dikunjungi. Letaknya berada di jalan Tawangalun, Buncitan, Sedati, Sidoarjo.

Candi tawangalun ini merupakan candi peninggalan Majapahit, meskipun beberapa sisi candi yang tidak kokoh, tetapi candi satu ini juga mempunyai nilai sejarah dan juga menjadi daya tarik sendiri untuk didatangi oleh para wisatawan.

Candi tawangalun ini sempat mengalami pemugaran dengan pada pagian atapnya serta dinding candi. Lokasinya yang berada diperbukitan dan jauh dari pemukiman menjadikan area candi menjadikan suasana yang sejuk dan juga tenang.


Keempat, Candi Medalem.

Candi ini juga termasuk candi yang popular di kalangan warga lokal, lokasinya terletak di daerah Medalem, Tulangan, Sidoarjo. Lokasinya yang mudah dicari juga menjadikan pengunjung mudah dalam menuju ke area wisata sejarah di Candi Medalem tersebut.

Walaupun candi medalem ini tidak semegah candi lainnya, tetapi kisah sejarahnya juga sangat besar dan bisa dipelajari. Di sana banyak memiliki cerita, di mana konon katanya di wilayah candi ini dulunya hanya lahan yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Kemudian, juru kuncinya mendapat bisikan bahwa di bawah pohon terdapat sebuah candi, oleh sejak itulah ini kawasan dikenal sebagai wisata candi di Sidoarjo.


Kelima, Candi Dermo.

Diantara beberapa candi yang lainnya, Candi Dermo juga bisa kalian kunjungi saat datang ke kabupaten Sidoarjo. Candi yang satu ini lokasinya berada di dusun Candi Santren, kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Candi dermo ini merupakan candi peninggalan dari masa klasik hindu budha.

Beberapa ahli juga mengatakan, bahwa candi satu ini dibangun dari abad ke-14.***


Sumber :


Friday, May 19, 2023

Sejarah Pabrik Gula Sidoarjo

Sejarah Pabrik Gula Sidoarjo, Industri Semakin Berkembang-Prostitusi Menjamur

19 May 2023 18:53 PM

Pabrik Gula Sidoarjo

Sejarah panjang berdirinya pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo menjadi cerita bagi masyarakat. Selain tercatat sebagai sisa-sisa peninggalan bersejarah, ternyata pabrik gula menyimpan banyak hal menarik di dalamnya.

Pabrik gula di Sidoarjo pertama kali didirikan sekitar tahun 1.832. Pabrik gula tersebut bernama PG Candi yang hingga kini masih aktif dan eksis bergerak di bidang agro industri tebu.

Menurut salah satu pemerhati sejarah di Sidoarjo, Sudi Harjanto mengungkapkan, perkembangan industri gula yang gencar kala itu, membuat Belanda secara berkala membangun pabrik-pabrik gula di seluruh penjuru Kota Delta.

“Ada sekitar 15 titik pabrik gula yang tersebar hampir di setiap kecamatan yang ada di Sidoarjo. Di antaranya adalah di Tulangan, Krembung, Prambon, Porong, Candi, Sidoarjo, Buduran, Krian, Taman, Waru, Gedangan, Tanggulangin, Wonoayu, Krian, dan Balongbendo,” ujarnya.

Industrilisasi pabrik gula di Sidoarjo berkembang sangat pesat di zamannya. Belanda saat itu sukses menggandeng para penguasa lokal setingkat kecamatan hingga kabupaten di Sidoarjo untuk membuat produksi dan pengiriman gula hingga ke mancanegara yang dikirim melalui kereta. Tujuannya pelabuhan yang ada di Kota Surabaya.

Menurutnya, berkembangnya pabrik gula sebagai raja industri di Sidoarjo saat itu juga dibarengi dengan menjamurnya tempat-tempat prostitusi kelas bawah hingga menengah di kawasan pabrik.

“Mangkanya itu, istilah ‘Ada Gula, Ada Selimut’ lebih untuk menggambarkan kondisi saat itu. Menjamurnya dunia pelacuran saat itu juga berkembang. Perpelacuran untuk kelas menengah saat itu bernama sociates. Di sana rata-rata pasarnya para pekerja dari Belanda. Nah untuk pekerja kelas bawah, rata-rata ada disamping-samping sekitarnya. Semua PSK-nya juga dari lokal,” paparnya.

Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno itu juga menegaskan, setiap ada pabrik gula di suatu daerah, maka disitu juga ada tempat prostitusi baik untuk kalangan menengah hingga kelas bawah.

“Setiap pabrik gula yang berdiri, maka dipastikan ada praktik prostitusi di sekitarnya. Artinya dulu di Sidoarjo itu ada 15 titik tempat prostitusi atau yang sekarang dikenal dengan lokalisasi,” imbuh pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah itu.

Sudi menjelaskan, hubungan antara industri pabrik gula dan berdirinya tempat prostitusi tidak bisa dilepaskan. Beberapa data mengungkap bahwa para pekerja dari Belanda saat itu banyak yang tertarik kepada para pekerja seks komersial lokal karena mereka selama diberangkatkan di Indonesia tidak boleh membawa istri dan keluarganya.

Semakin berkembangnya waktu, titik-titik prostitusi yang semula dekat dengan kawasan pabrik gula, kini mulai hilang seiring karena bangkrut dan tidak beroperasinya pabrik gula sebagai penyangga industri.

Sudi menambahkan, buyarnya tempat prostitusi di Sidoarjo saat itu salah satunya adalah adanya faktor Pondok Pesantren yang juga mulai berdiri.

“Jadi eranya itu ‘ada gula, ada selimut baru ada pesantren’. Pesantren menjadi salah satu yang menekan prostitusi di setiap kawasan pabrik gula. Selain itu, gerakan perlawanan para pekerja, santri dan masyarakat kelas bawah pada Belanda juga menjadi satu faktor bangkrut dan meredupnya dominasi Belanda sebagai penjajah kala itu,” terangnya.

Menurut Sudi, hingga saat ini satu-satunya pabrik gula yang masih aktif dan eksis ada di Candi.


Sumber :

https://radarsidoarjo.jawapos.com/features/19/05/2023/sejarah-pabrik-gula-sidoarjo-industri-semakin-berkembang-prostitusi-menjamur/

Tuesday, April 11, 2023

Masjid Agung Sidoarjo

Masjid Agung Sidoarjo, Punya Sumur Tua yang Tidak Pernah Kering

12/04/2023

Masjid Agung Sidoarjo merupakan masjid terbesar di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Masjid ini berada di jalur Trans Jawa sehingga dapat disinggahi para pemudik yang melewati jalur tersebut. Lokasinya berada di Jalan Sultan Agung Nomor 36, Magersari, Kabupaten Sidoarjo. 

Masjid Agung Sidoarjo memiliki sejumlah daya tarik sehingga bisa menjadi alternatif destinasi wisata religi. Berikut beberapa daya tarik Masjid Agung Sidoarjo seperti dihimpun Kompas.com. 

1. Fasilitas travelator pertama di Jatim 

Masjid Agung Sidoarjo merupakan masjid pertama di Jawa Timur yang memiliki fasilitas travelator, seperti dikutip dari E-Booklet Mudik Jelajahi Masjid Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  Fasilitas travelator tersebut berfungsi untuk memudahkan mobilitas jamaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas. Mengutip laman Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, fasilitas travelator tersebut diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Senin (1/3/2021) lalu. 


2. Berusia 164 tahun  

Masjid Agung Sidoarjo didirikan pada 1859, sehingga usianya kini sudah mencapai 164 tahun. Masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi sehingga masih kokoh berdiri. Pendirian Masjid Agung Sidoarjo berawal dari inisiatif bupati pertama Sidoaarjo, Raden  Adipati Pandji Tjondronegoro yang menjabat para periode 1882  hingga 1905. Untuk mengenang jasanya, mendiang Raden  Adipati Pandji Tjondronegoro serta keluarga Tjondronegoro dimakamkan di kompleks makam keluarga di belakang Masjid Agung Sidoarjo. Lihat Foto Masjid Agung Sidoarjo(Dok. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo) 


3. Sumur tua tidak pernah kering  

Salah satu daya tarik Masjid Agung Sidoarjo adalah keberadaan sumur tua yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Sumur tersebut terletak di lantai satu tempat sholat jamaah laki-laki. Ukuran sumur kecil, diameternya hanya seukuran dua telapak tangan orang dewasa. Konon, sumur tua tersebut dibuat berbarengan dengan pembangunan Masjid Agung Sidoarjo pada masa kolonial Belanda. Kini, bentuk sumur sudah berubah dari bentuk aslinya, namun tidak menghilangkan kemurnian air sumur. Bahkan, air sumur ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau. 


4. Masjid terbesar di Kabupaten Sidoarjo  

Seperti disampaikan sebelumnya, Masjid Agung Sidoarjo merupakan masjid terbesar di Kabupaten Sidoarjo. Dengan luas luas 2.115 meter persegi, masjid ini mampu menampung hingga 4.000 jamaah Masjid Agung Sidoarjo terdiri dari tiga lantai yang terbuat dari marmer. Pada bangunan masjid, terdapat beberapa pilar besar yang juga terbuat dari marmer. Selain itu, terdapat beberapa pohon besar dan rindang di area depan masjid. 


5. Dekat tempat wisata  

Berada di pusat kota, Masjid Agung Sidoarjo dekat dengan sejumlah tempat wisata. Salah satunya adalah Museum Mpu Tantular yang berjarak sekitar 2,4 kilometer (km) atau 6 menit berkendara dari masjid. Pengunjung bisa menyaksikan aneka benda-benda bersejarah di Museum Mpu Tantular. Masjid Agung Sidoarjo berada di seberang Alun-alun Sidoarjo. Ciri khas Alun-alun Sidoarjo adalah monumen berbentuk logo Kota Sidoarjo yakni udang dan bandeng, yang merupakan komoditas unggalan wilayah ini. Pengunjung Masjid Agung Sidoarjo bisa mengunjungi Alun-alun Sidoarjo yang merupakan tempat bersejarah kebangkitan Kota Sidoarjo.


Sumber :

https://travel.kompas.com/read/2023/04/12/115000227/masjid-agung-sidoarjo-punya-sumur-tua-yang-tidak-pernah-kering?page=all#page2.

Wednesday, March 22, 2023

Kenapa Sidoarjo Dijuluki Kota Delta?

Inilah Alasannya Kenapa Sidoarjo Dijuluki Kota Delta

Kabupaten Sidoarjo berbatasan langsung dengan Surabaya sekaligus penyokong perekonomian Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Wilayah yang sebagian besar wilayahnya dipenuhi tambak dan pabrik ini memiliki julukan Delta. 

Nama Delta juga disematkan pada stadion serbaguna kebanggaan masyarakat Sidoarjo, yaitu Stadion Gelora Delta. 

Lalu, kenapa Sidoarjo mendapat julukan itu?

Mengutip dari Indonesia Tourism, Kabupaten Sidoarjo secara geografis terletak di daerah dataran rendah dan berada di antara dua aliran sungai besar, yaitu Kali Mas dan Kali Porong. Keduanya adalah pecahan Sungai Brantas.

Karena berada di delta antara kedua sungai itulah, maka Sidoarjo dikenal dengan julukan Kota Delta. Meski terbentuk dari sedimentasi, wilayah Sidoarjo cukup luas, mencapai sekitar 71.424,25 hektar (Ha) dengan ketinggian sekitar 0 – 25 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sidoarjo dulunya dikenal sebagai pusat Kerajaan Jenggala. Pada masa Hindia Belanda, kabupaten ini dikenal dengan nama Sidokare, yang terdiri dari dua kata, yakni “sido” yang berarti “jadi” dan “kare” yang berarti “kari”.

Lantaran dialek warga yang sedikit jelek, nama Sidokare berubah menjadi Sidoarjo. Daerah ini dulunya dipimpin oleh patih yang bernama R.Ng. Djojohardjo, yang tinggal di sebuah kampung bernama Pucang Anom. Selama kepemimpinannya, sang patih dibantu oleh seseorang wedana, yaitu Bagus Ranuwiryo yang tinggal di kampung Pangabahan.

Berdasarkan keputusan Hindia Belanda, pada tanggal 31 januari 1859, daerah ini dibagi menjadi dua, yakni Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Selain itu, nama daerah Sidokare diubah menjadi Sidoarjo.


Sumber :

https://samudrafakta.com/mengulik-asal-usul-sidoarjo-mendapat-julukan-kota-delta/

Wednesday, March 15, 2023

Nilai Historis Berdirinya NU

Nilai Historis Berdirinya NU, Jadikan Sidoarjo Tuan Rumah Harlah Satu Abad

Minggu, 29 Januari 2023


Dipilihnya Kabupaten Sidoarjo sebagai tuan rumah untuk perhelatan Hari Lahir (Harlah) Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7 Februari 2023 mendatang yang akan dihadiri lebih satu juta peserta, bukan tanpa alasan dan pertimbangan yang besar.

Nilai historis yang melekat, basis terbesar hingga cikal bakal berdirinya NU sebagai salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan dunia itu, ada di Kota Delta.

Ahmad Muhdlor Bupati Sidoarjo yang juga salah satu kader muda NU kepada Suara Surabaya mengatakan, kalau berdasarkan sejarah, organisasi yang khas dengan warna hijau itu tidak bisa lepas dari Sidoarjo. Bahkan, kata dia, para pendiri NU juga pernah mondok di Kota Delta.

“Sebelum NU lahir, di Sidoarjo sudah banyak sekali berdiri pondok-pondok besar, dan itu selalu jadi rujukan 200 tahun yang lalu. Bahkan, pendiri NU juga mondok di sana, termasuk yang kemarin kita jadikan cagar budaya seperti di Pondok Sono dan Al-Hamdaniyah Panji,” terangnya, Minggu (29/1/2023).

Para pendiri NU yang diketahui mondok di Sidoarjo khususnya di Alhamdaniyah, diantaranya KH. M Hasyim Asy’ari, KH. Asy’Ad Samsul Arifin, KH. Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH. Alwi Abdul Aziz, KH. Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten), dan masih banyak ulama besar lainnya.

Demikian juga KH. Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, salah satu pondok terbesar di Jawa Timur dan Indonesia, hingga KH. Maksum pencetus kitab yang jadi rujukan pondok pesantren seluruh Indonesia, juga merupakan santri cetakan Sidoarjo.

“Secara historis, perkembangan dan ikatan batinnya, NU tidak bisa lepas dari Sidoarjo. Bahkan pascakemerdekaan, ada markas besar ulama di Waru,” ucapnya.

Selain itu, menurut Muhdlor, Sidoarjo juga beberapa kali sukses membuat dan jadi tempat penyelenggaraan istighosah kubro yang dihadiri oleh ratusan ribu umat. Hal tersebut juga menjadi acuan kenapa Harlah Satu Abad NU, kemudian diadakan di Kabupaten Sidoarjo.

“Patut jadi kebanggaan bagi kita, bahwa acara yang ada (Harlah Satu Abad NU) hanya 100 tahun sekali. Belum tentu kita punya umur seratus tahu, bahkan kalaupun punya umur 100 tahun, belum tentu diadakan di Sidoarjo lagi,” ujarnya.

Untuk itulah, kata Gus Muhdlor mengajak seluruh warga Sidoarjo bersikap selayaknya panitia mensukseskan kegiatan tersebut. “Ini akan menjadi tolak ukur kita yang tidak hanya di kancah nasional namun juga kanca internasional karena hadir juga 300 tokoh muslim dunia,”sampainya.

Dia bahkan juga menceritakan antusias yang datang dari masyarakat di beberapa desa untuk mendukung kegiatan tersebut. Seperti, beberapa desa yang dengan sukarela menawarkan untuk menyediakan dua sampai 10 nasi bungkus bagi para peserta dari berbagai daerah itu.

“Ini sangat menyentuh hati kami dan ini yang kami harapkan, politik partisipatif, gotong royong bersama-sama untuk menjadi tuan rumah yang baik. Dan ini tanpa intervensi dari pemerintah,”ungkapnya.


Persiapan Kabupaten Sidoarjo Sebagai Tuan Rumah

Kabupaten Sidoarjo tentunya telah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut “Harlah Satu Abad NU” 7 Februari 2023 mendatang.

Mulai fasilitas penunjang kegiatan seperti tempat ibadah, 110 pos kesehatan, logistik, dan informasi, hingga tempat istirahat untuk tamu undangan telah disiapkan matang-matang, untuk menyambut Harlah yang diperkirakan dihadiri lebih dari satu juta orang itu.

“Kita sudah menyiapkan suporting, agar kegiatan bisa berjalan lancar. Ada informasi kalau beberapa sekolah (NU) itu sudah penuh untuk tempat istirahat tamu, akhirnya kita sediakan kantor-kantor dinas sebisa mungkin untuk jadi tempat istirahat. Karena hotel kurang dari satu bulan juga sudah penuh semua,” ucapnya Gus Muhdlor.

Bupati Sidoarjo itu mengatakan kalau ada lebih dari 140 masjid di lingkungan Kota Delta yang siap dan bisa digunakan para peserta yang hadir. Mengingat, titik pusat acara yang berlokasi di Gelora Delta Sidoarjo hanya bisa diisi sekitar 40 ribu orang saja.

Gus Muhdlor juga menyampaikan bahwa pedagang disekitar GOR akan tetap dipersilakan berjualan. Mereka dapat berdagang seperti biasanya pada malam hari. Hal ini sudah disosialisasikannya kepada para pedagang. Keberadaan mereka akan membantu para tamu yang hadir untuk dapat menikmati produk-produk Sidoarjo.

“Kita juga telah melakukan sosialisasi kepada teman-teman penggerak ekonomi di sekitar GOR untuk tetap buka walaupun malam,” jelasnya.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/nilai-historis-berdirinya-nu-jadikan-sidoarjo-tuan-rumah-harlah-satu-abad/

Sunday, January 29, 2023

Nama Desa Durungbedug Sidoarjo

Unik! Ini Cerita di Balik Nama Desa Durungbedug Sidoarjo

Satu di antara nama desa unik di Sidoarjo adalah Durungbedug. Desa di Kecamatan Candi yang didominasi sawah dan lahan tebu itu memiliki banyak cerita unik di balik nama tersebutu. Durung berarti sebelum, bedug berarti suara beduk yang menandai masuk waktu salat duhur.

Sudarjo, salah seroang warga Durungbedug, mengungkapkan bahwa dari cerita yang didengar, konon katanya ada seorang petani yang datang ke area tersebut. Tadinya lokasi desa adalah hutan. Petani yang datang bersama istrinya itu lantas berusaha membuka lahan pertanian setelah diusir dari daerah utara.

’’Katanya saat sampai sini, kondisinya itu hutan dan keduanya bikin gubuk,’’ ujarnya. Pelan-pelan pasangan suami istri tersebut membabat pohon dan semak belukar. ’’Dilakukan setiap pagi sampai sebelum beduk karena saat beduk petani itu sudah kecapekan, makanya dinamakan Durungbedug atau sebelum beduk,’’ ujarnya.

Setelah beberapa hari, akhirnya petani berhasil membuat beratus-ratus meter persegi sawah dan ditanami dengan padi serta tebu. Akan tetapi, Sudarjo tidak mengetahui sama sekali siapa nama petani tersebut. ’’Konon katanya dimakamkan di sekitar sini. Setelah dibabat karena tanah sini subur, banyak orang datang dan bikin permukiman,’’ tuturnya.

Namun, dia tidak bisa memastikan apakah cerita tersebut adalah benar atau folklore belaka. ’’Tapi, yang saya dengar begitu,’’ ungkapnya.

Sementara itu, menurut pegiat sejarah Sidoarjo dr Sudi Harjanto, sebenarnya nama Durungbedug ataupun tetangga desanya Durungbanjar sudah ada di peta lama Belanda pada 1892. Waktu itu masih tertulis Durung saja. ’’Kemungkinan sebelum itu sudah ada juga, nama yang baru ada bedug dan banjar ini sekitar 1900-an,’’ ungkapnya.

Menurut dia, ada sebuah punden kuno di makam Islam lama di antara dua desa tersebut. Diketahui, punden itu merupakan makam Raden Bagus. Tapi, mengenai apakah itu leluhur yang membabat alas dirinya belum bisa memastikan.


Sumber :

https://www.jawapos.com/surabaya/23/01/2023/unik-ini-cerita-di-balik-nama-desa-durungbedug-sidoarjo/

Thursday, April 7, 2022

Peninggalan Zaman Kerajaan

Warga Sidoarjo Temukan Benda Diduga Peninggalan Zaman Kerajaan

Kamis, 07 Apr 2022 17:02 WIB

Krisna menunjukkan penemuan situs kuno 

Warga Sidoarjo mengaku menemukan benda yang diduga peninggalan zaman kerajaan. Penemuan itu lantas dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Dia adalah Krisna (38), warga Dusun Tanjungsari, Desa Karangtanjung, Kecamatan Candi Sidoarjo. 

Dia menemukan benda itu pada November 2011. Saat itu, Krisna sedang menggali tanah untuk membuat sumur.

"Saat menggali tanah untuk membuat sumur. Waktu menggali sekitar setengah meter, cangkul saya menyentuh benda keras. Eh ternyata batu bata, ukurannya besar," kata Krisna saat dihubungi detikJatim, Kamis (7/4/2022).

Batu bata tersebut berukuran panjang 42 cm, lebar 25 cm, dan tebal 7 cm. Krisna lantas melaporkannya ke perangkat desa setempat dan meneruskannya kepada BPCB Jatim.

"Batu bata sebesar ini diduga peninggalan zaman kerajaan," terang Krisna.

Saat menemukan benda itu, Krisna bersama warga menggali tanah di sekelilingnya. Hingga susunan batu bata tersebut terlihat.

"Di samping susunan batu bata itu juga ditemukan serpihan tempayan yang terbuat dari keramik dan sebuah guci kecil dari tanah liat," tutur Krisna

Karena masih ingin membuat sumur di sana, Krisna pun bergeser 3 meter ke arah timur untuk menggali tanah lagi. Namun, dirinya kembali menemukan susunan batu bata.

"Tapi posisinya lebih dalam. Sepertinya satu rangkaian dari penemuan pertama," tandas Krisna.


Sumber :

https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6021532/warga-sidoarjo-temukan-benda-diduga-peninggalan-zaman-kerajaan.

Monday, August 23, 2021

Peninggalan Zaman Kerajaan Jenggolo?

Struktur Bata Merah Kuno Gegerkan di Sidoarjo, Diduga dari Zaman Kerajaan Jenggolo

Minggu, 15 Agustus 2021 - 23:32 WIB

Warga memperlihatkan struktur batu bata kuno yang tebal dan panjang di Semambung, Gedangan, Sidoarjo yang diduga peninggalan Kerajaan Jenggolo. Foto/iNews TV/Pramono Putra

SIDOARJO - Warga Desa Semambung, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur digegerkan dengan temuan struktur batu bata merah kuno memanjang mirip candi yang diduga peninggalan Kerajaan Janggolo.

Situs purbakala ini ditemukan di area pesawahan dekat pemukiman warga. Diduga kuat struktur bangunan batu bata merah ini adalah sebuah benteng atau batas bangunan suci sebuah candi zaman Kerajaan Jenggolo, jauh sebelum Kerajaan Majapahit.

Warga juga menemukan dua buah batu lingga serta puluhan artefak yang berbentuk makara yang terbuat dari batu andesit, serta pecahan tembikar.

Penemuan benda perbakala ini berawal saat saat salah satu warganya sedang menggarap sawah. Tanpa sengaja menemukan adanya sebuah struktur bangunan batu bata yang berukuran besar yang memanjang.

Batu bata tersebut lebih besar dan lebih tebal dibandingkan yang ditemukan pada era Kerajaan Majapahit. Diduga, struktur batu bata merah yang besar tidak lazim pada umumnya ini diduga merupakan bentuk benteng atau pembatas dari bangunan suci atau candi di era Kerajaan Jenggolo.

Artefak yang menyerupai makara serta batu andesit berbentuk dorpal dan batu pipisan atau arupadatu juga diamankan warga.

Sejauh ini penggalian warga sudah mencapai panjang 15 meter dengan hanya kedalaman sekitar 15 hingga 20 cm. Sementara tumpukan batu bata yang ditemukan itu memiliki lebar 20 dengan panjang 40 cm dengan ketebalan sekitar 10 cm.

"Saya melihat memang ada di sini memang ada (peninggalan benda purbakala). Dari benda yang sudah ditemukan, saya menduga dari Kerajaan Jenggolo," kata pemerhati cagar budaya, Lukman Hakim.

Sementara terkait temuan ini, warga bersama kepala desa setempat akan segera melaporkan temuan ini ke dinas cagar budaya yang ada di Trowulan, Mojokerto.


Sumber :

https://daerah.sindonews.com/read/511850/704/struktur-bata-merah-kuno-gegerkan-di-sidoarjo-diduga-dari-zaman-kerajaan-jenggolo-1629043705

Sunday, January 31, 2021

Kerajaan Janggala hingga Sidokare

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala.

Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan.

Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo. Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan.

Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya. Pada masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang).

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang. Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu.

Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.

#Reshare grup info masyarakat Krian

Friday, November 13, 2015

KH. Nawawi

Masyarakat Sidoarjo Dan Mojokerto Napak Tilas Perjuangan KH. Nawawi

Gugurnya pejuang syuhada KemerdekaanRepublik Indonesia (RI) KH. Nawawi diperingati oleh ribuan masyarakat Sidoarjo dan Mojokerto dengan melakukan napak tilas, Sabtu (6/11/2015).

KH. Nawawi yang gugur di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono menjadi tempat start napak tilas menuju Pondok Pesantren An-Nawawi Kota Mojokerto.

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Sidoarjo Drs. Ec. Jonathan Judianto M.MT dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo H. Sullamul Hadi Nurmawan, S.Thi secara bergiliran memberangkatkan napak tilas yang dimeriahkan dengan undian 1 unit sepeda motor tersebut.

Sebelum dimulai napak tilas, aksi teatrikal yang mengkisahkan gugurnya pejuang Kemerdekaan RI KH. Nawawi saat melawan penjajah Belanda yang disuguhkan oleh Banser dari Sooko-Mojokerto.

Dalam teatrikal tersebut digambarkan bahwa KH. Nawawi yang kebal dengan peluru itu, akhirnya gugur dengan empat luka tusukan pisau bayonet tentara Belanda tepat dilehernya.

Ditempat itulah akhirnya dibuatkan monumen untuk mengingat perjuangan KH. Nawawi yang gugur pada tanggal 22 Agustus 1946 di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan-Sukodono dalam melawan Belanda.

Ps Bupati Sidoarjo Jonathan Judianto mengatakan bahwa kegiatan napak tilas ini merupakan bukti kalau generasi muda penerus bangsa menghargai jasa-jasa pahlawannya dan berharap napak tilas seperti ini akan menjadi tradisi untuk dilestarikan serta dikembangkan.

“Saya merasa bangga, kita sebagai generasi penerus bangsa akan terus melaksanakan dan terus mendharma baktikan hidup kita sebagaimana leluhur kita yang telah berjasa membangun Indonesia,” katanya.

Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Sullamul Hadi Nurmawan mengungkapkan bahwa napak tilas bukan sekedar berjalan kaki menuju tempat dimakamkannya KH. Nawawi di Mojokerto, namun sebagai bagian untuk mengenang dan merasakan bagaimana perjuangan KH. Nawawi dalam mengusir penjajah.

“Napak tilas bukan hanya sekedar berjalan, tetapi bagaiman kita bisa meniru, bagaimana kita bisa merasakan perjuangan beliau melawan penjajah,” ungkapnya.

Salah satu cicit KH. Nawawi yang juga anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Khulaim Junaedi menceritakan riwayat perjuangan KH. Nawawi yang lahir tahun 1886 di Dusun Les Padangan, Desa Terusan, Kabupaten Mojokerto merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pertama kali di Mojokerto.

Saat remaja KH. Nawawi pernah menjadi santri KH. Hasyim Asyari di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, pernah menjadi santri KH. Qosim, Desa Siwalan Panji-Buduran serta KH. Sholeh-Mojosari dan KH.Kholil, Kademangan-Bangkalan.

“Beliau aktif dalam organisasi keagamaan, beliau pendiri NU di Mojokerto pertama kali pada tahun 1928,” ucapnya.

Dikatakan oleh H. Khulaim bahwa pada saat revolusi fisik, KH. Nawawi mejabat sebagai komandan Laskar Sabilillah yang turun langsung memimpin pergerakaan melawan penjajah, dimana wilayah yang menjadi pergerakannya meliputi Mojokerto, Kedamean-Gresik dan Sepanjang serta Sukodono-Sidoarjo.

KH. Nawawi akhirnya gugur pada tanggal 22 Agustus tahun 1946 setelah dikeroyok pasukan Belanda di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan Kecamatan Sukodono.

Jenazahnya kemudian di tandu oleh pasukan Laskar Sabilillah menuju rumah duka di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Magersari-Mojokerto dan dimakankan dipemakaman umum Desa Losari, Kecamatan Gedek, Kabupaten Mojokerto.

“Pada malam hari inilah kita peringati perjalanan jenazah beliau dari Desa Plumbungan menuju kekediamannya di Mojokerto bpada tahun 1946 lalu,” pungkasnya. (imams)


Sumber :
http://www.beritasidoarjo.com/?p=7976

Wednesday, June 10, 2015

Ulang Tahun Sidoarjo


Tahun 2015 merupakan hari jadi Kabupaten Sidoarjo yang ke 156 tahun. untuk memperingatinya diadakan pawai budaya Sidoarjo yang digelar jalan raya A. Yani atau sebelah timur alun-alun Sidoarjo.

Pawai budaya yang bertemakan Sidoarjo Exotic Carnival 2015 itu dimulai dari perempatan jalan raya A. Yani melewati jalan MH Thamrim, jalan Pahlawan dan finish di Gor Delta Sidoarjo. Acara yang dimeriahkan dengan puluhan kendaraan hias dan diawali dengan tarian Banjar Kemuning dari sanggar tari Sidoarjo itu, disambut antusias oleh ribuan warga Kabupaten Sidoarjo yang memenuhi sepajang jalan yang dilalui arak-arakan.

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan.

Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.

Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo.

Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.

Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini.

Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan.

Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang. Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu.

Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.


Sumber :
http://www.beritasidoarjo.com/?p=6506
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sidoarjo

Sunday, July 6, 2014

Delta Putra Sidoarjo (Deltras)


Deltras bukan merupakan klub asli Sidoarjo. Klub ini merupakan bikinan pengusaha HM Mislan yang dulunya bernama Gelora Dewata dan bermarkas di Bali. Pada tahun 1989 saat didirikan bernama Gelora Dewata '89 dengan home base Bali. Gelora Dewata didirikan oleh pengusaha HM. Mislan. 

Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo pada musim kompetisi 2001 setelah menjalani beberapa pertandingan awal Divisi Utama LI 2001, dengan menggunakan nama Gelora Putra Delta.

Gelora Delta Putra akhirnya berganti nama menjadi Delta Putra Sidoarjo atau Deltras beberapa waktu kemudian (masih tahun 2001 juga). Delta Raya Sidoarjo (biasa disingkat: Deltras) merupakan sebuah klub sepak bola profesional yang bermarkas di kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. 

Klub yang memiliki julukan sebagai The Lobster ini akhirnya menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras). Status kepemilikan juga berubah, dari HM Mislan kepada Pemkab Sidoarjo di tahun 2003.

Pada 2011, Pemkab mengganti nama klub menjadi Delta Raya Sidoarjo.


Data Klub
Berdiri: 1989
Julukan: The Lobster
Alamat: Jln. Mojopahit no.5 Sidoarjo
Stadion: Gelora Delta, Sidoarjo
Kapasitas: 35.000 penonton
Suporter: Deltamania


Sumber :
http://www.deltras-fc.com
https://www.facebook.com/deltamaniasidoarjo
http://id.wikipedia.org

Sunday, April 13, 2014

Sejarah Sidoarjo


Pada tahun 1019 – 1042 Kerajaan Jawa Timur diperintah oleh seorang Putera dari hasil perkawinan antara Puteri Mahandradata dengan Udayana (seorang Pangeran Bali) yang bernama Airlangga, pada waktu pemerintahan Airlangga, keadaan negara tentram, keamanan terjamin, dan negara mengalami kemajuan yang pesat. 

Karena raja Airlangga mempunyai 2 orang putera, maka pada akhir masa pemerintahannya ia memandang perlu membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk diserahkan kepada kedua putranya, agar dikemudian hari tidak terjadi perebutan tahta. Pembagian itu terjadi pada tahun 1042, yaitu menjadi kerajaan Daha (Kediri) dan Kerajaan Jenggala. 

Kerajaan Jenggala yang berdiri pada tahun 1024 terletak di daerah delta Brantas, yaitu meliputi pesisir utara seluruhnya, dengan demikian menguasai bandar-bandar dan muara sungai besar, sedangkan ibukotanya berada di sekitar Kecamatan Gedangan sekarang. Lain halnya dengan Kerajaan Kediri, tidak memiliki bandar sebuahpun sehingga walaupun hasil pertanian di Kediri sangat besar dan upeti mengalir dengan sangat besar, semuanya semua itu tidak dapat diperdagangkan karena kerajaan kediri tertutup dari laut sebagai jalan perdagangan pada waktu itu. 

Maka timbullah perebutan bandar antara kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggala, yang kemudian menimbulkan peperangan besar antara kedua kerajaan tersebut, dimana keduanya menuntut kekuasaan atas kerajaan Airlangga.Perang tersebut berakhir dengan kekalahan kerajaan Jenggala, pada tahun 1045(menurut sumber lain Kerajaan Jenggala pada tahun 1060 masih ada)

Semula, tepatnya pada tahun 1851 daerah Sidoarjo bernama Sidokare, bagian dari kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibatu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. 

Pada tahun 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda no. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.Dengan demikian Kabupaten Sidokare tidak lagi menjadi daerah bagian dari Kabupaten Surabaya dan sejak itu mulai diangkat seorang Bupati utuk memimpin Kabupaten Sidokare yaitu R. Notopuro (R.T.P Tjokronegoro) berasal dari Kasepuhan, putera R.A.P Tjokronegoro Bupati Surabaya, dan bertempat tinggal di kampung Pandean (sebelah selatan Pasar Lama sekarang), beliau medirikan masjid di Pekauman (Masjid Abror sekarang),sedang alun-alunya pada waktu itu adalah Pasar Lama.

Dalam tahun 1859 itu juga, dengan berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 10/1859 tanggal 28 Mei 1859 Staatsblad. 1859 nama Kabupaten Sidokare diganti dengan Kabupaten Sidoarjo. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa secara resmi terbentuknya Daerah Kabupaten Sidoarjo adalah tangal 28 Mei 1859 dan sebagai Bupati I adalah R.Notopuro (R.T.P Tjokronegoro) Semula rumah Kabupaten di daerah kampung Pandean, kemudian karena suatu hal maka Bupati Tjokronegoro I dipindahkan ke Kampung Pucang (Wates). 

Disini beliau membangun masjid Jamik yang sekarang ini (Masjid Agung), tetapi masih dalam bentuk yang sangat sederhana, sedang di sebelah Baratnya dijadikan Pesarean Pendem (Asri). Pada tahun 1862, beliau wafat setelah menderita sakit, dan dimakamkan di Pesarean Pendem (Asri). Sebagai gantinya pada tahun 1863 diangkat kakak alnarhum sebagai Bupati Sidoarjo, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II (Kanjeng Djimat Djokomono), pindahan dari Lamongan. 

Pada masa pemerintahan Bupati Tjokronegoro II ini pembangunan – pembangunan mendapat perhatian sangat besar antara lain, meneruskan pembangunan Masjid Jamik yang masih sangat sederhana, perbaikan terhadap Pesarean Pendem, disamping itu dibangun pula Kampung Magersari sebelah Barat Kabupaten, yang kemudian ditempatkan disitu orang-orang Madura. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, yang tak lama kemudian pada tahun sama beliau wafat, dimakamkan di Pesarean Botoputih Surabaya. Sebagai gantinya diangkat R.P Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya berjalan 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga dan dimakamkan di Pesarean Pendem. 


Sunday, November 10, 2013

Kerajaan Jenggolo di Sidoarjo

SIDOARJO ADALAH PUSAT KERAJAAN JENGGOLO 

Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.
Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan. Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. SedangkanDhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.
Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana di salah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.
Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.
A.KETURUNAN DARI BALI KE KAHURIPAN
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan. Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja MedangKamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu
Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi. Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.
Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakankerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa. Peristiwa tragis yang kemudian disebut
Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menteri- menterinya.
Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri. Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.
Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramo-tunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah- daerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.
Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.
Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan hasil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.
B.KERAJAAN KAHURIPAN ( AIRLANGGA ) TERBELAH
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamgditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa. 
Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.
Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan
untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.
Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan
jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.
Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri JayaWarsa.Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktubumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.
Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmu Tantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito
(penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.
Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan. Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang
dibawanya terbang ke langit. Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di tar uh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam,
marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.
Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan. Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis: Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi ; dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti di belahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegakdan berjaya dalam memimpin Negara.

CANDI BELAHAN
Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Duakerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta).
Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.
Di Daerah Gunung Penanggungan inilah Airlangga dikenal se bagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia memakai nama Bega wan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebua ungkap an yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menye lamatkan Sintha dalam cerita epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049 M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.
C.JENGGALA = UJUNG GALUH DI SIDOARJO
Dibandingkan Dhaha, faktor ekonomi Kerajaan Jenggala tumbuh sangat pesat. Jenggala menguasai sungai-sungai bermuara termasuk Bandar dagang di Sungai Porong memberikan income yang besar bagi kerajaan. Selain itu juga membuat Jenggala lebih di kenal oleh manca Negara karena Bandar dagang peninggalan Airlangga ini (berdasarkan catatan kerajaan China) adalah Bandar dagang kedua terbesar danramai setelah Sriwijaya. Tetapi Bandar dagang ini juga menjadi bibit perselisihan dengan Dhaha yang hanya menguasai sungai tanpa muara. Sebab bagi Dhaha sangat tergantung dengan hasil Agrokultur ini tidak mempunyai pasar yang cukup memadai bagi hasil buminya, karena pasar besar adalah Jenggala.
Kata Jenggala di percaya berasal dari ucapan salah untuk Ujung Galuh. Walaupun saat ini Ujung Galuh lebih menunjukkan suatu tempat di Surabaya atau Tuban. Tetapi untuk hubungan kalimat Jenggala dengan Ujung Galuh bisa dilihat dari catatan Pedagang China yang menuliskan Jenggala dengan Jung-ga-luh. Misalnya pedagang Chou ku fei yang datang pada tahun 982 Saka (1060 M) menuliskan: Negara asing yang merupakan lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).
Raja-raja Jenggala di antaranya Lembu Amiluhung (Sri Jayantaka). Sri Jayantaka adalah putra Airlangga dari selir. Ia mulaimemerintah di Jenggala mulai tahun 1042 M. Pada masa pemerintahannya, Jenggala mengalami jaman keemasan sekaligus jaman kecemasan. Dikatakan jaman keemasan karena pada masa itu Jenggala mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari hasil Bandar Dagang Porong. Sementara dilain pihak Jenggala juga di cemaskan oleh ancaman serangan oleh Dhaha bila Bandar dagang itu tidak diserahkan ke Dhaha. Kecemasan itu cukup beralasan mengingat kekuatan militer Dhaha lebih kuat dari pada Jenggala.
Raja lainnya adalah Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 - 1052). Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah oleh Kameswara 1 (Inu Kertapati). Karena serangan itu pusat kerajaan Jenggala di tarik lebih ke Utara, diperkirakan sekarang berada di daerah Lamongan.
Bukti perpindahan pusat kerajaan itu dapat dilihat pada Prasasti Kembang Putih, Malengga yang ditemukan di daerah Tuban. Pada periode selanjutnya kerajaan Jenggala beribukota di Lamongan.
Tibalah Mapanji Alanjung Ahyes berkuasa (1052 - 1059). Jenggala di bawah Mapanji Alanjung Ahyes tetap berpusat di Lamongan. Pada masa pemerintahan nya sering di lancarakan serangan secara sporadis kepada pendudukan Dhaha.
Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelum kerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Pusat kerajaan tetap di daerah Lamongan. Setalah tahun 1059 keberadaan Jenggala seperti hilang di telan bumi. Batas kerajaan Jenggala adalah sesuai dengan batas Kerajaan Kahuripan sebelah utara. Dalam hal ini batas daerah kekuasaan Jenggala meliputi Timur (Bali), Tenggara (Pasuruan), Barat daya (Kudus).
Sebagai sebuah catatan : istilah Jenggala pada awalnya adalah untuk menunjukkan sebuah tempat, Ujung Galuh, dan baru dipakai menjadi nama kerajaan setelah peristiwa pembelahan Kahuripan.
Untuk menentukan di mana letak kutaraja (kraton) Jenggala, tulisan ini menggunakan masa pemerintahan Sri jayantaka sebagai rujukan, yang mana kraton Jenggala ditempatkan di wilayah Sidoarjo.Adapun pertimbangannya adalah karena pada masa Sri Jayantaka yang Cuma tiga tahun itu, kerajaan Jenggala masih merupakan sebuah struktur pemerintahan yang otonom dan aktif. Artinya Jenggala pada waktu itu masih punya wilayah, pusat pemerintahan, pusat militer, fasilitas umum dan masih memegangkendali perkembangan Bandar dagang di sungai Porong.
Sedangkan untuk masa setelah Sri Jayantaka, Jenggala lebih berbentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk juga pada pemerintahan Mapanji Garasakan dan Alanjung ayes yang masih memimpin perlawanan terhadap Kediri secara sporadis.
Selain merujuk pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, fakta lain yang menunjukkan hubungan Sidoarjo dengan Jenggala adalah;
1. Pertama, sebuah tulisan dari Kitab Negarakertagama yang menceritakan perjalanan dinas HayamWuruk untuk meninjau tiga daerah yang berdekatan yaitu Jenggala, Surabaya dan Bawean. Adapun kalimat dalam kitab tersebut adalah: Yen ring Jenggala ki sabha nrpati ring Curabhaya melulus mare Buwun (Jika raja berada di Jenggala, beliau pasti mengunjungi Surabaya sebelum ke Bawean).
2. Kedua, pada masa pemerintahan Mataram, wilayah Sidoarjo masih di sebut Jenggala. contohnya kawedanan di Sidoarjo diistilahkan Jenggala 1, Jenggala 2 dan seterusnya.
3. Banyaknya cerita rakyat yang berkembang dan peninggalan-peninggalan, misalnya : Makam Mbok Rondo Dadapan di Desa dadapan –Ande-Ande lumut, Tawang alun, Candi Kecana, Candi Sari serta bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai Pepe , Gunung Kalang Anyar dan Gunung Pulungan ( sekarang telah jadi perkampungan ) , adanya makam perkampungan lama di Tawang Alun, ditemukan adanya Arca serta ratusan bangunan lain yang banyak tersebar di wilayah Sidoarjo dan penanggungan.
Dengan beberapa fakta di atas bisa dikatakan bahwa kraton Jenggala pada mulanya ada wilayah Sidoarjo. Pertanyaan selanjutnya adalah di wilayah Sidoarjo sebelah manakah kraton Jenggala berdiri ? Ada beberapa pendapat yang berlainan mengenai keberadaan kraton Jenggala. tulisan ini hanya menghimpun pendapat-pendapat itu.
Menurut buku sejarah Sidoarjo yang di himpun PAPENSE (Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, tahun 1970), letak kraton dari Jenggala berada di sekitar sungai Pepe. Hal ini dibuktikan dengan penemuan beberapa arca di lokasi itu. Pada saat ini lokasi yang diyakini kraton Jenggala itu berada di wilayahKecamatan Gedangan.
Lain halnya dengan Totok Widiardi yang menyatakan bahwa kraton Jenggala berada di sekitar alun-alun. Tepatnya berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo. Pendapat ini mendasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Bathara Ismaya (Semar) yang masih berada di sana hingga tahun 1975.
Sampai saat ini kepastian di mana persis nya posisi kraton Jenggala masih misterius. Karena selain tidak adanya penelitian untuk itu juga belum ditemukannya situs purbakala yang menunjukkan bekas Kraton Jenggala. Di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan Jenggala.
D.PERTAHANAN JENGGALA
Sebenarnya kurang tepat bila disebut pusat militer, karena sebenarnya konsentrasi militer Jenggala (yang bisa terlacak saat ini) lebih bertujuan mengamankan Kutaraja (kraton) Jenggala.
Adapun pusat militer Jenggala dibagi dalam beberapa sektor-sektor sebagai berikut: sektor utara; kondisi geografis muara sungai Brantas memecah menjadi 9 sungai, yaitu : Krembangan, Mas, Pegirian, Greges, Anak, Bokor, Pecekan, Anda dan Palaca. Kesembilan sungai itu membentuk rawa dan delta-delta.
1. Batas paling Selatan dari muara Brantas ada di Wonokrmo, begitu juga garis pantai selat Madura.
2. Di sebelah Utara, militer Jenggala terpusat di daerah Wonokromo, Surabaya. Mengingat garis pantai pada saat itu adalah Wonokromo. Tujuan penempatan militer di posisi ini adalah untuk menghadang musuh dari utara. Selain itu juga berfungsi untuk mengawasi orang-orang hukuman (straafkoloni) yang di Surabaya. Perlu diketahui bila Surabaya mulai jaman Mataram Hindu (abad 9) sudah menjadi semacam “Nusa Kambangan” bagi para orang buangan. Komunitas perantaian yang di buang di situ terdiri dari narapidana, orang gila, cacat mental, cacat jasmani, tawanan perang dan perampok.
3. Di sektor tengah pusat militer Janggala diperkirakan berada di daerah Larangan (sekarang wilayah Kecamatan Candi). Peristiwa yang mendukung perkiraan itu adalah penemuan beberapa benda purbakala pada saat penggalian pondasi untuk Pasar Larangan yang terjadi di tahun 1980-an. Benda-benda purbakala itu berbentuk Binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang. Dari penemuan benda-benda keprajuritan itu beberapa orang sejarahwan menyimpulkan bahwa daerah Larangan dulunya merupakan komplek militer Jenggala. Walau pun hal itu harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih lanjut, tetapi setidaknya akan membantu merekonstruksi komplek kraton Jenggala.
4. Di sebelah Selatan Jenggala menempatkan Miiternya di daerah Gempol. Tentu saja hal ini di maksudkan untuk melindungi asset ekonomi kerajaan Jenggala yaitu Bandar dagang Porong. Karena bagaimana pun juga bandar dagang ini merupakan keuntungan geografis yang menyumbang income terbesar bagi dana kerajaan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan Kutaraja dari serangan musuh yang datang dari selatan, terutama Kediri yang terang- terangan menuntut hak kepemilikan bandar dagang di Porong.
Beberapa pusat aktifitas Jenggala lainnya di antaranya diperkirakan dari proses persamaan kata (lingua franca). Dari proses persamaan kata ini, kita akan mendapati beberapa fakta bahwa pusat IPTEK Kerajaan Jenggala diperkirakan di kawasan kecamatan Taman. Tempat rekreasi bagi bagi putra-putri kerajaan diperkirakan di daerah Tropodo. Sementara itu Perpustakaan Kerajaan Jenggala (dalam sebuah riwayat di sebut Gedung Simpen) berada di Desa Entalsewu, Kecamatan Buduran. Sebuah sumber menyatakan lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL. Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebutRONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak. Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yangbanyak di sebuah tempat.
Masih berdasar lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala diperkirakan berada di kawasan Buduran. Sebuah sumber mengkaitkan ini dengan kata Budur yang dalam Sansekerta berarti Biara. Kata Budur yang berarti biara ini bisa kita lihat dari kata Borobudur yang berarti biara yang tinggi (Boro: tinggi, Budur: Biara). Bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara. Dengan kata lain Kecamatan Buduran dimasa Jenggala adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.
E. SUNGAI PORONG DAN GUNUNG PENANGGUNGAN PUSAT POLITIK –BANDAR PERDAGANGAN
Pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, bandar dagang di Porong sedang dalam puncaknya. Konon bandar dagang ini dikatakan terbesar kedua setelah Sriwijaya. Banyaknya orang-orang asing yang berdagang semakin menunjukkan bandar dagang ini diperhitungkan di dunia internasional. Boleh jadi lahirnya bandar dagang ini merupakan babak baru bagi perjalanan sejarah Jawa.
Pada awalnya, kerajaan di Jawa bersifat agraris dan berada di lereng-lereng gunung. Segala aktifitas pemerintahan banyak dilakukan di sana. Tingkat interaksi dengan dunia luar tidak secepat Sriwijaya. Dengan keberadaan bandar dagang ini secara tidak langsung memindahkan kerajaan gunung ke kerajaan Pantai. Merubah budaya agraris dengan budaya merkantilis (perdagangan).
Ada dua orang dari negeri Cina yang sempat mencatat keberadaan Bandar dagang Porong.
1. Menurut Chou Yu Kua, menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yang besar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. Kantor-kantor dagang itu mengurusi palawija, emas, gading, perak dan kerajinan tangan yang selalu disenangi dan dikagumi orang Ta-shi (Arab). Pusat perdagangan berada di tempat yang bernama Yeo-thong (Jedong, sekarang wilayah Ngoro). Dibelakangnya ada gunung dengan sembilan puncak yang selalu diselimuti kabut tebal. Gunung yang bernama Pau-lian-an (Penanggungan) itu menjadi pedoman navigasi kapal yang akan masuk pelabuhan Porong.
2. Chou Ku Fei, seorang Pedagang, menuliskan kondisi subur tanah Jung-galuh (Jenggala) yang banyak dikelilingi sungai- sungai besar yang tembus dampai di gunung Pau-lain-an (Penanggungan). Sedangkan Bandar dagang di Porong banyak didatangi oleh para pedagang dari Cina, Arika, Thailand, Ta-shi (Arab) yang mengimpor beras, kayu Cendana, Kayu Gaharu dan bunga-bunga kering seperti Kenanga dan Melati.
Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.
Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.
Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – "hydrogeologie der Brantas vlakte", Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.
Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais - Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang "Prasasti Kelagyan" zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana "Banyu Pindah" dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.
Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaanErlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.
F.SURUTNYA KERAJAAN JENGGALA”
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Bandar dagang Porong merupakan sumber perselisihan yang mengarah pada pertumpahan darah. Sri Jayawarsa yang memerintah Kediri (Dhaha) menuntut kepada kerajaan Jenggala agar Bandar dagang di Porong diserahkan pada Dhaha. Tuntutan ini di tolak oleh Raja Jenggala yang mendasarkan pada hasil pembelahan Kahuripan di Jaman Airlangga. Atas jawaban ini raja Dhaha mengancam akan merebut Bandar dagang Porong dan menyerbu Jenggala dengan kekuatan militer. Patut diketahui dalam bidang militer Dhaha lebih unggul dari pada Jenggala. Karenanya dapat dipastikan bila terjadi perang maka Jenggala akan berada di pihak yang kalah.
Untuk menghindari terjadinya peperangan saudara ini, dan juga untuk agar Bandar dagang Porong dikuasai dua kerajaan, maka diusulkan untuk menggelar perkawinan antar dua putra mahkota. Dua orang itu adalah Inu Kertapati anak raja Jenggala, dan Dewi Sekartaji putri. Perkawinan ini diharapkan bisa mereda ketegangan antara Jenggala dan Dhaha.
Tetapi konsensus yang digagas itu kenyataannya tidak berjalan mulus. Walaupun Dewi Sekartaji sangat mencintai Inu Kertapati, tetapi Inu kertapati ternyata tidak mencintai sepupunya itu. Ia lebih memilih Dewi Anggaraini anak patih Jenggala. akibatnya ketegangan memuncak lagi. Kerajaan Dhaha kembali mengancam akan membumi hanguskan Jenggala bila perkawinan politik itu gagal. Oleh Kecemasan akan serbuan Dhaha itu, raja Jenggala membuat kebijakan dengan membunuh Dewi Anggraini. Sehingga diharapkan perkawinan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji bisa berjalan Lancar.
Namun permasalahan tidak berhenti disini. Sedih karena kematian kekasihnya, Inu Kertapati diam-diam meninggalkan istana Jenggala. Ia pergi berkelana. Sedangkan Dewi Sekartaji yang merasa malu karena Inu Kertapati lebih mencintai Orang lain juga melakukan hal yang serupa. Sekartaji (atau juga disebut Galih Candra Kirana) meninggalkan Dhaha.
Dari perjalanan ini pula timbul banyak legenda Jawa yang terkenal sampai sekarang, Ande-ande lumut , entet dan mbok Rondo Dadapan. Dimana dalam cerita itu Inu Kertapati di simbolkan sebagai Ande-ande Lumut, Entit yaitu seorang jejaka anak pungut Mbok Rondo Dadapan yang membuat hati para gadis takluk. Sedangkan Dewi Sekartaji disimbolkan sebagai Klenting Kuning, seorang anak pungut yang disia-siakan saudara dan ibu tirinya, tetapi pada akhirnya ia yang dipilih Ande-ande lumut menjadi istri. Dan disamping itu “ Cah Ayu” yang menggoda “ Si entit ” adalah Dewi Sekartaji yang juga menyamar sebagai wanita desa. Perjalanan kedua putra mahkota ini juga di tulis oleh Mpu Dharmaja, seorang pujangga Dhaha, dalam kekawin Asmaradahana pada pemerintahan Kameswara 1.
Kemudian mereka melaksanakan pernikahan di Dhaha dan Inu Kertapati Marak dinobatkan menjadi Raja Dhaha dengan gelar Kamesywara 1 (1115-1130), bergelar Sri maharaja rake sirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Chandrakapala, dan adanya mpu Dharmaja yang telahmenggubah kitab Asmaradahana (berisi pujian yang mengatakan raja adalah titisan dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat cantik bernama Dewi Candhra Kirana). Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalam cerita Panji. Dengan dinobatkannya Inu Kertapati sebagai Raja Dhaha maka kerajaan Jenggala dan Dhaha disatukan. Peristiwaini terjadi pada tahun 1045 M. Terhitung dari tahun ini Jenggala sebagai kerajaan Besar pelan-pelan menutup buku sejarah.
Dengan diangkatnya Inu Kertapati menjadi raja di Dhaha, maka secara tidak langsung wilayah Kahuripan yang sebelumnya terpecah dapat disatukan lagi. Hanya saja wilayah itu tidak dibawah bendera Jenggala tetapi bendera Kerajaan Dhaha. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Kerajaan Jenggalamulai surut. Raja-raja Jenggala setalah Sri Jayantaka menarik Kerajaan lebih ke jauh di Utara.
Sejarah masih bisa melacak keberadaan Jenggala hingga tahun 1059, peristiwa ini bisa dilihat dari prasasti Kembang Putih di Lamongan. Prasasti ini menulisakn bahwa kraton Jenggala berada di sebelah utara sungai Lanang. Kraton ini berada di sana sampai dengan pemerintahan raja Jenggala terakhir Sri Samarattongga. setelah itu Jenggala hilang dari panggung sejarah.
Sampai saat ini masih belum didapat sebuah sumber yang menjelaskan secara tepat perginya orang Jenggala setelah 1059. Apakah mereka dari raja hingga rakyatnya habis ditumpas bala tentara Dhaha ataukah orang-orang Jenggala itu hijrah ke tempat lain?
G.MITOLOGI CANDI PARI
Salah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M ). Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. Sementara bangunan induknya terletak di sisi timur area.Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang.
1. Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persing gahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.
2. Sedangkan di versi kedua, Candi Pari menjadi simbol pembangkang an rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba. Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur. Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu. Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.
Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan. Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggap pembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa. Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahitbergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelah selatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernah ditemukan. Untuk mengenang suami istri yang berjasa pada daerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukan Padi dan Candi Sumur di daerah itu.
Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkan versi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagi perlawanan terhadap penguasa. Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN
1. Arsip Nasional Suriname, Achtergrondinformatie, 2006
2. Berg, C.C. Penulisan Sejarah Jawa, BHARATA 1976
3. Breg, C.C. Javaansche Geschiedschrijving, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
4. Dinas Purbakala Jawa Timur. Tafsir Kitab Negarakertagama, 1985.
5. De Graf, H. J, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pustaka Grafiti Pers dan KITLF, 1986.
6. De Graf, H. J, Runtuhnya Istana Mataram, Pustaka Utama Grafiti dan KITLF, 1986.
7. Houben, Vincebt, J.H. Kraton and Kumpeni, KITLV press 1994.
8. Iswanto, Syaiful Ary. wawancara dengan Totok Widiardi, Juli 2005.
9. Iswanto, Syaiful Ary. Irisan Airlangga yang diiris Belanda, Januari 2005.
10. Hariyono. Kultur Cina dan Jawa, Pustaka Sinar Harapan 1993.
11. Kartodirjo, Sartono. Ratu adil, Sinar Harapan Jakarta, 1984.
12. Surat Keputusan Gubernur Jendral Stbl. No: 138 13 Juli 1889 Koeli Ordonantie & revisi surat keputusan lain tertanggal 11 Maret 1898, Stbl. No: 78
13. Moll, J.P.A.C. val. De Onlusten in Sidhoardjo (Mei 1904), Archief Java suker industri, 1905.
14. Nortier, J.J. De Japanese aanval op Java Maart 1942, De Bataafse Leeuw, 1994.
15. Panitia Penggalian Sejarah, Sejarah Sidoarjo, 1970
16. Radar Surabaya. Legenda Candi Pari Sarat dengan Nuansa Politik, 25 Juni 2003.
17. Staatsarchief Suriname, Archief Immigratiedepartement Gepubliceerd in Hoefte, 1998
18. Sidoarjo pos, Persembahan untuk Ratu, Minggu ke 2 April 2005.
19. Stapel, Dr. F.W. Geschiedenis van Nederlands Indie, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
20. Toer, Pramoedya ananta. Arok Dedes , Hasta Mitra Jakarta, 2000.
21. Widodo, Imam Dukut. Surabaya Tempo Doeloe, 2002
22. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, Republiek Suriname, 2005
23. Yuanzi, Prof Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Yayasan Obor Indonesia, 2000
Di bawah ini adalah catatan2 sejarah yang berhubungan, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) "Geografi Kesejarahan", lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) "Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik", Slamet Muljana (1968, 2005) "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara", Slamet Muljana (1965, 2005) "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)", Denys Lombard (1990) "Le Carrefour Javanais", James Nash (1932), "Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres", H.J. de Graaf (1949) "de Geschiedenis van Indonesie", J. Brandes (1896) "Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit", buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur ("Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja" dan "Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) "The Geology of Indonesia", dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) " Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, cerita rakyat dan lain2

Related Posts