Sunday, January 31, 2021

Kerajaan Janggala hingga Sidokare

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala.

Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan.

Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo. Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan.

Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya. Pada masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang).

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang. Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu.

Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.

#Reshare grup info masyarakat Krian

Monday, January 18, 2021

Rencana Betonisasi Jalan Rusak di Raya Sedati, Desa Wedi

PJ Bupati Sidoarjo: Jalan Rusak di Raya Sedati, Desa Wedi Perlu Betonisasi

Senin, 18 Januari 2021

Hudiyono PJ Bupati Sidoarjo meninjau lokasi jalan berlubang di Raya Sedati Kilometer 2, Desa Wedi, Gedangan, Senin (18/1/2021). Foto: Denza suarasurabaya.net


Hudiyono melihat banyaknya jalan lubang di lokasi itu. Mobil harus berjalan pelan saat melintas. Sementara roda dua melewati jalan kecil di seberang sungai.

Dia sempat berbincang dengan warga setempat yang membantu mengatur lalu lintas pengendara. Pria itu menunjukkan kedalaman lubang kepada Hudiyono.

“Segini, Pak,” kata pria itu di hadapan Hudiyono dengan membenamkan kakinya ke lubang. Air di lubang itu hampir setinggi lutut pria tersebut.

Sekadar mengingatkan, di lokasi ini, pada 11 Januari kemarin, sebuah truk terguling dan masuk sungai karena menghindari lubang.

Tidak jarang, mobil kecil terjebak lubang yang tidak terlihat saat jalan tergenang, setelah hujan deras sehingga perlu mendapat bantuan.

“Iya, kalau (dibilang) rusak, sudah rusak parah ini. Saya lihat tidak ada drainase di kiri kanannya. Kami akan bikin drainase, dikeluarkan dulu airnya lalu kami lakukan pengaspalan,” ujarnya.

Pengaspalan, menurut Hudiyono, adalah langkah sementara. Dia perkirakan pengaspalan itu akan mampu bertahan setidaknya selama setahun.

Untuk jangka panjang, dia tegaskan, Jalan Raya Sedati 2, Desa Wedi, Gedangan itu perlu dilakukan betonisasi. “Karena ini jantung utama industri,” ujarnya.

Hudiyono juga akan meminta pemilik industri di sekitar lokasi jalan rusak ini untuk turut serta membantu penanganan jalan, terutama bila terjadi genangan.

“Ya, setidaknya turut mengeluarkan air dari jalan ini. Ya, entah dengan memompa atau apa. Sementara itu yang akan kami lakukan,” ujarnya kepada suarasurabaya.net.

Hudiyono mengeklaim, Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo, sudah mengerjakan perbaikan jalan di sejumlah lokasi merespons keluhan masyarakat.

Di Jalan Brigjen Katamso, Waru misalnya. Tepatnya di depan PT Hanil Jaya Steel. Jalan yang tadinya berlubang memang sudah diaspal hari ini.

“Sore ini tadi sudah dikerjakan di sebelah timur. Ini nanti di sebelah barat, yang lebih parah, akan kami perbaiki. Besok, besok. Besok akan kami kerjakan,” ujarnya.

Sementara berkaitan betonisasi, Hudiyono menargetkan, khususnya di Jalan Raya Sedati 2, Desa Wedi, Gedangan, bisa tuntas pada tahun ini.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2021/pj-bupati-sidoarjo-jalan-rusak-di-raya-sedati-desa-wedi-perlu-betonisasi/

Friday, January 15, 2021

Pulau Sarinah

Pulau Sarinah, Pulau yang Tebentuk dari Lumpur Sidoarjo

13 APRIL 2016

Bagi warga Desa Tlocor, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur, nama Pulau Sarinah tidak asing lagi. Karena pulau seluas 80 hektare itu berada di Muara Sungai Porong yang bisa ditempuh setengah jam.

Pulau Sarinah merupakan pulau baru hasil dari sedimentasi lumpur yang keluar dari lumpur Lapindo, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Bertahun-tahun lumpur itu dibuang ke Sungai Porong, kini menghasilkan hamparan pulau di pesisir timur Sidoarjo.

Pemandangan sangatlah bagus jika pagi hari, ketika matahari mulai terbit. Yang membedakan dengan pantai Kuta dan Sanur hanyalah pasirnya saja. Pulau Sarinah hanyalah hamparan lumpur berwarna pekat yang dibentuk seperti pulau. Di tepi dipasang karung pasir agar lumpur dari muara yang disedot tidak kembali lagi ke sungai.

Pulau Sarinah merupakan sebutan yang biasa digunakan nelayan dan warga Tlocor. Sehingga, pulau yang berasal dari sedimentasi lumpur tersebut kini mulai dikenal dengan nama Pulau Sarinah. Untuk memudahkan perahu merapat, di pulau itu juga didirikan dermaga. Selama ini, Pulau Sarinah lebih sering digunakan pusat penelitian beberapa universitas dan aktivis lingkungan dengan menanam mangrove di kawasan itu. tapi kini, Pulau Sarinah sudah mulai dikenal dan menjadi ikon wisata baru.

Untuk bisa sampai ke pulau itu tidaklah sulit. Meski jaraknya cukup jauh dari Sidoarjo, namun jalan masuk menuju ke pulau itu sudah bagus. Setelah melewati jembatan Porong, wisatawan langsung belok kiri ke arah timur sekitar 15 kilometer sudah sampai di Dermaga Tlocor. “Dari dermaga bisa naik perahu. Banyak nelayan yang menyewakan perahu. Biasanya untuk mancing seharian di pulau Sarinah,” ujar Jakfar salah satu wargaJabon yang kerap berkunjung ke Pulau Sarinah.

Dari Dermaga Tlocor, wisatawan bisa menikmati suasana sungai yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi pohon bakau dan sejenis api-api. Ombak yang tak seberapa besar membuat perahu cukup tenang. Jika air sedang surut, perjalanan naik perahu untuk bisa sampai ke Pulau Sarinah tak lebih dari setengah jam. Namun, jika air pasang waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Bagi warga yang menyewakan perahu, selama ini mereka hanya melayani wisatawan yang akan mancing saja. Namun, seiring dikenalnya Pulau Sarinah itu, kini banyak wisatawan yang datang dan menyewa perahu sekedar berkunjung ke Pulau Sarinah. “Kalau sewa perahu pulang pergi (PP) biasanya Rp150 sampai Rp200 ribu,” ujar Sudarno, salah satu warga Tlocor yang biasanya menyewakan perahu.

Jika dikelola dengan baik, Pulau Sarinah akan menjadi salah satu tujuan wisata di Sidoarjo. Sebab, masyarakat akan penasaran seperti apa pulau yang terbuat dari lumpur. Apalagi, kalau di pulau itu diberi fasilitas tempat wisata alam. Tentunya akan lebih menarik wisatawan yang senang berpetualang. “Kalau di pulau itu diberi semacam paket penginapan dan areal tempat mancing tentunya akan lebih ramai,” ujar Sutrisno, salah satu warga yang juga pernah ke Pulau Sarinah.

Selain Pulau Sarinah, dikawasan pesisir muara Sungai Porong juga terdapat beberapa pulau yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Pitu. Meski tidak ada penghuninya, namun dikawasan itu cukup menarik untuk dikunjungi. Disela-sela mancing, biasanya pengunjung beristrirahat dikawasan itu.


Sumber:

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/04/13/pulau-sarinah-pulau-yang-tebentuk-dari-lumpur-sidoarjo

Tuesday, January 5, 2021

Chacha Sherly Pedangdut Sidoarjo

18 Januari 2020

Via Vallen dan Chacha, Dua Pedangdut Sidoarjo Guncang Dunia Maya

Dua pedangdut cantik asli asal Sidoarjo, Via Vallen dan Chacha Trio Macan atau Chacha Sherly membuat heboh dunia maya. Hal tersebut terlepas dari unggahan foto keduanya di Instagram.

Baik Via Vallen maupun Chacha, keduanya kompak mengunggah foto kebersamaan mereka bersama sang ibu di sebuah pusat perbelanjaan. Via Vallen yang mengenakan jersey MU warna biru dan Chacha mengenakan kaos putih terlihat cantik dan mirip.

Kedua pedangdut dengan suara khas itu pun langsung mendapat perhatian dari kedua penggemarnya, baik itu Vyanisty maupun Kanchaku.

Seperti yang kita ketahui, kedua wanita cantik tersebut merupakan kelahiran asli Sidoarjo. Via Vallen sukses dengan karier solonya lewat dangdut koplo, sedangkan Chacha merupakan salah satu personel grup vokal dangdut Trio Macan.

"vyanisty x kanchaku bersatu nk ngene iki mbak?," tulis salah satu komentar netizen. Tak hanya pujian dan doa, beberapa netizen juga menanyakan perihal kolaborasi keduanya.

"Kapan kolaborasi bareng ❤️?" tanya salah satu netizen.

https://www.jagodangdut.com/artikel/5789-via-vallen-dan-chacha-dua-pedangdut-sidoarjo-guncang-dunia-maya?page=4


02 Feb 20

Putuskan Solo Karier, 10 Potret Chacha eks Trio Macan yang Memesona

Chacha Sherly memutuskan hengkang dari Trio Macan, grup dangdut yang membesarkan namanya. Kontraknya dengan pihak manajemen telah berakhir Desember 2019. Sama seperti Chacha, kedua rekannya di Trio Macan juga tidak memperpanjang kontrak.

Memilih jalan masing-masing, Chacha tak kehilangan popularitas. Chacha masih muncul di program televisi sebagai bintang tamu. Berikut potret dan fakta menarik Chacha yang semakin membuat fans jatuh hati!

  • 1. Chacha lahir pada 23 Januari 1991, baru saja merayakan ulang tahun ke-29
  • 2. Chacha bergabung dengan Trio Macan tahun 2011. Ini penghargaan Anugerah Dangdut Indonesia yang mereka terima sebelum kontrak habis
  • 3. Memilih jalan masing-masing, Chacha kerap diundang sebagai bintang tamu di acara televisi
  • 4. Chacha punya kanal YouTube pribadi dengan jumlah 110 ribu subscriber. Videonya didominasi dengan cover dangdut koplo
  • 5. Ternyata Chacha suka nonton drama Korea juga lho. Cewek rambut panjang ini kepincut dengan pesona Lee Do Hyun 'Hotel Del Luna'
  • 6. Gaya sopan ketika menjalankan ibadah umrah, banjir pujian!
  • 7. Chacha tak ragu ungkapkan rasa sayang ke mama sebelum berangkat nih
  • 8. Bersama Via Vallen yang juga kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur
  • 9. Gak mau kalah dari yang lain, Chacha juga main TikTok lho guys!
  • 10. "Kunang kunang di sangkar emas, pinang aku mas.......," tulis Chacha yang mendapat ratusan komentar

Itulah tadi Chacha Sherly, eks Trio Macan yang penuh pesona. Kabarnya Chacha lagi bersiap-siap untuk merilis lagu solo dengan manajemen barunya. Semoga sukses, ya!

https://www.idntimes.com/hype/entertainment/hilda-t/potret-chacha-eks-trio-macan-yang-memesona-c1c2/10


05/01/2021

Isak Tangis Sambut Kedatangan Jenazah Chacha Sherly di Rumah Duka

Isak tangis pecah di rumah duka mantan personel Trio Macan, Chacha Sherly di Kompleks Perumahan Kedungturi Permai Blok I, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (5/1/2021) malam. Keluarga Chaca Sherly tak kuasa menahan tangis saat almarhumah diturunkan dari mobil jenazah RSUD Ungaran, Jawa Tengah. 

Jenazah mantan personel Trio Macan itu diturunkan sejenak untuk disemayamkan di rumah duka.  Terlihat sejumlah keluarga, kerabat, dan kolega, perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi itu terisak. 

Beberapa saat setelah disemayamkan, jenazah dibawa ke Masjid Al-Muhajirin untuk dishalatkan. Setelah itu, jenazah dibawa ke pemakaman umum Aspol Wage I Desa Kedungturi. Dalam prosesi pemakaman itu, terlihat Kapolresta Sidoarjo Kombes Sumardji. 

Ia mewakili Korps Polri karena Chacha merupakan putri pertama Wakasat Narkoba Polresta Sidoarjo AKP Agus Achmad Hansip. "Kami sampaikan duka mendalam atas meninggalnya ananda Chacha, semoga amal dan ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya dan almarhumah ditempatkan di sisi terbaik," kata Kombes Sumardji di lokasi, Selasa. 

Chacha sempat mengalami koma sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa siang.   Manajer Chacha, Okky mengatakan, mantan personel Trio Macan itu mengalami luka berat di bagian kepala. 

“Kondisi Chacha saat kemarin dimasukan ke rumah sakit, Chacha mengalami luka di kepala yang sangat berat dan mengalami koma,” tulis Okky melalui pesan singkat, Selasa (5/1/2021). 

Okky berujar kondisi Chacha Sherly terus menurun ketika dirawat di rumah sakit. Hingga akhirnya, Chacha meninggal sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelumnya, pada Senin (4/1/2021), Chacha Sherly terlibat kecelakaan lalu lintas di tol Solo-Semarang KM 428.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2021/01/05/23213871/isak-tangis-sambut-kedatangan-jenazah-chacha-sherly-di-rumah-duka?page=all.

Friday, December 18, 2020

Frontage Road dan RSUD Sibar

Frontage Road dan RSUD Sibar Bakal Masuk Program 100 Hari Pertama Gus Muhdlor-Subandi

17 Desember 2020



Program pembangunan Frontage Road (FR) dan RSUD Sidoarjo Barat (Sibar) menjadi target pasangan calon Ahmad Muhdlor Ali-Subandi dalam waktu 100 hari masa kerjanya setelah ditetapkan sebagai pemenang Pilkada Sidoarjo, lalu dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo.

Gus Muhdlor, sapaan akrab Ahmad Muhdlor Ali menyampaikan, kedua program pembangunan tersebut menjadi salah satu program prioritas yang harus segera direalisasikan. Sebab kedua program tersebut sudah lama dinantikan masyarakat Sidoarjo.

“Kami komitmen untuk merealisasikan hal itu sebagai bentuk pelayanan kami kepada masyarakat. Meskipun hanya sejengkal, kami akan realisasikan itu sebagai wujud pengabdian kami untuk masyarakat,” kata Gus Muhdlor dalam konferensi pers di posko pemenangannya, Kamis (17/12/2020).

Terkait pembebasan lahan yang selama ini menjadi kendala pembangunan FR, Gus Muhdlor mengatakan sudah memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya. Salah satunya ialah dengan menggunakan skema ganti untung.

“Jadi bukan ganti rugi lagi yang dipakai. Kami akan pakai pendekatan yang humanis diiringi dengan harga yang bagus. Jika ternyata tim yang di lapangan nanti tidak bisa menyelesaikan, maka saya akan turun langsung dengan cara pendekatan yang baik,” tuturnya.

Lebih lanjut dia juga mengatakan, pemulihan ekonomi akibat pandemi saat ini juga menjadi prioritasnya. Hal itu akan berseiring dengan pemerataan pembangunan infrastruktur yang sudah sekian lama dinanti masyarakat.

“Termasuk juga pembuatan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST), perngerukan sungai untuk mengatasi banjir, serta pelayanan cepat 24 jam yang akan kami sediakan untuk seluruh masyarakat Sidoarjo,” pungkasnya.


Sumber :

https://sidoarjonews.id/frontage-road-dan-rsud-sibar-bakal-masuk-program-100-hari-pertama-gus-muhdlor-subandi/

Frontage Road Sidoarjo

Frontage Road Sidoarjo dan RS Barat jadi Ganjalan Berat

19 Juni 2019

JawaPos.com – Tanda-tanda semakin kuat. Prediksi bahwa sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) bakal lebih dari Rp 1 triliun makin mendekati kenyataan. Indikasinya, pembebasan lahan dan pembangunan fisik frontage road serta pembangunan RSUD Sidoarjo Barat terancam tidak terlaksana. Anggarannya ratusan miliar.

Lahan frontage road (FR) disiapi anggaran Rp 150 miliar. Pembebasan Rp 100 miliar. Targetnya tuntas akhir tahun. Pembangunan fisik Rp 50 miliar. Namun, upaya pembebasan lahan masih tersendat. Baik proses hibah maupun pembelian tanah warga. Jika tanah tidak bebas, pembangunan fisik belum bisa dilakukan.

Program lain yang juga terancam gagal ialah pembangunan RSUD Sidoarjo Barat. Padahal, APBD sudah menyediakan dana Rp 125 miliar. Sayang, anggaran itu belum terserap. Ada pula tunjangan RT/RW serta badan permusyawaratan desa (BPD). Nilainya berkisar Rp 60 miliar. Belum terealisasi juga.

Belum termasuk program bidang infrastruktur lain. Misalnya, pembangunan jalan beton di 30 ruas. Total anggarannya mencapai Rp 150 miliar. Sampai saat ini baru tahap lelang.

Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan menyatakan, pemkab seharusnya menjalankan seluruh program itu. Kegiatan tersebut sudah diputuskan dalam rapat pembahasan APBD 2019. ’’Masuk perda. Konsekuensinya harus berjalan,’’ ujarnya.

Memang, lanjut dia, anggaran ratusan miliar itu masih bisa terserap. Caranya? Peruntukan anggaran digeser saat pembahasan perubahan anggaran dan keuangan (PAK). Cara tersebut bisa dilakukan. ’’Dampaknya, program prioritas molor lagi,’’ tegasnya.

Wakil Ketua DPRD Sidoarjo Taufik Hidayat Tri Yudono telah memprediksi nilai silpa APBD Sidoarjo 2019 masih lebih dari Rp 1 triliun. Taufik menyebutkan, pada 2019, Pemkab Sidoarjo menarget silpa ”hanya” Rp 600 miliar. Namun, dia tidak yakin. Sebab, program pembangunan fisik, misalnya, butuh waktu dalam realisasinya. ”Anggaran pembangunan jadi sia-sia,” ujar legislator PDIP itu kepada Jawa Pos Senin (17/6).

Asisten I Heri Soesanto menambahkan, pemkab sebenarnya sudah menyusun langkah antisipasi agar silpa tidak membengkak. Yaitu, pengetatan program yang berjalan. Program yang dirancang pada triwulan pertama harus dikerjakan sesuai waktu. ’’Tidak bisa dikerjakan di triwulan kedua,’’ jelasnya.

Sayang, aturan itu belum berjalan. Sebagian besar OPD tidak patuh. Menurut Heri, ada sejumlah penyebab. Program fisik, misalnya, membutuhkan tahapan panjang. Mulai lelang, penetapan pemenang, hingga pengerjaan.

Alasan lain, OPD sangat berhati-hati dalam menjalankan kegiatan. Sebab, anggaran bersumber dari APBD. ’’Prinsip kehati-hatian ini membuat program berjalan lambat,’’ tuturnya.

Namun, tegas Heri, program kerja tetap program kerja. Apa yang sudah dibahas harus berjalan. Terlebih kegiatan prioritas. Pemkab menyiapkan sanksi jika program tidak terlaksana. Apa sanksinya? ’’Kalau serapan minim, tunjangan kinerja (tukin) dipotong,’’ ucapnya.

Mantan Kabag hukum pemkab itu menambahkan, sanksi tersebut bukan hanya pengurangan pendapatan. Karir PNS juga terimbas. ’’Karena kinerja tidak optimal. Itu jadi catatan pemkab,’’ jelasnya.

Minimnya serapan anggaran menjadi perhatian Wakil Bupati Nur Ahmad Syaifuddin. Cak Nur –panggilan akrabnya– mengingatkan, tidak ada alasan program kerja tidak berjalan. ’’Saya tegaskan seluruhnya harus jalan. Kami bakal evaluasi,’’ ujarnya.


Sumber :

https://www.jawapos.com/surabaya/19/06/2019/frontage-road-sidoarjo-dan-rs-barat-jadi-ganjalan-berat/

Jalur Lingkar Barat Segera Dituntaskan

Masuk Program Prioritas RPJMD Jalur Lingkar Barat Segera Dituntaskan

NOVEMBER 21, 2018

Untuk menuntaskan proyek jalan lingkar barat , Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) akan segera membangun overpass diatas rel Kereta Api dan lahan milik pengembang agar jalan itu bisa tersambung.

Kepala Dinas PU-PR Sidoarjo, Sigit Setyawan mengatakan, proyek jalan ini merupakan salah satu program prioritas yang masuk dalam RPJMD Kabupaten Sidoarjo.

“Karena masuk program priotitas RPJMD maka Jalan lingkar barat ini akan segera kami tuntaskan,” ucapnya, Selasa (20/11/2018).

Disampaikannya, terkait rencana pembangunan Overpass untuk jalan lingkar barat ini, pihaknya masih menunggu survey dari Kementerian Perhubungan.

“Secara prinsip Overpass sudah disetujui kementerian, tinggal dicek ke lapangan,” ujar Sigit.

Overpass ini rencananya akan dibangun oleh pengembang yang lahannya dilewati oleh jalan ini. Overpaas ini untuk menghubungkan jalan lingkar barat yang terhalang oleh lahan pengembang, antara titik di Desa Sumokali dan Desa Sugihwaras Kecamatan Candi.

Dijelaskan Sigit, jalan lingkar barat di titik Sumokali-Sugihwaras ini akan tersambung bila  Overpass selesai dibangun. Pengurukan lahan yang disambungkan dengan Overpass sudah dilakukan,  yaitu di sisi utara Sumokali dan sisi selatan Sugihwaras.

Pengaspalan akan bisa dilakukan kalau Overpass ini selesai, dan targetnya Overpass dibangun sesegera mungkin, yakni tahun 2019.

“Kalau Overpass sudah jadi, baru kita melakukan pengaspalan,”tutur Sigit.

Untuk jalan lingkar barat titik Sumokali hingga Sugihwaras, panjangnya sekitar 1,1 Kilometer. Total panjang sekitar 8 Kilometer. Untuk sisi selatan, jalan ini akan tembus hingga bundaran Ketapang, Tanggulangin.

Sedangkan sisi utara, tembus hingga kawasan jalan dekat Musuem Mpu Tantular, Buduran. jalan ini melewati kawasan Perum Taman Pinang, bundaran GOR, hingga Jalan Pagerwojo.

Proyek jalan lingkar barat dimulai dengan pembebasan lahan sejak tahun 2014. Pekerjaan berlanjut hingga pengurukan badan jalan pada tahun 2017. Untuk pembebasan lahan, pemkab telah mengucurkan dana sekitar Rp 30 Miliar dan untuk pengurukan badan jalan, menyerap dana sekitar Rp 12 Miliar.

Masih kata Sigit, jika jalan lingkar  barat ini selesai maka akan bisa  mengurangi kemacetan kawasan kota Sidoarjo. Kendaraan dari Porong yang hendak menuju Surabaya, tidak perlu masuk kota dengan melewati JL KH Mukmin hingga Jl Diponegoro. Kendaraan ini bisa melewati jalan lingkar barat dari arah Bundaran Ketapang dan keluar di kawasan Museum Mpu Tantular.

Selain itu, ekonomi sosial masyarakat akan terangkat bila jalan lingkar barat ini selesai.

“Pembangunan infrastuktur jalan tentu saja berdampak pada munculnya kawasan ekonomi dan perdagangan serta sosial di sekitarnya,” tandasnya.


Sumber :

https://sidoarjoterkini.com/2018/11/21/masuk-program-prioritas-rpjmd-jalur-lingkar-barat-segera-dituntaskan/

Related Posts