Sunday, May 5, 2013

Tradisi Buri, Panen Bandeng & Udang Windu di Kalangan Petambak Sidoarjo


Warga Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo dan warga sekitar melakukan tradisi buri (panen bandeng dan windu).

Mereka membantu mengambil sisa ikan yang dipanen untuk diberikan ke pemilik tambak, Minggu (14/4/2013. Atas upayanya ini, warga mendapat bagian dari hasil yang diperoleh. Tradisi buri ada sejak turun-temurun di kalangan petambak Sidoarjo.

Sumber: Tribunnews

Empat Investor Siap Bangun Sea World Sidoarjo


KOTA Delta bakal memiliki sea world. Rencana pembangunan tempat wisata itu akan dikerjakan wilayah pantai Sedati. Meski sampai sekarang lahan mana yang akan ditempati
sea world ini belum pasti, tetapi sudah ada keinginan investor untuk menanamkan modalnya.

Hingga kini, ada empat perusahaan yang mengajukan diri untuk menggarap wahana ini. Dari empat tersebut, satu di antaranya sudah mendapatkan izin lokasi dari badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BPPD) Sidoarjo.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang permukiman dan Prasarana Wilayah Eni Rostianingsih.

“Ada satu perusahaan yang sudah mendapatkan izin lokasi untuk ikut menggarap proyek ini,” ujarnya. 

“Kalo tidak salah namanya PT Jaswinda. Dia akan menggarap 300 hektar,” tuturnya.

Proyek sea world ini masuk dalam rencana tata ruang kawasan strategis pesisir yang telah diperdakan pada 2009 silam. Pemerintah Sidoarjo sendiri menyediakan lahan seluas
1.500 hektar untuk proyek tersebut. 

“Letaknya di Desa Banjar Kemuning dan Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati,” imbuhnya.

Dalam pengerjaannya, Bappeda berfungsi sebagai fasilitasi dari investor yang berminat untuk menggarap kawasan tersebut.

“Kita hanya sebagai fasilitator bagi investor untuk mengembangkan kawasan tersebut dengan catatan mereka harus mempunyai konsep yang tepat untuk kawasan ini,” tuturnya.

Sesuai rencana, untuk sea world akan digarap oleh empat investor dengan pembagian wilayah yang berbeda. 

“Ada yang menggarap sarana prasarana, wisata air dan tidak menutup kemungkinan
mungkin ada yang membangun hotel,” katanya

Selain itu investor yang berminat juga diminta untuk menyiapkan desain rancangan
pembangunan sea world. Di antaranya termasuk teknologi apa yang akan digunakan sehingga antara pemkab dengan investor terdapat persamaan persepsi.

Hingga saat ini Eny mengaku terus menunggu kesiapan investor untuk melakukan pengembangan di kawasan tersebut. Eny menyebutkan terdapat sebuah konsorsium
dari Korea yang berminat untuk mengembangkan kawasan tersebut. 

“Tapi hingga kini mereka belum mengajukan desain dan teknologi yang mereka
gunakan,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menyatakan tahun 2013 sea world sudah mulai dibangun. 

“Tahun ini akan segera dibangun dan diusahakan selesai tahun ini juga,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Saiful Ilah juga mengatakan membangun sea world telah didasarkan berbagai pertimbangan. Salah satunya Sidoarjo dekat dengan laut dan taman wisata laut
yang berada di pesisir pantai. 

Sehingga diharapkan bisa menekan biaya operasional. Bahkan dijanjikan sea world ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia.

“Sea world di Sidoarjo nantinya bakal menjadi yang terbesar di Indonesia,” tandas Saiful Ilah.

Kata Saiful, pembangunan akan menggunakan jasa konsultan Underwater Word, yakni sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan pembangunan sea
world. 

Perusahaan ini sudah membangun, salah satunya membangun sea world terbesar di Changsa,
Provinsi Hunan, China. Antara Pemkab Sidoarjo dengan pihak investor kini telah menjalin komunikasi intensif. Untuk pembangunan sea world, keseriusan investor telah dituangkan
dalam bentuk penandatanganan pernyataan bersama antara Bupati Sidoarjo dengan Direktur Underwater World, Lim Nay Hian, di Changsan China.

Di sisi lain Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto mengatakan sea world diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan di wilayah timur Sidoarjo.

Berdirinya sea world ini diyakini tidak akan menganggu keberadaan tambak yang memang banyak tersebar di wilayah Sedati.

“Yang dipakai adalah tambak yang sudah tidak produktif,” katanya.

Selain itu, ia memastikan tidak akan menganggu hutan mangrove yang ada di kawasan pesisir. 

“Kemungkinannya sebelum mangrove. Hutan mangrove harus aman,” pungkasnya.

Pemkab yakin sea world akan terbangun di Kota Delta. Menurut Hadi Sutjipto, rencana pembangunan yang akan dibiayai investor dari China, Underwater World itu, sudah dalam
proses pembebasan lahan meski belum tuntas.

Hadi Sutjipto berharap masyarakat bisa memberikan dukungan. Hal itu, kata dia, bisa ditunjukkan dengan melepaskan lahan dengan harga yang wajar, sehingga proses bisa berjalan lancar.

Sumber: radar surabaya

Sunday, April 28, 2013

Pasar Taman Pinang - Gading Fajar


Malioboro - Yogyakarta

Jika di Yogyakarta ada Malioboro. Dan jika di Singapura ada Bugis Street. Ya, dua-duanya adalah suatu jalan yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima. 


Bugis Street - Singapura

Di kota Sidoarjo juga tidak kalah. Yaitu di jalan kembar perumahan Taman Pinang - Gading Fajar, Sidoarjo, tiap hari dipenuhi pedagang aneka jenis kebutuhan, terutama malam minggu dan hari Minggu.

Pasar Taman Pinang - Gading Fajar

Kalau Sabtu malam, Minggu pagi, dan Minggu malam silahkan telusuri sepanjang jalan ini dengan jalan kaki (sepanjang kurang lebih 1 km) di area ini ada berbagai pedagang, kuliner, elektronik, komputer, laptop, handphone, furniture, dekorasi rumah, mobil, motor, jasa perkreditan, fashion, pakaian, tas, sepatu, sandal, make up, asesoris, mainan anak, binatang peliharaan, ikan, ular, kucing ras, hamster, tokek, katak, kelinci, kerajinan tangan, keperluan dapur dan sayur-sayuran. 

Lengkap! Semua tersedia di stand-stand yang tidak permanen, stand mobil, dan bahkan hanya meja dan payung saja.

Tidak pernah sepi pengunjung. Pedagangnya pun seperti tak pernah sepi pembeli. Selalu saja ada orang yang berhenti di depannya untuk melihat, menawar, dan membeli. 

Monday, March 18, 2013

Pusat Perbelanjaan Sidoarjo


Tahun 2010-an Sidoarjo hanya memiliki 3 pusat perbelanjaan besar, yaitu Pertokoan Matahari di Jl Gajah Mada, Ramayana Mall di Jl Diponegoro dan Sun City Jl Raya Pahlawan. 


Kemudian tahun 2012-an terdapat satu lagi pusat perbelanjaan yaitu SITOS (Sidoarjo Town Square) di Jl Raya Jati. 

Dan kabar baik datang lagi setelah pagi hari ini baca koran Surya, bakal di bangun satu Mall lagi, yaitu The Royal Pallace. Lokasi adalah di Jalan Sunandar Priyo Sudarmo. Lokasi tepatnya adalah di titik koordinat : -7.467656,112.712485.

(ilustrasi)

---------------------------------

Berikut berita selengkapnya yang diambil dari harian Surya Online

Masyarakat Sidoarjo dalam waktu dekat bisa menikmati tempat pusat perbelanjaan dan tempat kongkow-kongkow baru. Tempat baru itu, The Royal Palace Sidoarjo, berada di Jl Sunandar Priyo Sudarmo.

Bangunan tiga lantai yang disiapkan itu akan menampung segala bentuk usaha di Sidoarjo. Mulai batik tulis, tas, bandeng dan lainnya. Harganya pun bersaing dengan toko grosir yang ada di Surabaya atau kota lain.

 “Jadi masyarakat yang butuh apa-apa tidak lagi pergi ke Surabaya atau ke luar negeri. Masak cari batik saja ke Surabaya, padahal di Sidoarjo adalah pusatnya batik,” kata Bupati H Saiful Ilah.

Menurut orang nomor satu di Sidoarjo, pembangunan The Royal Palace itu menempati lahan bekas pabrik kayu seluas 3 ha. Lahan tersebut sudah dibebaskan oleh investor dan kini dipagar.

“Lokasinya sangat strategis karena berada di jantung kota,” paparnya.

Untuk menuju pusat perbelanjaan The Royal Palace, masyarakat yang menggunakan jalan tol Gempol-Surabaya turun di pintu tol Sidoarjo dan masuk ke Jl Lingkar Barat-Jl Gatot Subroto dan masuk ke Jl Sunandar Priyo Sudarmo.

Sementara masyarakat dari arah Malang lewat jalan arteri masuk dari traffic light Larangan – Pasar Larangan dan menuju Jl Sunandar Priyo Sudarmo.

“Segala perizinan sedang diurus oleh investor ke Pemkab Sidoarjo. Semoga keberadaan mal baru ini bermanfaat bagi masyarakat Sidoarjo,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi C, I Wayan Dendra, menerangkan jangan sampai pihak investor lalai dengan segala izin yang harus dipenuhi. Seperti Analisis Dampak Lingkungan (Andalalin) dan lainnya. Pasalnya, jika tanpa diperhitungkan akan merugikan masyarakat banyak.

“Memang itu salah satu cara untuk mengangkat Sidoarjo. Tapi jangan sampai mengesampingkan izin yang ada,” tandasnya.

Dijelaskannya, selama ini keberadaan mall di Sidoarjo hanya bisa dihitung jari. Seperti Sidoarjo Town Square di Jl Raya Jati, Sun City Jl Raya Pahlawan, Ramayana Mall di Jl Diponegoro dan Pertokoan Matahari di Jl Gajah Mada.

Persaingan mal yang ada itu diharapkan masyarakat bisa memilih, tentunya persaingan harga.

“Yang perlu dicatat adalah jangan sampai keberadaan mal itu membunuh pedagang di pasar tradisional,” tandasnya.

Menurut Ketua DPC Partai Hanura, keberadaan mal seperti The Royal Palace menunjukkan Sidoarjo bangkit dari keterpurukan. Pasalnya, Sidoarjo selama ini dicap trauma dengan lumpur Lapindo, sehingga investor tidak berani berinvestasi di Sidoarjo.

“Nah ini sebagai wujud Sidoarjo aman dan investor mall berani menanamkan sahamnya,” tegasnya.

Tuesday, January 1, 2013

Banjir Rendam Sebagian Wilayah Sidoarjo

Banjir Rendam Sebagian Wilayah Sidoarjo

Rabu, 2 Januari 2013 13:27 WIB


Banjir merendam sebagian wilayah Sidokare, Sidoarjo, menyusul adanya luapan air Sungai Kutuk yang melintas di kawasan tersebut.

Seorang warga, Suparmi, menuuturkan, banjir yang terjadi di kawasan Sidokare ini akibat luapan sungai serta didukung dengan curah hujan tinggi sejak Selasa (1/1) malam hingga Rabu (1/2) dini hari tadi.

"Hujannya tidak begitu lebat, tetapi durasi waktunya yang lama sehingga membuat sungai yang melintas di kawasan ini menjadi meluap dan merendam sebagian wilayah kami," katanya, Rabu.

Ia mengemukakan, di wilayah Sidokare ini sendiri memang sudah menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan datang menyusul tidak adanya tanggul penahan luapan air di pinggir sungai.

"Jarak antara rumah warga dengan sungai yang cukup dekat membuat air dapat dengan mudah merendam sebagian rumah penduduk yang ada di kawasan tersebut," katanya.

Ia mengatakan, untuk banjir yang terjadi di Sidokare ini genangan airnya mencapai 30 sentimeter atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 70 sentimeter.

Hal senada juga disampaikan oleh Samuel warga lainnya yang mengatakan jika air mulai menggenangi rumah warga sejak pagi hari akibat luapan sungai.

"Kami terpaksa memasang rambu-rambu dengan peralatan seadanya supaya para pengendara yang melintas di kawasan ini tidak bisa," katanya.

Menurutnya, setiap kali ada kendaraan yang lewat, gelombang air yang ditimbulkan langsung masuk ke dalam rumah dan hal tersebut sangat merugikan warga.

"Kami berharap, pemerintah setempat segera memberikan bantuan kepada warga, karena warga tidak ingin setiap kali hujan datang selalu dihantui dengan datangnya banjir," katanya.


Sumber :

https://jatim.antaranews.com/berita/101898/banjir-rendam-sebagian-wilayah-sidoarjo

Related Posts