Showing posts with label Lumpur. Show all posts
Showing posts with label Lumpur. Show all posts

Tuesday, May 30, 2023

17 Tahun Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Mengenang 17 Tahun Luapan Lumpur Lapindo di Sidoarjo

29/05/2023, 15:45 WIB

Tepat hari ini, 16 tahun lalu, semburan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mulai muncul. Lumpur bersuhu 60 derajat celsius ini menyembur dari Sumur Banjarpanji 1 yang berada di lokasi pengeboran gas PT Lapindo Brantas pada Senin (29/5/2006) sekitar pukul 04.30 WIB. 

Namun, kemunculan lumpur panas ini baru diketahui warga sekitar pukul 06.00 WIB. Kandungan gas hidrogen sulfida dalam lumpur bahkan dilaporkan membuat beberapa warga keracunan. Dikutip dari Harian Kompas, 19 Juni 2006, dalam 21 hari sejak semburan pertama, sekitar 90 hektar lahan terendam lumpur sedalam 1-6 meter dan menenggelamkan empat desa. 

Tak hanya itu, Tol Surabaya-Gempol juga ikut terendam lumpur setinggi 20-60 sentimeter. Baca juga: Mengapa Oro-oro Kesongo Erupsi, dan Akankah seperti Lumpur Lapindo? Kajian ahli Sejumlah ahli lalu meneliti munculnya semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. 

Dalam sebuah diskusi pakar di Universitas Brawijaya pada 15 Agustus 2006, muncul sebuah nada pesimis untuk menghentikan semburan lumpur tersebut.  Alasannya, fenomena alam semburan lumpur ini adalah erupsi mud volcano (gunung lumpur), dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 19 Agustus 2006. 

Kondisi ini juga melogikakan bahwa fenomena tersebut seperti semburan lahar gunung. Hanya saja, gunung lumpur ini berada di dalam Bumi. Secara teknis, sudetan yang dilakukan pada Sumur Banjarpanji 1 oleh PT Lapindo Brantas ini dilakukan pada pucuk "antiklinal" atau struktur memuncak jebakan massa hidrokarbon sumber minyak yang menyerupai gunung. 

Namun, fenomena ini terjadi pada kedalaman 3 kilometer di dalam perut Bumi. 

Mirip fenomena lumpur alam bledug di Purworejo Kepala Laboratorium Geosains Prodi Fisika UB, Adi Susilo saat itu menuturkan, semburan Lumpur Lapindo mirip dengan fenomena alam lumpur Bledug Kuwu di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. 

Menurutnya, fenomena lumpur bledug itu sudah berlangsung lebih dari seratus tahun. Meski saat ini yang tampak di lokasi semburan di Purworejo hanya tersisa gas dan sesekali lumpur, tidak ada yang mengetahui seberapa besar semburan itu pada awalnya. 

"Tidak ada catatan sejarah mengenai itu," kata Adi. Artinya, ada kemungkinan perut Bumi di bawah Sidoarjo masih punya persediaan lumpur untuk disemburkan sampai seratus tahun ke depan. Senada, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jawa Timur Arief Rahmansyah juga menyebut bahwa penanggulangan lumpur Lapindo sudah selesai. 

Sebab, tidak ada lagi teknologi yang bisa diterapkan. Hal ini mendorong perhatian beralih pada penanganan lumpur di atas permukaan. 

Potensi kandungan logam tanah jarang Belasan tahun sejak semburan pertama, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengungkap adanya potensi kandungan logam tanah jarang (rare earth). 

Rare earth merupakan salah satu mineral yang jadi perhatian, karena dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Rare earth element (REE) adalah 17 unsur kimia yang terjadi bersama-sama dalam tabel periodik, terletak di tengah tabel periodik (nomor atom 21, 39, dan 57-71). 

Golongan ini terdiri dari itrium dan 15 elemen lantanida (lantanum, cerium, praseodimium, neodimium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, disprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium). 

Elemen-elemen tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk industri berteknologi tinggi. "Logam ini memiliki sifat-sifat yang tidak biasa sehingga sangat berguna saat dicampur dengan logam umum meskipun dengan jumlah sedikit," kata dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dikutip dari pemberitaan Kompas.com (24/1/2022). 

Banyak teknologi yang memanfaatkan REE ini, seperti smarthphone, lampu LED, dan mobil listrik. Beberapa elemen tanah jarang digunakan dalam penyulingan minyak dan tenaga nuklir.


Sumber :

https://www.kompas.com/tren/read/2023/05/29/154500665/mengenang-17-tahun-luapan-lumpur-lapindo-di-sidoarjo?page=all#page2.

Wednesday, December 28, 2022

Wisata Lumpur Hingga Oleh Oleh Kue Lumpur

Jalan Jalan ke Sidoarjo, Tak Hanya Wisata Lumpur Tetapi Ada Juga Oleh Oleh Kue Lumpur


Sidoarjo tak hanya terkenal dengan wisata lumpur. Anda yang sedang jalan jalan dan menikmati liburan Nataru di Sidoarjo, harus mencicipi lumpur yang satu ini. Lumpur yang satu ini, selain nikmat juga lembut, cocok untuk oleh-oleh.

Sidoarjo dulu pernah  terkenal dengan semburan lumpur yang membuat banyak rumah tenggelam dan harus relokasi. Namun, ada oleh oleh khas Sidoarjo selain bandeng, petis, kerupuk udang, kupang, yaitu lumpur.

Lumpur ini adalah nama kue khas sidoarjo yang biasa dijadikan oleh-oleh. Rasanya manis, gurih  dan lembut, sudah melegenda sejak 15 tahun lalu. Ada yang tanpa toping, tetapi ada yang memakai toping kelapa muda serut diatasnya, rasanya jadi gurih.

Ada juga yang memakai toping kismis, rasanya manis. Kue ini berbahan tepung terigu, gula, telur dan bahan lainnya. Ciri khas memasak lumpur, cetakannya dibakar, sebelumnya cetakan diolesi minyak agar tidak lengket.

Baru dituang adonan diatas cetakan berbentuk bulat, dibakar diatas api sedang cenderung kecil agar matangnya merata karena tanpa dibalik. Teksturnya yang lembut cocok untuk semua umur, dengan harga sekita Rp3.000 sampai Rp4.000 / biji.

Satu pack biasanya isi 10 biji.

Yang terkenal adalah antara lain: Lumpur Muda Mudi jaya, di jalan Dr Wahidin. Kue Lumpur B Lilik, lokasinya di jalan Hangtuah, Kue Lumpur Bakar Pak Muji di jalan Garuda Betro, Sedati Sidoarjo. Tetapi di hari libur, biasanya harus memesan dahulu karena memerlukan waktu untuk menyiapkannya.


Sumber :

https://surabaya.jatimnetwork.com/gaya-hidup/pr-526324354/jalan-jalan-ke-sidoarjo-tak-hanya-wisata-lumpur-tetapi-ada-juga-oleh-oleh-kue-lumpur?page=3

Friday, January 21, 2022

Potensi Logam Tanah Jarang di Lumpur Lapindo

Temuan Potensi Logam Tanah Jarang di Lumpur Lapindo, ESDM Ungkap Perkembangannya

Jumat, 21 Januari 2022 16:37 WIB

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Data Mineral Eko Budi Lelono mengatakan pihaknya telah melakukan kajian yang lebih rinci dan sistematis mengenai potensi logam tanah jarang di lumpur Lapindo, Sidoarjo.

Kajian itu melanjutkan temuan pada survei umum pada tahun 2020. "Hasilnya masih dalam proses karena ini baru selesai akhir 2021. Jadi kalau sudah selesai menyeluruh akan kami sampaikan," ujar Eko dalam konferensi pers, Jumat, 21 Januari 2022.

Eko mengatakan kajian kali ini dilakukan dengan menggandeng institusi lain, sehingga perlu waktu untuk mengintegrasikan hasil temuannya. Dari sana, akan diketahui berapa besar potensi logam tanah jarang di Sidoarjo.

Logam tanah jarang merupakan salah satu mineral yang menjadi perhatian lantaran dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik.

Eko mengatakan pada 2020, Badan Geologi melakukan penyelidikan di sana. Secara umum, ada indikasi keberadaan logam tanah jarang di lokasi tersebut.

Selain logam tanah jarang, ia menyebut ada potensi dari logam lain, termasuk logam vritical raw materials. "Jumlahnya lebih besar dari logam tanah jarang di Lapindo," ujar Eko.

Karena itu, tahun lalu Badan Geologi melakukan kajian bekerja sama dengan Ditjen Minerba serta Pusat Teknologi Mineral di Balitbang ESDM terkait potensi logam tanah jarang tersebut.

Sebelumnya, berdasarkan data Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM, telah diidentifikasi sebanyak 28 lokasi yang memiliki potensi logam tanah jarang, termasuk lumpur Lapindo Sidoarjo.

Secara rinci, potensi tersebut tersebar di 16 lokasi di Sumatera, tujuh lokasi di Kalimantan, tiga lokasi di Sulawesi dan dua lokasi di Jawa.


Sumber :

https://bisnis.tempo.co/read/1552478/temuan-potensi-logam-tanah-jarang-di-lumpur-lapindo-esdm-ungkap-perkembangannya?page_num=2

Friday, September 17, 2021

Lumpur Lapindo Sumber Emisi Gas Metana Terbesar

Studi Terbaru: Lumpur Lapindo Sumber Emisi Gas Metana Terbesar di Bumi

Senin, 12 April 2021 | 20:00 WIB

   

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa jumlah emisi gas metana dari semburan Lumpur Sidoarjo atau Lumpur Lapindo merupakan yang terbesar yang dihasilkan dari sebuah manifestasi gas alam di bumi. Laporan studi tersebut telah diterbitkan di jurnal Scientific Reports pada 18 Februari 2021.

Lumpur Sidoarjo (Lusi) atau Lumpur Lapindo (Lula) adalah sebutan untuk manifestasi gas yang muncul sejak tahun 2006 di bekas pengeboran minyak PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Pulau Jawa, Indonesia. Saat ini, Lusi merupakan letusan klastik aktif terbesar di dunia.

Sejak kemuncuculannya, Lusi tak henti-hentinya menyemburkan air, minyak, gas, dan lumpur, dengan laju aliran puncak hingga 180.000 meter kubik per hari. Gumpalan uapnya naik setinggi beberapa puluh meter. Selama bertahun-tahun semburan lumpur ini telah melanda dan menutupi beberapa desa yang meluas hingga lebih dari 90 hektare.

Sebuah studi kolaboratif internasional yang dipimpin oleh Adriano Mazzini, peneliti dari Centre for Earth Evolution and Dynamics (CEED) di University of Oslo, dalam kerangka hibah ERC LUSI LAB telah memantau dan menganalisis Lusi selama beberapa tahun.

Dikutip dari laman resmi University of Oslo, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena geologi ini dipicu oleh tekanan fluida yang tinggi pada batuan sedimen dan suhu tinggi akibat interaksi dengan gunung api magmatik di sekitarnya. Oleh karena itu, Lusi dianggap sebagai manifestasi permukaan dari sistem sedimen/hidrotermal hibrida.

Gas yang keluar dari Luasi ini kaya akan karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Metana adalah gas rumah kaca yang 18 kali lebih kuat dari karbondioksida. Gas-gas ini keluar pusat kawah Lusi dan menyebar hingga seluas 7,5 kilometer persegi.

Tim peneliti menggabungkan teknik pengukuran berbasis darat dan satelit (TROPOMI) untuk mengukur jumlah gas yang dilepaskan ke atmosfer oleh Lusi. Kedua teknik tersebut menunjukkan total keluaran metana sekitar 100.000 ton per tahun. Ini adalah emisi metana tertinggi yang pernah tercatat secara eksperimental untuk satu manifestasi gas alam.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa estimasi terbaru dari emisi metana geologi global per tahun, berdasarkan radiokarbon di inti es era pra-industri (berkisar antara 100.000 hingga 5.400.000 ton CH4 per tahun), mungkin terlalu kecil (underestimated). Sebab, jumlah metana yang dilepaskan oleh Lusi saja, sudah sesuai jumlah minimum dari esgtimasi studi berbasis inti es untuk seluruh Bumi ini.

Emisi dari Lusi dianggap konsisten secara proporsional dengan tingkat fluks metana (yang disebut "faktor emisi") yang biasanya dilepaskan oleh manifestasi gas alam terestrial lain yang serupa (misalnya, gunung lumpur, sistem rembesan metana besar). Jika semua lokasi semacam ini ini digabungkan secara global, estimasi global secara keseluruhan akan menghasilkan total output sekitar 40-50 juta gas metana ton per tahun.

Mengetahui jumlah sebenarnya dan aliran pelepasan metana dari sumber geologi semacam ini penting untuk menilai emisi gas antropogenik dengan lebih baik, seperti dari industri minyak, dan emisi metana di atmosfer secara umum. Studi baru ini juga menunjukkan bahwa pengukuran emisi gas dengan bantuan satelit seperti ini dapat menjadi cara utama untuk mendukung studi perhitungan gas metana di darat dan meningkatkan cara estimasi jumlah geo-metana secara global.


Sumber :

https://nationalgeographic.grid.id/read/132646416/studi-terbaru-lumpur-lapindo-sumber-emisi-gas-metana-terbesar-di-bumi?page=all

Wednesday, March 3, 2021

Kandungan Lithium di Lumpur Lapindo

Nilai Ekonomi Kandungan Lithium di Lumpur Lapindo Belum Dikaji

Selasa, 21 Jun 2011 14:42 WIB

Sidoarjo - Semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo diyakini mengandung lithium atau bahan baku pembuat baterai. Namun hasil penelitian Japanese Research Institute, Wataru Tanikawa, itu belum final.

"Ada potensi yang kemungkinan lithium. Tapi belum dikonfirmasi nilai ekonomisnya," kata Deputi Operasi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Soffian Hadi Joyopranoto saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com melalui sambungan seluler, Selasa (21/6/2011).

Menurut dia, seberapa jauh kemungkinan kandungan lithium tersebut bisa dikelola masih belum diketahui. Sebab menurutnya, penelitian yang dilakukan ahli dari Jepang tersebut membutuhkan waktu lama.

"Dipelajari dulu sebelum dikelola. Tapi konsentrasi (lithiumnya) lebih tinggi dari yang didapat dari laut. Misalnya di laut 1 gram di lumpur bisa 100 gram," terangnya.

Hasil penelitian lain yang dilakukan para ahli di kolam lumpur yang luasanya sekarang mencapai 720 hektar itu, kata dia, menyakini semburan lumpur yang terjadi sejak 2006 itu merupakan fenomena yang unik. Yaitu kombinasi mud vulcano dengan geo thermal (panas bumi).

"Para ahli menyakini kejadian itu kombinasi mud vulcano dengan geo thermal. Sebagian besar mud vulcano berdiri sendiri. Ini kombinasi yang langka dari sisi science," kata Soffian.

"Ini tidak berkorelasi dengan energi. Ini fenomena kebumian," pungkasnya.

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-1665117/nilai-ekonomi-kandungan-lithium-di-lumpur-lapindo-belum-dikaji


Dosen ITS Ciptakan Baterai Lithium Dari Lumpur Lapindo

January 6, 2014

SURABAYA, KabarKampus – Lumpur Lapindo telah mendatangkan musibah bagi masyarakat Porong, Sidoharjo. Pasalnya lumpur yang meluap karena kegiatan pengeboran pada tahun 2006 lalu oleh PT Lapindo Brantas ini telah menenggelamkan kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya.

Dari tangan Dr Lukman Noerochim ST MSc MEng dan Dr Ir Amien Widodo MS, lumpur panas tersebut disulap menjadi baterai Lithium. Untuk menyulap lumpur tersebut, mereka memanfaatkan alat pengekstraksi Lithium yang diciptakan sendiri.

Adapun riset terhadap semburan lumpur Lapindo ini berawal dari keinginan Amien Widodo yang menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana ITS untuk memanfaatkan lumpur tersebut. Ia kemudian menggandeng Lukman Noerochim sebagai partner risetnya.

Lukman Noerochim menjelaskan,  setelah beberapa kali melakukan pengujian, mereka menemukan sesuatu yang menarik dalam komponen penyusun lumpur panas Lapindo. Di dalam lumpur tersebut, terdapat kandungan Lithium yang jumlahnya 70 kali lebih besar dibandingkan dengan yang biasa ditemukan di air laut.

“Kandungan Lithium pada lumpur ini benar-benar bisa kita manfaatkan,” ungkapnya.

Penemuan ini kemudian membawa mereka untuk menciptakan sebuah baterai lithium dari lumpur lapindo. Alat tersebut berupa membran yang mampu mengekstrak dan mengolah kandungan Lithium pada lumpur. Hasil estrakan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai katoda untuk pembuatan baterai.

Menurut Lukman, sistem kerja dari membran itu sendiri cukup sederhana. Alat yang mengandung Lithium-Mangan-Dioksida ini hanya tinggal dicelupkan ke dalam lumpur. Kemudian, membran akan bekerja secara otomatis menyerap kandungan Lithium yang ada pada lumpur.

Rencananya, pada 2014 ini, penelitian akan dilanjutkan menuju arah produksi baterai Lithium siap pakai. Hal itu dilakukan mengingat konsumsi baterai Lithium cukup besar. Di samping itu, masyarakat Indonesia juga masih belum mandiri dalam hal pembuatannya.

Ia menambahkan, penelitian ini memang ditujukan untuk mencari nilai guna dari lumpur panas Sidoarjo. Akan tetapi, maksud lain yang tidak kalah penting ialah mengajak pihak-pihak tertentu untuk memikirkan solusi tepat atas musibah yang menimpa masyarakat Sidoarjo tersebut.

“Penelitian ini kami harap bisa memicu pihak lain untuk ikut menyelesaian masalah lumpur Sidoarjo dengan segera,” ungkapnya.

https://kabarkampus.com/2014/01/dosen-its-ciptakan-baterai-lithium-dari-lumpur-lapindo/


Tim ITS Ungkap Lumpur Lapindo Mengandung Lithium, Bahan Baku Baterai

24 Februari 2021 | 17:19 WIB

SuaraJatim.id - Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) dari Institute Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) mengungkap hasil penelitiannya terkait tanah Lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur. Hasilnya, kandungan tanah pada lumpur mengandung lithium.

Hal sama juga diungkap peneliti dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menurut penelitian mereka, ada potensi kandungan logam tanah jarang (rare earth) pada tanah tersebut.

ITS melakukan riset pada 2013 silam. Riset dilakukan oleh Amien Widodo dan Lukman Noerochim dan diberi judul "Proses Ekstraksi dan Pengolahan Lithium dari Lumpur Sidoarjo untuk Pembuatan Katoda Baterei Lithium."

Hasil riset tersebut mereka presentasikan di Kantor Staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief di Kompleks Sekretariat Negara

"Lithium merupakan bahan baku pembuatan katoda baterai. Dalam peneltian yang kami kerjakan itu, dalam cairan geotermal Lumpur Sidoarjo terdapat kandungan lithium setinggi 5.81 mg/liter yang mana dapat dijadikan sebagai sumber lithium paling berpotensi," ujar Amin, dikutip dari beritajatim.com, jejaring media suara.com, Rabu (23/2/2021).

Namun, meski demikian, hingga saat ini kandungan logam tanah berupa lithium itu belum diteliti lebih lanjut potensinya. Padahal, permintaan lithium sendiri sangat besar, karena saat ini lithium digunakan untuk salah satu komponen dalam gadget.

"Saat ini belum ada penelitian lanjutan, karena kapasitas saya saat itu adalah geologi maka saya hanya meneliti bagian komponen saja," tambah Amin.

Amin pun menyebutkan bahwa penting untuk dilakukan penelitian lanjutan, jika memang hasil dari lithium yang terdapat di Lumpur Sidoarjo berpotensi menjadi sumber daya dan bahan baku teknologi berkelanjutan maka Lumpur Sidoarjo tidak bisa diolah dengan lebih baik.

https://jatim.suara.com/read/2021/02/24/171959/tim-its-ungkap-lumpur-lapindo-mengandung-lithium-bahan-baku-baterai

Wednesday, March 11, 2020

Penghapusan 4 Desa dan 2 Kelurahan di Sidoarjo


Penghapusan 4 Desa dan 2 Kelurahan di Sidoarjo Tunggu Keputusan Pusat

Senin, 9 Maret 2020, 19:09 WIB

Sebanyak empat desa dan dua kelurahan di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jatim yang diusulkan ke Pemerintah Pusat (Kemendagri) untuk dihapus karena dampak dari luapan lumpur Lapindo. Keempat desa itu adalah Desa Kedungbendo (Kecamatan Tanggulangin), Desa Besuki (Kecamatan Jabon), Desa Renokenongo (Kecamatan Porong) dan Desa Ketapang (Kecamatan Tanggulangin).

Kemudian, dua kelurahan yang juga diusulkan dihapus adalah Kelurahan Mindi (Kecamatan Porong) dan Kelurahan Jatirejo (Kecamatan Porong). “Hingga saat ini, keputusan dari Kemendagri belum turun,” kata Kabiro Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Jatim, Jempin Marbun saat dikonfirmasi beritajatim.com, Senin (9/3/2020).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi Jatim, Mohammad Yasin melalui Kabid Pemerintahan Desa, Heru Suseno menambahkan, keempat desa yang diusulkan dihapus itu masih mendapat alokasi dana desa. “Masih dapat dana desa, tapi tidak dicairkan. Nanti akan dikembalikan ke Kas Negara,” tutur Heru.

Heru menjelaskan, di enam wilayah itu (empat desa dan dua kelurahan) di Kabupaten Sidoarjo itu masih ada warga penduduk yang ber-KTP di wilayah tersebut.

“Pemerintahannya masih ada, nunut atau numpang di kecamatan. Kepala desanya Pj yang ditunjuk bupati dari aparatur kecamatan. Ini menjadi kendala yang belum selesai. Kalau jadi dihapus nantinya, urusan administrasi kependudukan harus diselesaikan dulu. Kalau tidak, akan menjadi masalah,” pungkasnya.


Sumber :
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/penghapusan-4-desa-dan-2-kelurahan-di-sidoarjo-tunggu-keputusan-pusat

Sumber foto :
https://theconversation.com/hasil-riset-jokowi-perlu-ubah-prioritas-dana-desa-ke-sdm-dan-sektor-informal-pedesaan-116282

Monday, November 25, 2019

Penghapusan Desa Akibat Lumpur di Sidoarjo

Penghapusan Tujuh Desa Akibat Lumpur di Sidoarjo Tunggu Perda


JawaPos.com – Rencana penghapusan tujuh desa yang tenggelam dalam lumpur di Sidoarjo pada prinsipnya bergantung langkah hukum yang ditempuh pemda. Kemendagri hanya melakukan perubahan administratif bila langkah hukum dari pemda sudah jelas, yakni pembentukan perda.

Direktur Penataan dan Administrasi Pemerintahan Desa Kemendagri Aferi S. Fudail menjelaskan, sebagaimana perintah UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, kewenangan utama tetap ada di kabupaten. Baik untuk memekarkan, menggabungkan, menghapus, maupun mengubah status desa menjadi kelurahan dan sebaliknya.

”Penghapusannya (desa) tetap dengan perda. Karena pembentukannya lewat perda,” ujarnya kemarin (25/11). Dalam hal ini perda Kabupaten Sidoarjo. Melalui penerbitan perda tersebut, Pemkab dan DPRD Sidoarjo menyepakati untuk menghapus tujuh desa. Pihaknya hanya mengadministrasikan sesuai dengan petunjuk teknis di permendagri tentang penataan desa.

Setelah raperda penghapusan desa disetujui pemkab bersama DPRD, dokumennya dinaikkan ke provinsi. Gubernur akan mengevaluasi raperda tersebut. Bila gubernur setuju, raperda itu tinggal disempurnakan dan kemudian diundang-undangkan. Pada saat bersamaan, gubernur akan melaporkan penghapusan desa tersebut kepada Mendagri.

Mendagri melalui Dirjen Bina Pemerintahan Desa akan mencabut kode administratif desa yang dihapus. Dengan demikian, saat raperda diundang-undangkan menjadi perda penghapusan desa, kode administratifnya juga sudah dihapus. Jadi, prosesnya perda dulu, baru pencabutan kode administratif. Bukan sebaliknya.

Aferi membenarkan bahwa Pemkab Sidoarjo sudah menyampaikan usul penghapusan desa-desa tersebut. ”Sedang kami proses,” tambahnya.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo
https://radarjember.jawapos.com/2019/11/26/penghapusan-tujuh-desa-akibat-lumpur-di-sidoarjo-tunggu-perda

Related Posts