Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Monday, October 9, 2023

Kerajaan Jenggala

Kerajaan Janggala atau nama lainnya Jenggala adalah salah satu kerajaan Hindhu yang terletak di kawasan Sidoarjo Jawa Timur. Sama seperti kerajaan pada umumnya, Jenggala juga mempunyai silsilah kerajaan, masa kejayaan hingga peninggalan-peninggalannya. Bahkan keberadaan kerajaan ini dianggap penting bagi kerajaan-kerajaan lain yang ada di sekitarnya.

Nah, buat yang mau tahu lebih detail mengenai sejarah Kerajaan Jenggala, Kami akan mengulas secara lengkap tentang kerajaan ini beserta kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakatnya. Yuk, simak.


Sejarah Kerajaan Jenggala 

Kerajaan Jenggala diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1042 yang merupakan salah satu dari dua kerajaan pimpinan Airlangga dari wangsa Isyana. Kerajaan yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa timur ini berakhir pada tahun 1930-an. Menurut catatan sejarahnya, nama Jenggala berasal dari kata ‘Hujung Galuh’, serta dalam catatan Cina menyebutkan’Jung-ya-lu’.

Hujung Galuh menjadi bagian dari kota Surabaya yang berada di daerah muara sungai Brantas. Pada zamannya, daerah tersebut dijadikan sebagai pelabuhan penting dimana bukan hanya untuk kerajaan Jenggala saja melainkan juga beberapa kerajaan lainnya seperti Majapahit, Singhasari, Kediri dan Kahuripan. Meskipun begitu, Kerajaan Janggala dan Kadiri tidak pernah akur dan mereka selalu terlibat konflik meskipun berasal dari satu kerajaan yang sama.

Sementara bersama Kerajaan Kahuripan, justru Kerajaan Jenggala dapat tumbuh semakin cepat karena Mapanji Garasakan sebagai raja pertamanya mempunyai kemampuan untuk melakukan diplomasi serta mengatur pemerintahan di daerah kekuasaannya. Perkembangannya bahkan tidak hanya dilihat dari sektor pemerintahannya hanya saja, melainkan ekonomi, karya sastra dan kesenian. Secara internasional pada saat itu Kerajaan Jenggala juga diakui oleh kerajaan-kerajaan lainnya dari India, Tiongkok serta negara lainnya.


Lokasi, Letak Geografis Dan Peta Wilayah

Seperti yang telah kami singgung sebelumnya, Kerajaan Jenggala berlokasi di Sidoarjo provinsi Jawa timur.

Pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala beribukota di Kahirpan yang kepemimpinan pertama kalinya diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Namun sayangnya, tidak ada satu peninggalan pun yang benar-benar memastikan di mana tempatnya lokasi kerajaan Jenggolo. Beberapa sumber sejarah menyebutkan tentang keraton Jenggolo, tapi juga tidak dijelaskan secara gamblang titik lokasinya berada di Sidoarjo bagian mana.

Hal itu karena tidak adanya kitab-kitab peninggalan kerajaan Jenggolo yang dapat menunjukkan lokasi dan pusat pemerintahan kerajaan ini. Sehingga banyak bermunculan pendapat-pendapat para ahli sejarawan tentang lokasi Kerajaan Jenggala. Salah satunya menurut tulisan dari buku sejarah Sidoarjo yang dibuat pada tahun 1970, menyebutkan letak Keraton Jenggolo berada di sungai pepe yang diungkapkan berdasarkan penemuan beberapa arca di lokasi tersebut.

Dari buku tersebut menjelaskan bahwa lokasi Keraton Jenggolo tepatnya berada di kecamatan Gedangan. Namun pendapat lain menyebutkan bahwa Keraton Jenggolo berada di alun-alun sama seperti pusat kota Sidoarjo saat ini. Pendapat tersebut didasarkan karena adanya arca Batara Ismaya dan patung katak raksasa yang ada di alun-alun hingga tahun 1975.

Ada juga yang menyebutkan bahwa Larangan, Kecamatan Candi, dulunya adalah salah satu wilayah kekuasaan dan pusat militer Kerajaan Jenggala. Pendapat tersebut didukung karena beberapa penemuan benda purbakala saat penggalian tahun 1980-an diantaranya seperti gelang lengan, rompi perang, perhiasan dan pedang. Meskipun tidak disebutkan sebagai pusat pemerintahan, tapi wilayah Larangan diyakini merupakan kompleks kemiliteran pada zaman kekuasaan Kerajaan Jenggala.


Silsilah Raja   

Periode Kerajaan Jenggala hanya dipimpin oleh tiga raja saja, sehingga kekuasaan kerajaan ini terhitung cukup pendek. Beberapa nama raja raja yang pernah memimpin Kerajaan Jenggala diantaranya Mapanji Garasakan, Mapanji Alanjung Ahyes, dan Samarotsaha. Kepemimpinan raja di Kerajaan Jenggala diketahui berdasarkan peninggalan prasasti seperti berikut ini:

Prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Malenga (1052) dan prasasti Kambang Putih menunjukkan kepemimpinan dari raja Mapanji Garasakan.

Prasasti Banjaran (1052) menunjukkan kepemimpinan Alanjung Ahyes

Prasasti Sumengka (1059) menunjukkan kepemimpinan Samarotsaha

Sayangnya tidak ada informasi secara jelas bagaimana kehidupan dari setiap kepemimpinan Kerajaan Jenggala tersebut. Diketahui bahwa pada masa kepemimpinan dari Mapanji Garasakan kerajaan pernah terlibat perang dengan Kerajaan Kediri. Akibat peperangan tersebut membuat Jenggala terpaksa memindahkan pusat pemerintahannya ke Lamongan dan menjadi awal mula keruntuhan kerajaan.


Kehidupan Di Kerajaan Jenggala

Kehidupan politik, ekonomi dan budaya di Kerajaan Jenggala memang tidak banyak diceritakan. Namun kami akan mencoba untuk merangkum sedikit tentang setiap sisi kehidupan di Kerajaan Jenggala tersebut berikut ini:


1. Kehidupan Politik

Secara politik, pusat kekuasaan Kerajaan Jenggala berhasil menguasai wilayah muara sungai yang dijadikan sebagai jalur perdagangan. Sehingga di wilayah sungai Porong tersebut, menjadi titik pusat pemerintahan sekaligus perekonomian Kerajaan Jenggala. Sementara periode kepemimpinan di Kerajaan Jenggala hanya sampai pada raja ketiga saja sebelum akhirnya jatuh ke tangan Kerajaan Kediri.


2. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan perekonomian dari Kerajaan Jenggala pada awal pemerintahannya terbilang maju sangat pesat. Karena sejak masa kepemimpinan raja pertama Mapanji Garasakan memiliki kemampuan melakukan diplomasi ke berbagai daerah kekuasaan dan mengatur pemerintahan dengan baik. Bahkan kerajaan ini berhasil menguasai wilayah jalur perdagangan Sungai Porong dan menjadi pusat perdagangan terbesar kedua di nusantara setelah Kerajaan Sriwijaya. Melihat pesatnya perekonomian di Kerajaan Janggala  bisa disimpullkan bahwa rakyat dari kerajaan ini pun sudah mengenal uang.


3. Kehidupan Budaya

Perkembangan Kerajaan Jenggala tidak hanya dari sektor pemerintahan dan ekonominya saja, melainkan juga kesenian dan karya sastra. Namun dalam catatan sejarah tidak ada yang menyebutkan atau menjelaskan secara terperinci bagaimana kehidupan budaya, kesenian dan karya sastra yang ada di kerajaan ini. Prasasti-prasasti peninggalan dari Kerajaan Jenggala pun hanya menunjukkan masa pimpinan setiap raja kerajaan, tapi tidak secara gamblang menyebutkan tentang kehidupan budaya di Kerajaan Jenggala.


Masa Kejayaan Kerajaan Jenggala

Masa kejayaan Jenggala terlihat pada periode pertama pemerintahan, yaitu pada masa kepemimpinan Mapanji Garasakan. Seperti yang telah kami ceritakan sebelumnya, pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan berhasil membawa Kerajaan Jenggala menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Nusantara.

Bahkan perkembangan dari Kerajaan Jenggala ini jauh lebih besar daripada kehidupan Kerajaan Kahuripan pada waktu itu (kerajaan lainnya dari hasil pemisahan Kerajaan Airlangga). Wilayah kekuasaan Kerajaan Jenggala pun sangat luas dengan sistem perekonomian yang sangat maju. Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Jenggala hanya berhenti pada periode pemerintahan Mapanji Garasakan sebelum akhirnya terus mengalami penurunan.


Penyebab Keruntuhan        

Puncak kejayaan dan penyebab runtuhnya Kerajaan Jenggala sebenarnya sulit untuk dipahami karena terjadinya masa kegelapan. Namun berdasarkan penemuan dari Prasasti Ngantang tahun 1035 diketahui bahwa kerajaan ini ditaklukkan oleh Sri Jayabhaya raja Kadiri. Dengan semboyannya yang sangat terkenal yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang, Jenggala akhirnya menjadi bawahan dari Kerajaan Kediri.

Runtuhnya Kerajaan Jenggala tersebut terjadi pada masa pemerintahan Mapanji Lanjung Ahyes karena sering mendapatkan serangan dari Kerajaan Kediri. Melihat dari catatan sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyebab keruntuhan Kerajaan Jenggala adalah penaklukan atau serangan dari kerajaan lain. Melalui penaklukan tersebut membuat masa Kerajaan Jenggala berakhir dan berada dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri.

Berdasarkan prasasti Turun Hyang II menjadi bukti adanya peperangan antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri sepeninggalan Airlangga. Sementara kemenangan Kerajaan Kediri atas peperangan dengan Kerajaan Jenggala tercatat pada prasasti Ngantang


Peninggalan Kerajaan          

Periode Kerajaan Jenggala dimulai tahun 1042 dan berakhir pada tahun sekitar 1130 an. Salah satu kerajaan nusantara yang berlokasi di kabupaten Sidoarjo Jawa Timur ini cukup minim di ketahui mengenai peninggalan situsnya. Berikut ini beberapa situs peninggalan Kerajaan Jenggala yang ada dalam catatan sejarah:


1. Candi Prada

Kerajaan Jenggala adalah salah satu kerajaan bercorak agama Hindu-Budha, sehingga tak heran jika candi menjadi salah satu situs peninggalannya. Candi peninggalan ini berada di dusun Reno Pencil Sidoarjo, tapi sayangnya sudah dirusak oleh penduduk pada tahun 1965. Padahal peninggalan dari Kerajaan Jenggala cukup minim, sehingga sangat disayangkan jika salah satu peninggalan yang berharga ini harus dirusak.

Candi yang berada di kawasan porong-sidoarjo tersebut merupakan situs purbakala peninggalan Mpu Baradah. Di sekitar situs candi tersebut juga ditemukan prasasti Watumanak di mana oleh warga setempat menyebutnya sebagai Punden Prada. Menurut informasi sejarahnya, Mpu Baradah membuat situs candi tersebut sebagai sarana pemujaan terhadap sang Hyang Batara Ismaya atau Batara Kartika.


2. Prasasti Turun Hyang II Dan Sirah Keting

Peninggalan berupa prasasti ini menceritakan tentang adanya peperangan antara Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala. Sejak awal mula pemisahan kedua kerajaan tersebut dari Kerajaan Airlangga memang tidak pernah akur. Prasasti yang ditulis pada tahun 1104 ini menceritakanmengenai kalahnya Kerajaan Jenggala pada peperangan yang dipimpin oleh Sri Jayabhaya.


3. Situs Tumpukan Batu Bata Di Sidoarjo

Belum lama ini di daerah persawahan Desa Urang Agung Sidoarjo ditemukan sebuah situs bersejarah yang konon merupakan bekas peninggalan dari Kerajaan Janggala. Situs yang ditemukan tersebut berupa tumpukan batu bata seluas sekitar 4 meter persegi yang ditemukan oleh penduduk desa area sawah saat menggali. Namun sayangnya tidak ada informasi lengkap terkait situs peninggalan ini, termasuk mengenai kapan tahun dibuatnya.


4. Sumor Kuno

Ada satu lagi benda yang didugamerupakan peninggalan dari Kerajaan Jenggala Sidoarjo yaitu Sumor Kuno yang digunakan untuk berbuat klenik. Benda tersebut berada di tengah area tambak, tepatnya di desa Pepe Tambak, Sedari, Sudoarjo. Banyak orang dari berbagai wilayah mengunjungi tempat keberadaan Sumor Kuno ini.

Pengunjung biasanya datang pada malam Jumat atau malam suro untuk melakukan sesuatu karena peninggalan tersebut masih dikeramatkan. Penduduk sekitar menceritakan bahwa biasanya pengunjung yang mendatangi sumor kuno guna untuk mencari batu mustika atau benda kuno seperti keris berukuran kecil. Pengakuan dari penduduk sekitar memang sering benda-benda kuno di Sumor Kuno, tapi tidak banyak yang berani membawa pulang. Menariknya, sumur tersebut masih bersih dan tetap segar sehingga masih bisa digunakan sebagaimana sumur pada umumnya.


Sumber :

https://www.selasar.com/kerajaan/jenggala/

Sunday, June 18, 2023

5 Candi Di Sidoarjo Jawa Timur

5 Candi Di Sidoarjo Jawa Timur, Wajib Dikunjungi Bagi Pecinta Wisata Sejarah!

- Senin, 19 Juni 2023 | 06:00 WIB

  

Wisata sejarah tentunya sangat dibutuhkan bagi kalian yang sering dan suka untuk mengungkit dan memperdalam masalah sejarah. Karena, sejarah adalah hal yang perlu digali kembali ilmunya, wawasannya, supaya tidak hilang akan perkembangan zaman modern sekarang.

Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur, di mana Sidoarjo juga terkenal sebagai kabupaten yang menawarkan banyak tempat wisata yang mengandung unsur sejarah.

Beberapa wisata yang bisa dikatakan wajib bagi pecinta sejarah adalah candi yang ada di Sidoarjo tersebut, apalagi candi di Sidoarjo ada beberapa masih berdiri kokoh dan juga menarik untuk dikunjungi.

Selain berdiri kokoh, spot yang bagus juga menjadikan keunikan tersendiri dari beberapa wisata candi yang ada di Sidoarjo tersebut. Dan penulis akan memaparkan setidaknya 5 wisata candi di Sidoarjo Jawa Timur yang harus kalian kunjungi, bagi kalian yang suka berwisata sekalian belajar akan sejarah. 


Pertama, Candi Sumur.

Beberapa dari kalian tentunya ada yang sudah tidak asing kalau mendengar nama Candi Sumur. Candi sumur merupakan nama salah satu candi yang ada di Sidoarjo yang cukup popular dikalangan warga lokal maupun wisatawan luar negeri.

Candi satu ini memiliki bentuk bangunan yang unik dan sangat menarik. Meskipun bentuk candi sudah tidak utuh, tetapi di sisi lain menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Candi sumur ini berlokasi di Candipari Kulon, Candipari, kecamatan Porong, Sidoarjo. Konon katanya Candi Sumur ini dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat atau adik angkat dari Putra Prabu Brawijaya.

Candi sumur ini merupakan salah satu cagar budaya di kabupaten Sidoarjo yang bisa kalian kunjungi.


Kedua, Candi Pari.

Candi pari ini juga termasuk candi yang sangat popular dan juga ramai didatangi para wisatawan. Candi ini juga tidak jauh dari candi sumur, letaknya berada di jalan Purbakala, Porong, Sidoarjo. Bangunan candinya yang megah dan rumput taman di sekeliling yang terawat menjadikan Candi Pari tanpak megah dan indah.

Meskipun didirikan sudah lumayan lama, tetapi candi ini masih kokoh berdiri. Menurut batu yang ada dibagian gerbang, candi ini tertulis dibangun pada tahun 1293 saka, atau 1371 Masehi.


Ketiga, Candi Tawangalun.

Candi satu ini juga termasuk candi yang sering dikunjungi. Letaknya berada di jalan Tawangalun, Buncitan, Sedati, Sidoarjo.

Candi tawangalun ini merupakan candi peninggalan Majapahit, meskipun beberapa sisi candi yang tidak kokoh, tetapi candi satu ini juga mempunyai nilai sejarah dan juga menjadi daya tarik sendiri untuk didatangi oleh para wisatawan.

Candi tawangalun ini sempat mengalami pemugaran dengan pada pagian atapnya serta dinding candi. Lokasinya yang berada diperbukitan dan jauh dari pemukiman menjadikan area candi menjadikan suasana yang sejuk dan juga tenang.


Keempat, Candi Medalem.

Candi ini juga termasuk candi yang popular di kalangan warga lokal, lokasinya terletak di daerah Medalem, Tulangan, Sidoarjo. Lokasinya yang mudah dicari juga menjadikan pengunjung mudah dalam menuju ke area wisata sejarah di Candi Medalem tersebut.

Walaupun candi medalem ini tidak semegah candi lainnya, tetapi kisah sejarahnya juga sangat besar dan bisa dipelajari. Di sana banyak memiliki cerita, di mana konon katanya di wilayah candi ini dulunya hanya lahan yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Kemudian, juru kuncinya mendapat bisikan bahwa di bawah pohon terdapat sebuah candi, oleh sejak itulah ini kawasan dikenal sebagai wisata candi di Sidoarjo.


Kelima, Candi Dermo.

Diantara beberapa candi yang lainnya, Candi Dermo juga bisa kalian kunjungi saat datang ke kabupaten Sidoarjo. Candi yang satu ini lokasinya berada di dusun Candi Santren, kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Candi dermo ini merupakan candi peninggalan dari masa klasik hindu budha.

Beberapa ahli juga mengatakan, bahwa candi satu ini dibangun dari abad ke-14.***


Sumber :


Monday, June 5, 2023

Danau Buaya di Selatan Sidoarjo

Danau Buaya di Dusun Awar-Awar, Wisata Alternatif di Selatan Sidoarjo

5 June 2023 18:33 PM

Wisata Murah Sidoarjo

Wisata Dua Musim Danau Buaya di Dusun Awar-Awar, Tambakrejo, Krembung jadi jujukan wisata. Tempat itu jadi pilihan menarik untuk menikmati pemandangan Sidoarjo bagian selatan.

Terletak di bekas Kali Mati Porong dengan latar belakang Gunung Penanggungan, tempat ini memberikan suasana tenang dan syahdu. Kepala Desa Tambakrejo, Sutrisno, menjelaskan, tempat ini dinamakan Wisata Dua Musim karena memiliki dua konsep wisata pada dua musim yang berbeda.

“Kalau sedang musim hujan jadi ada airnya, baik dari hujan ataupun limpahan Sungai Brantas yang ada di sisi selatan. Sedangkan saat musim kemarau air akan surut. Dan biasanya sama warga dibuat tani tanem kemangi, sampai ada bunga matahari,” papar Sutrisno.

Dulu tempat itu, menjadi sungai buatan Belanda untuk mengairi perkebunan tebu di sekitar Krembung, Porong, dan Jabon. Pada tahun 1962, lokasi ini direklamasi dan direncanakan untuk digunakan sebagai tanggul sungai, tetapi proyek tersebut terbengkalai.

Akhirnya, tempat ini tidak terawat dengan baik dan tertutupi oleh kangkung dan eceng gondok. Namun, sejak tahun 2021, banyak orang dari luar kota yang mengetahui keberadaan danau ini. Mereka menjadikannya tempat untuk berfoto karena pemandangannya yang memukau, terutama dengan keberadaan gunung di latar belakang.

“Wisata ini baru diresmikan pada bulan Maret tahun ini oleh Camat Krembung, Dana Riawati. Sejak diresmikan, sekarang mulai ada atraksi wisata berupa perahu sampan dan bebek yang bisa dinikmati di danau tersebut,” terangnya.

Selain itu, sambung Sutrisno, penamaan “Danau Buaya” sendiri berasal dari inisiatif warga, yang merujuk pada penemuan buaya di Sungai Brantas pada tahun 2016.

Dia mengungkapkan, Desa Tambakrejo dan Kecamatan Krembung terus melakukan pengembangan untuk menjadikan tempat ini sebagai ikon wisata Sidoarjo. Salah satu rencana pengembangan adalah pembangunan jembatan sepanjang 50 meter yang melintasi danau untuk menambah keindahan tempat tersebut.


Sumber :

https://radarsidoarjo.jawapos.com/features/05/06/2023/danau-buaya-di-dusun-awar-awar-wisata-alternatif-di-selatan-sidoarjo/

Friday, March 3, 2023

Tempat Wisata di Sidoarjo yang Paling Banyak Dikunjungi

Ini Tempat-Tempat Wisata di Sidoarjo yang Paling Banyak Dikunjungi

2 Maret 2023

Jumlah kunjungan wisata di Kota Delta Sidoarjo pada 2022 membaik. Yakni, mencapai 1.068.205 orang. Angka itu naik dibandingkan 2021, yang sebanyak 1.045.825. Wisatawan domestik mendominasi. 

Namun, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) juga lumayan. Angka jutaan wisatawan itu mendatangi beberapa destinasi wisata. Mulai wisata sejarah seperti candi, wisata alam dan konservasi, kampung kuliner, wisata belanja Kampung Jetis dan Intako, serta wisata religi seperti Makam Mbah Ud hingga makam Dewi Ayu Sekardadu. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sidoarjo, jumlah kunjungan wisata paling banyak ada di Wisata Bahari Tlocor. Dalam setahun, ada 108.599 orang yang datang ke lokasi tersebut. Lalu, kunjungan ke Museum Mpu Tantular juga cukup banyak, yakni 36.250 orang. Begitu juga dengan kolam pemancingan ikan Delta Fishing, jumlahnya 20.482 orang. 

Dari total jumlah kunjungan tersebut, ada sebanyak 1.059.723 wisatawan domestik. Sedangkan wisman 8.482 orang. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Pemkab Sidoaejro Djoko Supriyadi mengaku, tahun lalu kunjungan wisata ke Wisata Bahari Tlocor cukup banyak. 

Pada tahun ini, tidak ada rencana untuk pengembangan signifikan di lokasi tersebut. “Tapi, akan kami bangun Tourist Information Center (TIC),” katanya seperti dilansir Jawa Pos Radar Sidoarjo (2/3). 

Djoko menjelaskan, pembangunan pusat informasi itu bertujuan memberikan informasi kepada wisatawan lokal serta wisatawan dari luar daerah. Sebelum menuju tempat wisata, para pengunjung bisa mampir ke Tourist Information Center dulu untuk mendapatkan petunjuk informasi tentang Wisata Bahari Tlocor. 

TIC juga berisi informasi tentang objek wisata lain yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Menurut Djoko, hal itu akan memudahkan wisatawan untuk melakukan kunjungan ke tempat-tempat wisata lainnya.


Sumber:

https://www.jawapos.com/surabaya/02/03/2023/ini-tempat-tempat-wisata-di-sidoarjo-yang-paling-banyak-dikunjungi/

Thursday, December 15, 2022

10 Candi di Sidoarjo Peninggalan Kerajaan Janggala

10 Candi di Sidoarjo Peninggalan Kerajaan Janggala yang Sekarang Dijadikan Wisata

- Jumat, 2 Desember 2022 | 19:31 WIB

  

Simak 10 Candi di Sidoarjo supaya dapat dijadikan refrensi destinasi wisata di Sidoarjo. Kabupaten Sidoarjo dahulunya dikenal dengan bekas kerjaan Jenggala, dimana dalam sejarahnya candi di Sidoarjo ini merupakan peninggalan kerajaan Jenggala.

Dari banyaknya Candi di Sidoarjo masyarakat memanfaatkannya sebagai wisata edukasi yang sangat cocok untuk anak. Tidak hanya dijadikan wisata edukasi Candi di Sidoarjo ini mempunyai pemandangan yang indah dengan harga tiket murah.

Untuk fasilitas di sekitar candik masih ada yang kurang lengkap sebab ada beberapa Candi di Sidoarjo ini baru ditemukan. Untuk itu wisata Candi di Sidoarjo sangat cocok untuk dijadikan liburan tahun baru bersama keluarga dan anak.

Namun untuk letak alamat Candi di Sidoarjo ini juga akan di bahas supaya anda tidak kebingungan dalam mencarinya. Supaya anda tidak penasaran langsung saja simak 10 Candi di Sidoarjo :


1. Pura Jala Siddi Amerta

Di tempat-tempat pengunjung ini juga akan mendapatkan wawasan baru. Pura Jala Siddhi Amerta memiliki bangunan yang begitu mewah dan tidak kalah indah dari pura di Bali. Letaknya tidak terlalu jauh dari Juanda.

Namun saat Anda berkunjung ke sini, ada baiknya Anda mengenakan selendang kuning. Pasalnya hal tersebut sudah menjadi ritual dan aturan yang ditetapkan sebelum masuk pura.


2. Candi Medali

Candi di Sidoarjo ini merupakan bangunan peninggalan masa klasik yang bercorak Hindu yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Candi ini berlokasi di desa Medalem, Kecamatan Tulangan, dan Kabupaten Sidoarjo.


3. Candi Wangkal

Candi di Sidoarjo ini merupakan peninggalan bersejarah yang bercorak Hindu, yang terletak di Desa Wangkal, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.


4. Candi Pari

Candi Pari merupakan salah satu Candi di Sidoarjo yang berasal dari peninggalan kuno yang bercorak Hindu, yang berada di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.


5. Candi Dermo

Candi Dermo merupakan sebuah peninggalan bangunan candi Hindu di Indonesia yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Candi ini terletak di Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Candi ini merupakan cagar budaya yang ada di Indonesia.


6. Candi Sumur

Candi di Sidoarjo ini merupakan candi peninggalan hindu yang terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, sejauh 100-200 m sebelah barat daya dari Candi Pari. Dibangun pada tahun yang sama dengan Candi Pari, keduanya merupakan cagar budaya di Kabupaten Sidoarjo.


7. Candi Pamotan

Candi ini merupakan dua bangunan peninggalan agama Hindu di Indonesia yang terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.


8. Candi Tawangalun

Candi ini merupakan peninggalan masa klasik bercorak Hindu yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Candi ini lokasinya berada di Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Candi ini masuk dalam cagar budaya.


9. Candi Terung

Candi Terung dikenal dengan sebutan yaitu Candi Terung adalah candi bercorak Hindu yang terletak di Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.


10. Candi watu tulis

Candi ini merupakan bangunan peninggalan sejarah bercorak Hindu, yang berlokasi Di desa Watutulis, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.


Sumber :

https://www.sinergipapers.com/travelling/pr-2875909043/10-candi-di-sidoarjo-peninggalan-kerajaan-janggala-yang-sekarang-dijadikan-wisata?page=4

Friday, January 21, 2022

Wisata Jet Ski di Sidoarjo

Keren! Kini Ada Wisata Jet Ski di Sidoarjo yang Menantang untuk Dicoba

Jumat, 21 Jan 2022 13:45 WIB

Olahraga jet ski kini hadir di Sidoarjo. Warga Jawa Timur pun tak perlu jauh-jauh untuk mencari olahraga ekstrem yang memacu adrenalin ini.

Di Sidoarjo, olahraga ini bisa dinikmati di Seven Point Jetski, tepatnya di Dusun Bangunsari, Desa Kalisogo, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Lokasinya pun tak jauh. Hanya sekitar 15 km ke arah selatan dari pusat kota Sidoarjo.

Jet ski ini melaju di perairan sungai Porong. Pengelola Seven Point Jetski Agus Panca mengaku sengaja memilih lokasi ini untuk mendorong potensi lokal, untuk meningkatkan perekonomian warga yang dekat dengan sungai Porong.

"Kami memilih mendirikan water sport di perairan sungai Porong ini yang pertama untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar sungai," kata Agus kepada detikcom di Jabon, Sidoarjo, Senin (17/1/2022).

Agus mengungkapkan mendirikan wahana olahraga ekstrem ini sebenarnya tidak mudah. Namun harus dipikirkan arus air sungai, serta tingkat sampah yang terbuang di sungai Porong. Karena, apa bila banyak sampah, maka bisa mengganggu laju kecepatan jet ski.

"Selain untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar, wahana ini bisa dipakai tempat latihan atlet jet ski Jawa Timur," jelas Agus.

Untuk harganya, Agus mematok tarif yang sepadan. Dia menyebut ada paket hemat yang bisa dinikmati masyarakat.

"Untuk warga Sidoarjo yang ingin memakai wahana Seven Point Jetski di Jabon, bisa memilih paket yang kami sediakan. Yang pertama selama 15 menit dengan biaya Rp 150 ribu. Kemudian paket satu ke Pulau Lusi dengan biaya Rp 1 juta, dan paket spesial touring ke Gili Ketapang Banyuwangi dengan Rp 4,5 juta," paparnya.

Sementara itu warga Sidoarjo pecinta jet ski, Wahyuni (31) mengaku wahana ini seru dan menyenangkan. Dia mengatakan tak perlu khawatir dengan safety bagi pemula, karena di Seven Point telah disiagakan instruktur dan pendamping yang berpengalaman dan memiliki sertifikat pelatih resmi.

"Bagi warga Sidoarjo dan sekitarnya yang ingin bermain jet ski tidak perlu jauh-jauh ke bali, Lombok atau Kepulauan Seribu. Cukup di Sidoarjo sudah tersedia," kata Yuni usai mencoba Jetski.

Yuni menambahkan, suasana di sini juga tidak terlalu crowded. Apa lagi ditambah angin sepoi-sepoi dan ombak yang stabil semakin menambah nikmat berlatih jetski.

Dia menyebut, dalam kondisi pasang maupun surut, bermain jetski di sini bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi pemula.

"Namun jika menginginkan sensasi ombak yang lebih menantang, boleh keluar dari jalur sungai Porong menuju laut," ungkapnya.

"Beberapa paket sewa jet ski dengan varian harga yang tergolong sangat terjangkau jika dibandingkan dengan price list di Bali dan tempat-tempat lainnya," tambah Yuni.

Sementara itu, wisatawan asal Gedangan, Sidoarjo, Vivin (29), mengatakan, dirinya sangat terkesan bermain jet ski. Apa lagi ini merupakan yang pertama kalinya.

"Awalnya khawatir. Namun setelah mencoba beberapa saat ternyata sangat mengasyikkan. Rasanya seperti naik motor matik namun berhentinya agak susah," kata Vivin.

Hal serupa dikatakan Noe, wisatawan asal Krian. Meskipun sempat takut, namun dia akhirnya merasa aman karena didampingi instruktur berpengalaman.

"Ini yang pertama kali naik jet ski. Meskipun saya takut air tapi saya merasa aman karena didampingi instruktur dan memakai jaket pelampung. Kapan-kapan saya akan mencoba lagi," pungkas Neo.


Sumber :

https://travel.detik.com/travel-news/d-5908170/keren-kini-ada-wisata-jet-ski-di-sidoarjo-yang-menantang-untuk-dicoba.

Thursday, April 15, 2021

XXI Transmart dan Cinepolis Lippo Plaza Sidoarjo Dibuka Kembali

Mulai Hari Ini, XXI Transmart dan Cinepolis Lippo Plaza Sidoarjo Kembali Beroperasi

Jumat, 16 April 2021 | 13:03 in Gaya Hidup

Mulai hari ini, dua bioskop di Kabupaten Sidoarjo kembali beroperasi. Yakni XXI Transmart Sidoarjo dan Cinepolis Lippo Plaza Sidoarjo. Demi menghindari kerumunan saat mengantre pembelian tiket, XXI menghimbau agar pengunjung membeli tiket melalui aplikasi

Keduanya kompak mengumumkan beroperasi kembali melalui media sosial resminya. Dalam postingannya, kedua bioskop tersebut menyampaikan woro-woro mulai beroperasi tertanggal 16 April 2021.

Selain itu, untuk menghindari kerumunan saat mengantre pembelian tiker, XXI menghimbau agar pengunjung membeli tiket melalui aplikasi. Tak hanya pembelian tiket, kini aplikasi M-Tix milik XXI juga bisa melayani pembelian makanan dan minuman sebagai teman menonton film.

“Jangan lupa beli tiket nonton, beli makanan dan minumannya lewat aplikasi M-Tix serta selalu menerapkan protokol kesehatan XXI new habits, ya,” tulisnya.

Di sisi lain, meski sama-sama berada di bawah operator bioskop XXI, Ciplaz masih belum membuka kembali bioskopnya. Hingga kini belum ada kepastian kapan bioskop XXI Ciplaz akan beroperasi kembali.

Sidoarjonews.id juga telah berusaha menghubungi pihak XXI terkait kendala yang dialami tetapi hingga kini belum mendapat jawaban.

Namun, berdasarkan penuturan petugas yang tak ingin disebutkan namanya, selama ini izin operasi bioskop terganjal di kepolisian.

“Dari dinas sebenarnya sudah ada izin sejak September tahun lalu, tapi izin keramaian yang kami ajukan ke polres sampai sekarang belum keluar,” ujarnya.

Selain Ciplaz, bioskop di Sun City Sidoarjo juga belum beroperasi sampai hari ini. Di website platinum cineplex, operator bioskop Sun City Sidoarjo, tertera bahwa bioskop masih tutup dan tidak ada kejelasan kapan dibuka kembali.

Beroperasinya kembali dua bioskop di Sidoarjo memenuhi rasa kangen pecinta film, serta menjadi sarana menggeliatkan kembali perekonomian di sektor hiburan. Meski demikian, protokol kesehatan tetap harus dijalankan dengan ketat dan disiplin. 


Sumber :

https://sidoarjonews.id/mulai-hari-ini-xxi-transmart-dan-cinepolis-lippo-plaza-sidoarjo-kembali-beroperasi/

Wednesday, December 11, 2019

Kampung Lali Gadget

Di Kampung Sidoarjo Ini Anak Bakal Lupakan Gadget


Perkembangan teknologi diikuti maraknya gadget membuat anak dan remaja lebih memilih habiskan waktu dengan gadget ketimbang sosialisasi dengan lingkungannya.

Hal itu membuat keresahan seorang pemuda bernama Ahmad Irfandi. Ia membentuk Kampung Lali Gadget di Sidoarjo, Jawa Timur. Nama kampung ini dalam Bahasa Indonesia disebut juga "lupa gadget". Kampung ini tepatnya berada di Dusun Bendet, Desa Pager Ngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur.

Melalui kampung ini, anak dikenalkan dengan permainan tradisional antara lain egrang, dakon, dan wayang, balon gelembung, menembak botol gunakan peluru kertas, dan lain-lain. Demikian mengutip tayangan Liputan6, Rabu, (11/12/2019).

Kampung yang hadir sejak April 2018 ini terbentuk dengan bantuan sejumlah komunitas dan karang taruna setempat. Diharapkan anak-anak dan warga melestarikan permainan tradisional sedini mungkin. Selain itu mengajak anak-anak mengurangi bermain gawai yang dinilai dapat menyebabkan gangguan kejiwaan serta antisosial.

Ahmad Irfandi mengharapkan kampung lali gadget menjadi kampung percontohan bagi kampung-kampung lain untuk terus mengkampanyekan permainan tradisional dan mengurangi bermain gawai dan gadget sedini mungkin.

Kini kampung lali gadget ramai didatangi anak-anak yang ada di desa setempat, dan desa sekitarnya. Semua anak yang bermain harus bebas dari gadget. Gerakan Kampung Lali Gadget ini disambut baik para orangtua karena dapat mengurangi anak-anak bermain gawai dan mampu bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Sumber:
https://surabaya.liputan6.com/read/4131672/di-kampung-sidoarjo-ini-anak-bakal-lupakan-gadget

Sunday, April 22, 2018

Ikan Monster di Monstero Pond

Sensasi Memancing Ikan Monster di Monstero Pond


Memancing ikan mas, lele, dan gurame, bagi banyak orang mungkin sudah biasa. Namun di Monstero Pond, di kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo, para penggila mancing ditawari sensasi memancing berbeda.

Di kolam pemancingan ini pemancing akan merasakan tarikan kuat ikan-ikan monster, seperti ikan genghis khan (hiu air tawar), spatula (aligator fish), redtail catfish (lele raksasa), dan lainnya.

"Strike!" teriak Arie Yunanto (33) saat kailnya berhasil menangkap ikan monster. Butuh 10 menit bagi karyawan swasta bagian IT di Sidoarjo ini mengangkat ikan red belly pacu (sejenis ikan bawal) seberat 5 kg.

Usai ikan tersebut dijaring, Arie pun tak melepaskan kesempatan berfoto, berpamer ria di akun medsosnya.

"Butuh tenaga ekstra kalau mancing di sini. Yang 5 kg saja sudah melelahkan, apalagi dapat yang 40 kg. Tapi ini sangat menyenangkan," kata Arie kepada Surya, Rabu (30/12/2015).

Bagi Arie, memancing ikan monster membutuhkan kekuatan fisik ekstra. Pun umpan yang digunakan juga berbeda dengan memancing ikan mujair.

"Kalau lagi stres kerjaan kantor, dapat strike ikan monster di sini bikin lega," sambungnya.

Di sudut lain, Andy Halim (40) pun mendapatkan strike. Pengusaha asal Surabaya ini berhasil mengangkat ikan genghis khan yang agresif. Tak tanggung-tanggung, beratnya mencapai 11 kg.

Sekitar 20 menit Andy yang datang bersama keluarganya ini baru bisa mengangkat si hiu air tawar.

"Ikannya lari-lari jadinya terlilit benang pancing orang lain. Tarikannya kuat, tapi sensasinya mantap," imbuh Andy.

Tadinya, Andy hanya memancing ikan-ikan ukuran standard, seperti bandeng, mujairdan lainnya. Namun, sekali mencoba tarikan ganas ikan monster, ia jadi ketagihan.

"Ini kali kedua saya datang dan sensasinya selalu mencengangkan. Datang sama keluarga sekalian berlibur," ucapnya.

Supervisor Monstero Pond, Imam Supandi, menerangkan kolam pemancingan khusus ikan monster ini dibangun atas gagasan pengusaha tambak Sidoarjo bernama Eddy pada 2013.
Kemudian, pengelolaan diambilalih menantunya, Hendri Andrianto, dan menjadi satu-satunya kolam pancing ikan monster di Jatim.

"Kolamnya didesain berbeda dan ada aturan-aturan khusus untuk memancing di sini," papar Imam.

Imam menerangkan pemiliknya, Hendri, mendesain kolam pancing ini seperti habitat danau di Vietnam. Pinggiran kolam seluas 8.000 meter persegi tersebut dibentengi batu-batu kali untuk habitat ikan-ikan kecil, sumber makan ikan-ikan predator ini.

"Pemilik kami memang ingin menawarkan sensai mancing yang berbeda. Ketimbang mancing ikan monster di laut, butuh biaya besar dan waktu lama, orang bisa merasakan menarik ikan monster cukup di kolam kami," jelasnya.

Manajer Umum Monstero Pond, M Komari, menambahkan untuk memancing ikan monster harus menggunakan joran spesifikasi standar ikan laut, dengan senar PE 2,5 dan reel 3.000. Di bawah itu, kemungkinan besar joran akan patah atau senar putus.

Komari membeberkan ada 18 jenis ikan monster yang ada di kolam ini. Yang paling besar adalah redtail catfish seberat 40 kg yang diimpor langsung dari Amerika.

Untuk memancing di sini, pengunjung membayar paket 4 jam atau fullday, Rp 150.000 atau Rp 200.000. Jika berhasil mengangkat ikan, ikan tersebut kembali dilepas ke kolam.

"Ada aturan khusus, kailnya tidak boleh ada kait dan umpannya tidak boleh pakai essence (penguat bau)," tukas Komari.

Rata-rata dalam seminggu ada 200 pemancing dari berbagai daerah yang mencoba peruntungan melawan ikan-ikan monster ini. Ada yang berhasil, banyak juga yang tidak.
Untuk meluapkan tidak mendapat ikan monster, pihaknya juga menyediakan kolam pemancingan standar berisi ikan nila, gurame, dan lainnya.

"Ada teknik tersendiri untuk bisa menarik perhatian ikan monster. Harus pemancing yang sudah punya jam terbang tinggi," ujarnya.


Sumber :
http://surabaya.tribunnews.com/2015/12/30/sensasi-memancing-ikan-monster-di-monstero-pond?page=all.

Tuesday, December 5, 2017

Transmart Carrefour Sidoarjo

Pusat Wisata Transmart Carrefour Dibangun di Pagerwojo Sidoarjo


Satu lagi pusat wisata perbelanjaan, kuliner, bisnis dan hiburan dengan konsep city walk dari Transmart Carrefour Chalidana Group hadir di Jalan KH Mas'ud (Mbah Ud) Pagerwojo Buduran Sidoarjo.‎‎

Owner Chalidana Group H. Muhammad Ilyas mengatakan konsep untuk Transmart Carrefour yang dibangun berlantai lima, akan lengkap dalam kebutuhan sesuai selera minat masyarakat‎

"Di sini nanti kelengkapan belanja apapun bisa diperoleh. Ada tempat hiburan anak sampai orang dewasa, studio mini, dan lain sebagainya," katanya di sela-sela Groundbreaking Proyek Transmart Chalidana Group Jumat (13/1/2017).‎

Dia memaparkan, selain pembagungan gedung perbelanjaan, hiburan, dan kebutuhan lainnya, di area seluas 9 hektar ini juga akan dibangun tempat bisnis, universitas dan lainnya.

"Di sini nanti akan seperti kawasan Sidoarjo baru yang bagus. Saya yakin, tidak hanya warga Sidoarjo yang akan datang ke sini, warga luar kota Sidoarjo juga akan berdatangan," terangnya.

Masih kata Ilyas, Sidoarjo menjadi pilihannya dalam menanamkan investasi karena Sidoarjo kota maju, masyarakat yang komsuntif dan tingkat perkembangan perekonomiannya bagus.

"Jadi tidak salah jika kami berinvestasi di Sidoarjo," pungkasnya dengan senyum.


Sumber :
http://m.beritajatim.com/ekonomi/287432/pusat_wisata_transmart_carrefour_dibangun__di_pagerwojo_sidoarjo.html

Sunday, November 5, 2017

Tempat Wisata di Sidoarjo

10 Tempat Wisata Sidoarjo Yang Paling Ramai Dikunjungi

Sidoarjo adalah sebuah daerah yang berada di Provinsi Jawa Timur. Sidoarjo terkenal akan lumpur lapindonya. Selain itu, Sidoarjo juga mempunyai banyak sekali potensi kawasan daerah tempat wisata yang sudah di kelola dengan sangat baik dan juga memiliki keindahan yang sangat indah, sehingga banyak Tempat Wisata Sidoarjo yang bisa kita kunjungi untuk mengisi waktu liburan. Lalu, seperti apa ya keindahan yang dimiliki Tempat Wisata Sidoarjo? Untuk tahu lebih jelasnya, yuk kita simak ulasan berikut ini.


1. Lumpur Lapindo Sidoarjo

Objek wisata Lumpur Lapindo ini sebenarnya merupakan bencana alam yang dimulai dengan adanya semburan lumpur panas yang berasal dari bawah tanah, tepatnya berada di lokasi pengeboran perusahaan Lapindo Brantas pada tahun 2006 silam. Semburan lumpur ini sudah menenggelamkan beberapa kawasan perindustrian serta pemukiman warga yang ada di tiga kecamatan. Akan tetapi, saat ini Lumpur Lapindo ini justru malah menjadi tempat wisata Sidoarjo yang banyak mengunjunginya untuk melihat langsung semburan asap yang beradal dari lumpur yang menyembur di bagian tengahnya. Akan tetapi, untuk kamu yang akan berkunjung ke sini, harus berhati-hati karena lumpur yang ada di sini sewaktu-waktu bisa menyembur.


2. Pulau Sarinah dan Tlocor Sidoarjo

Objek wisata yang satu ini berada di Kampung Tlocor, tepatnya terletak di Desa Kedungpandan, Kec. Jabon, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Pulau Sarinah ini merupakan sebuh pulau yang terbentuk karena sedimentasi Lumpur Lapindo. Namun, pulau ini justru bisa menarik banyak pengunjung untuk datang ke pulau yang satu ini.


3. Museum Mpu Tantular Sidoarjo

Tempat Wisata di Sidoarjo selanjutnya adalah Museum Mpu Tantular, bagi kamu yang suka dengan wisata sejarah, tempat ini cocok bangt untuk kamu kunjungi. Museum ini menyimpan beragam peninggalan sejarah. Diantaranya adalah emas dan juga lukisan yang katanya sudah di buat sejak abad ke-14. Koleksi benda peninggalan sejarah yang ada di museum ini antara lain adalah etnografi, numimastil, geologi, dan biologi.


4. Candi Pari Sidoarjo

Candi yang satu ini memiliki bentuk segi empat yang terbuat dari batu bata. Candi ini konon katanya adalah sebuah candi peninggalan sejarah dari masa kepemimpiman Hayam Wuruk di zaman Kerajaan Majapahit. Disini kamu akan merasakan nuansa religi agama Hindu yang kental. Untuk lokasinya, Candi Pari ini berada di Desa Candi Pari, Kec. Porong, Sidoarjo. Dan hanya butuh beberapa kilometers dari pusat smburan lumpur kamu sudah sampai ke candi ini.


5. Makam Putri Ayu Sekar Dadu Sidoarjo

Makam yang satu ini terletak di Dusun Sawoan, Kec. Buduran, Sidoarjo. Makam ini adalah sebuah lokasi wisata sejarah ang sakral. Putri Ayu Sekar Dadu ini sendiri yaitu Putri Raja Blambangan dan dipercaya bahwa beliau merupakan Ibu dari Sunan Giri.


6. Sungai Porong Sidoarjo

Sungai Porong ini berada di Desa Tlocor, Kec. Jabon, Sidoarjo selatan. Disini kamu bisa menyusuri dan mengeksplor sepanjang Sungai Sorong hingga sampai ke bagian muara dimana kamu akan melihat Pulau Sarinah yang merupakan sebuah pulau yang merupakan hasil sedimentasi Lumpur Lapindo. Di sini juga banyak warga sekitar yang biasanya menikmati pemandangan sunset sambil memancing di sore hari.



7. Kampung Batik Jetis Sidoarjo

Tempat wisata Sidoarjo yang satu ini adalah wisata budaya sekaligus wisata belanja yang sudah cukup terkenal. Disini banyak para pengrajin yang membuat batik khas daerah Sidoarjo yaitu batik dengan motif burung. Disini kamu bisa melihat langsung proses pembuatan batik, dan sekaligus membeli kain batik untuk dijadikan oleh-oleh.


8. Monumen Sidoarjo

Monumen ini bisa kamu temukan di Alun-alun Sidoarjo.Monumen ini mempunyai logo udang dab juga bandeng raksasa. Alasan para pengunjung datang ke sini adalah terutama karena banyak pusat jajanan yang ada di sekitar alun-alun, dan juga sangat cocok untuk nongkrong dan menikmati suasana sekitar alun-alun yang indah.


9. Sun City Waterpark Sidoarjo

Tempat ini merupakan taman bermain air yang sudah ada sejak tahun 2004, yang berlokasi di Jl. Pahlawan Sidoarjo. Sama seperti wahana taman bermain pada umumnya yaitu seperti waterboom, outbond, flying fox dan masih banyak lagi. Tempat wisata ini cocok sekali untuk anak-anak dan keluarga.


10. Sentra Tas Tanggulangin Sidoarjo

Objek wisata yang satu ini merupakan pusat penjualan tas wanita yang diproduksi di Sentra Tas Tanggulangin yang sudah dipasarkan didalam negeri dan juga diekspor ke luar negeri. Kamu bisa membeli oleh-oleh tas disini untuk keluarga yang ada di rumah. Untuk harga, kamu tidak perlu khawatir, karena harga tas untuk wisatawan lokal sangat terjangkau kok.


Sumber :
http://cektravel.info/tempat-wisata-sidoarjo.html

Sunday, May 10, 2015

Street Shop Sidoarjo

Ingin Jadi Ikon Street Shop Sidoarjo

Pedagang Kali Lima (PKL) di Perumahan Taman Pinang memiliki angan-angan besar. Mereka berharap, kawasan tempat mereka berjualan menjadi ikon Kabupaten Sidoarjo."Street Shop konsepnya. Jadi, kami, ibu bukan sembarang PKL lho," kata Koordinator PKL, Eka Sri Wulandhari. sembari tertawa, Minggu (10/5/2015).

Dia menjelaskan, hampir semua PKL di Taman Pinang tidak menggunakan gerobak. Etalase pedagang di sana memanfaatkan mobil pribadi. Itulah keunikan pedagang di Taman Pinang.
"Kami pakai mobil untuk berdagang. Jadi kami bukan sekedar berjualan di jalan tetapi juga menegaskan kami bersih dan bisa dijadikan ikon wisata belanja," katanya.

Keunikan lain, kata dia, dia dan sekitar 158 pedagang hanya berjualan pada hari libur dan besar nasional. Jam operasional pun terbatas dari pukul 06.00 sampai 12.00. Para pedagang menjajakan dagangan bervariasi, mulai dari kuliner sampai urusan rumah tangga.

"Kami ada yang jualan sarapan, kursi, meja, pakaian, sepatu sampai perkakas rumah tangga. Jadi sambil olah raga, pengunjung bisa jalan-jalan dan belanja. Harga kami murah dan terjangkau semua kalangan," ujar pedagang nasi pecel itu.

Hampir semua pedagang di sana adalah warga Sidoarjo. Sedangkan pengunjungnya, tersebar dari kota-kota sekitar Sudoarjo. Eka sering mendapatkan pelanggan dari Surabaya dan sekitarnya.

"Pengunjung ini penasaran setelah mendengar ulasan tentang kami di radio. Jadi banyak yang dari luar kota, yang biasanya lewat tol itu mampir ke tempat kami. Ini artinya kami membantu pemerintah memutar roda ekonomi," kata Eka.

http://surabaya.tribunnews.com/2015/05/10/ingin-jadi-ikon-street-shop-sidoarjo

Friday, April 25, 2014

Progress Pembangunan Dufan di Kawasan Waru


Pembangunan Dunia Fantasi (Dufan) di kawasan Waru terus mendapat sorotan dari berbagai pihak. Pasalnya, tinggal beberapa persyaratan perijinan yang belum selesai dan kini sudah diproses. Lahan Dufan yang berada di bekas pabrik soda ini berlokasi di Desa Waru dan Desa Kureksari, Kecamatan Waru. Sesuai rencana, tempat wisata permainan itu akan menempati lahan seluas 10 hektar. Lahan seluas 7 hektar milik eks pabrik soda dan sisanya 3 hektar milik warga setempat. “Targetnya tahun ini sudah mulai dibangun, kan tinggal beberapa persyaratan perijinan yang belum kelar,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Kerjasama Pemkab Sidoarjo Ari Suryono.

Salah satu sorotan ini datang dari anggota DPRD Sidoarjo, H Sungkono. “Jika tidak ada rekayasa di jalan tersebut, kemungkinan besar akan terjadi sarang kemacetan,” jelasnya. Sungkono menambahkan, rekayasa lalu lintas itu harus diatur sedetail mungkin, agar para pengunjung yang keluar dan masuk Dufan tidak mengganggu arus lalu lintas. Sungkono mengharapkan, rekayasa lalu lintas itu harus diatur sedetail mungkin, agar para pengunjung yang keluar dan masuk Dufan tidak mengganggu arus lalu lintas.

Wawan warga yang tinggal di kawasan Waru juga mengungkapkan, bahwa pembangunan Dufan ini diharapkan nantinya mampu meningkatkan perekonomian warga yang tinggal disekitar Waru. “Selama ini pembangunan di Sidoarjo tidak merata, pembangunan hanya terpusat pada Sidoarjo Kota saja”. ucap Wawan. “kami juga mengharapkan pihak Pemkab juga memikirkan rekayasa lalu lintas, mengingat Raya Waru adalah wilayah rawan macet”. Imbuh Wawan.

Di lain tempat, Kabag Kerjasama Pemkab Sidoarjo Ari Suryono mengatakan, kerjasama pembangunan Dufan memang terus dilanjutkan. Diharapkan 2014 ini ditargetkan sudah mulai dibangun oleh investor. Berbagai persyaratan perizinan juga sedang dilengkapi oleh investor. “Saat ini kelengkapan terkait masalah perizinan yang belum kelar terus dikebut,” ucapnya. Ari mengungkapkan, masalah rekayasa jalan tentu saja menjadi salah satu pembahasan yang perlu dikaji. Nantinya, Dishub juga akan membahas masalah tersebut dengan investor agar masalah kemacetan bisa teratasi. “Rekayasa jalan kan memang perlu dan itu harus dilakukan,” tegas Ari.

Perlu diketahui, saat ini investor Dufan masih harus melengkapi sisa perijinan Amdal maupun rekayasa lalu lintas. Memang pembangunan Dufan disambut sangat positif oleh berbagai kalangan di Sidoarjo, namun, di sisi lain diharapkan Pemkab juga harus menyiapkan infrastrukturnya jalan terlebih dulu agar tidak terjadi permasalahan kemacetan yang serius.

http://www.infosda.com

Sunday, November 10, 2013

Kerajaan Jenggolo di Sidoarjo

SIDOARJO ADALAH PUSAT KERAJAAN JENGGOLO 

Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.
Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan. Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. SedangkanDhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.
Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana di salah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.
Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.
A.KETURUNAN DARI BALI KE KAHURIPAN
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan. Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja MedangKamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu
Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi. Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.
Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakankerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa. Peristiwa tragis yang kemudian disebut
Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menteri- menterinya.
Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri. Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.
Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramo-tunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah- daerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.
Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.
Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan hasil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.
B.KERAJAAN KAHURIPAN ( AIRLANGGA ) TERBELAH
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamgditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa. 
Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.
Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan
untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.
Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan
jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.
Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri JayaWarsa.Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktubumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.
Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmu Tantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito
(penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.
Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan. Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang
dibawanya terbang ke langit. Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di tar uh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam,
marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.
Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan. Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis: Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi ; dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti di belahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegakdan berjaya dalam memimpin Negara.

CANDI BELAHAN
Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Duakerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta).
Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.
Di Daerah Gunung Penanggungan inilah Airlangga dikenal se bagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia memakai nama Bega wan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebua ungkap an yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menye lamatkan Sintha dalam cerita epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049 M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.
C.JENGGALA = UJUNG GALUH DI SIDOARJO
Dibandingkan Dhaha, faktor ekonomi Kerajaan Jenggala tumbuh sangat pesat. Jenggala menguasai sungai-sungai bermuara termasuk Bandar dagang di Sungai Porong memberikan income yang besar bagi kerajaan. Selain itu juga membuat Jenggala lebih di kenal oleh manca Negara karena Bandar dagang peninggalan Airlangga ini (berdasarkan catatan kerajaan China) adalah Bandar dagang kedua terbesar danramai setelah Sriwijaya. Tetapi Bandar dagang ini juga menjadi bibit perselisihan dengan Dhaha yang hanya menguasai sungai tanpa muara. Sebab bagi Dhaha sangat tergantung dengan hasil Agrokultur ini tidak mempunyai pasar yang cukup memadai bagi hasil buminya, karena pasar besar adalah Jenggala.
Kata Jenggala di percaya berasal dari ucapan salah untuk Ujung Galuh. Walaupun saat ini Ujung Galuh lebih menunjukkan suatu tempat di Surabaya atau Tuban. Tetapi untuk hubungan kalimat Jenggala dengan Ujung Galuh bisa dilihat dari catatan Pedagang China yang menuliskan Jenggala dengan Jung-ga-luh. Misalnya pedagang Chou ku fei yang datang pada tahun 982 Saka (1060 M) menuliskan: Negara asing yang merupakan lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).
Raja-raja Jenggala di antaranya Lembu Amiluhung (Sri Jayantaka). Sri Jayantaka adalah putra Airlangga dari selir. Ia mulaimemerintah di Jenggala mulai tahun 1042 M. Pada masa pemerintahannya, Jenggala mengalami jaman keemasan sekaligus jaman kecemasan. Dikatakan jaman keemasan karena pada masa itu Jenggala mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari hasil Bandar Dagang Porong. Sementara dilain pihak Jenggala juga di cemaskan oleh ancaman serangan oleh Dhaha bila Bandar dagang itu tidak diserahkan ke Dhaha. Kecemasan itu cukup beralasan mengingat kekuatan militer Dhaha lebih kuat dari pada Jenggala.
Raja lainnya adalah Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 - 1052). Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah oleh Kameswara 1 (Inu Kertapati). Karena serangan itu pusat kerajaan Jenggala di tarik lebih ke Utara, diperkirakan sekarang berada di daerah Lamongan.
Bukti perpindahan pusat kerajaan itu dapat dilihat pada Prasasti Kembang Putih, Malengga yang ditemukan di daerah Tuban. Pada periode selanjutnya kerajaan Jenggala beribukota di Lamongan.
Tibalah Mapanji Alanjung Ahyes berkuasa (1052 - 1059). Jenggala di bawah Mapanji Alanjung Ahyes tetap berpusat di Lamongan. Pada masa pemerintahan nya sering di lancarakan serangan secara sporadis kepada pendudukan Dhaha.
Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelum kerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Pusat kerajaan tetap di daerah Lamongan. Setalah tahun 1059 keberadaan Jenggala seperti hilang di telan bumi. Batas kerajaan Jenggala adalah sesuai dengan batas Kerajaan Kahuripan sebelah utara. Dalam hal ini batas daerah kekuasaan Jenggala meliputi Timur (Bali), Tenggara (Pasuruan), Barat daya (Kudus).
Sebagai sebuah catatan : istilah Jenggala pada awalnya adalah untuk menunjukkan sebuah tempat, Ujung Galuh, dan baru dipakai menjadi nama kerajaan setelah peristiwa pembelahan Kahuripan.
Untuk menentukan di mana letak kutaraja (kraton) Jenggala, tulisan ini menggunakan masa pemerintahan Sri jayantaka sebagai rujukan, yang mana kraton Jenggala ditempatkan di wilayah Sidoarjo.Adapun pertimbangannya adalah karena pada masa Sri Jayantaka yang Cuma tiga tahun itu, kerajaan Jenggala masih merupakan sebuah struktur pemerintahan yang otonom dan aktif. Artinya Jenggala pada waktu itu masih punya wilayah, pusat pemerintahan, pusat militer, fasilitas umum dan masih memegangkendali perkembangan Bandar dagang di sungai Porong.
Sedangkan untuk masa setelah Sri Jayantaka, Jenggala lebih berbentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk juga pada pemerintahan Mapanji Garasakan dan Alanjung ayes yang masih memimpin perlawanan terhadap Kediri secara sporadis.
Selain merujuk pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, fakta lain yang menunjukkan hubungan Sidoarjo dengan Jenggala adalah;
1. Pertama, sebuah tulisan dari Kitab Negarakertagama yang menceritakan perjalanan dinas HayamWuruk untuk meninjau tiga daerah yang berdekatan yaitu Jenggala, Surabaya dan Bawean. Adapun kalimat dalam kitab tersebut adalah: Yen ring Jenggala ki sabha nrpati ring Curabhaya melulus mare Buwun (Jika raja berada di Jenggala, beliau pasti mengunjungi Surabaya sebelum ke Bawean).
2. Kedua, pada masa pemerintahan Mataram, wilayah Sidoarjo masih di sebut Jenggala. contohnya kawedanan di Sidoarjo diistilahkan Jenggala 1, Jenggala 2 dan seterusnya.
3. Banyaknya cerita rakyat yang berkembang dan peninggalan-peninggalan, misalnya : Makam Mbok Rondo Dadapan di Desa dadapan –Ande-Ande lumut, Tawang alun, Candi Kecana, Candi Sari serta bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai Pepe , Gunung Kalang Anyar dan Gunung Pulungan ( sekarang telah jadi perkampungan ) , adanya makam perkampungan lama di Tawang Alun, ditemukan adanya Arca serta ratusan bangunan lain yang banyak tersebar di wilayah Sidoarjo dan penanggungan.
Dengan beberapa fakta di atas bisa dikatakan bahwa kraton Jenggala pada mulanya ada wilayah Sidoarjo. Pertanyaan selanjutnya adalah di wilayah Sidoarjo sebelah manakah kraton Jenggala berdiri ? Ada beberapa pendapat yang berlainan mengenai keberadaan kraton Jenggala. tulisan ini hanya menghimpun pendapat-pendapat itu.
Menurut buku sejarah Sidoarjo yang di himpun PAPENSE (Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, tahun 1970), letak kraton dari Jenggala berada di sekitar sungai Pepe. Hal ini dibuktikan dengan penemuan beberapa arca di lokasi itu. Pada saat ini lokasi yang diyakini kraton Jenggala itu berada di wilayahKecamatan Gedangan.
Lain halnya dengan Totok Widiardi yang menyatakan bahwa kraton Jenggala berada di sekitar alun-alun. Tepatnya berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo. Pendapat ini mendasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Bathara Ismaya (Semar) yang masih berada di sana hingga tahun 1975.
Sampai saat ini kepastian di mana persis nya posisi kraton Jenggala masih misterius. Karena selain tidak adanya penelitian untuk itu juga belum ditemukannya situs purbakala yang menunjukkan bekas Kraton Jenggala. Di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan Jenggala.
D.PERTAHANAN JENGGALA
Sebenarnya kurang tepat bila disebut pusat militer, karena sebenarnya konsentrasi militer Jenggala (yang bisa terlacak saat ini) lebih bertujuan mengamankan Kutaraja (kraton) Jenggala.
Adapun pusat militer Jenggala dibagi dalam beberapa sektor-sektor sebagai berikut: sektor utara; kondisi geografis muara sungai Brantas memecah menjadi 9 sungai, yaitu : Krembangan, Mas, Pegirian, Greges, Anak, Bokor, Pecekan, Anda dan Palaca. Kesembilan sungai itu membentuk rawa dan delta-delta.
1. Batas paling Selatan dari muara Brantas ada di Wonokrmo, begitu juga garis pantai selat Madura.
2. Di sebelah Utara, militer Jenggala terpusat di daerah Wonokromo, Surabaya. Mengingat garis pantai pada saat itu adalah Wonokromo. Tujuan penempatan militer di posisi ini adalah untuk menghadang musuh dari utara. Selain itu juga berfungsi untuk mengawasi orang-orang hukuman (straafkoloni) yang di Surabaya. Perlu diketahui bila Surabaya mulai jaman Mataram Hindu (abad 9) sudah menjadi semacam “Nusa Kambangan” bagi para orang buangan. Komunitas perantaian yang di buang di situ terdiri dari narapidana, orang gila, cacat mental, cacat jasmani, tawanan perang dan perampok.
3. Di sektor tengah pusat militer Janggala diperkirakan berada di daerah Larangan (sekarang wilayah Kecamatan Candi). Peristiwa yang mendukung perkiraan itu adalah penemuan beberapa benda purbakala pada saat penggalian pondasi untuk Pasar Larangan yang terjadi di tahun 1980-an. Benda-benda purbakala itu berbentuk Binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang. Dari penemuan benda-benda keprajuritan itu beberapa orang sejarahwan menyimpulkan bahwa daerah Larangan dulunya merupakan komplek militer Jenggala. Walau pun hal itu harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih lanjut, tetapi setidaknya akan membantu merekonstruksi komplek kraton Jenggala.
4. Di sebelah Selatan Jenggala menempatkan Miiternya di daerah Gempol. Tentu saja hal ini di maksudkan untuk melindungi asset ekonomi kerajaan Jenggala yaitu Bandar dagang Porong. Karena bagaimana pun juga bandar dagang ini merupakan keuntungan geografis yang menyumbang income terbesar bagi dana kerajaan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan Kutaraja dari serangan musuh yang datang dari selatan, terutama Kediri yang terang- terangan menuntut hak kepemilikan bandar dagang di Porong.
Beberapa pusat aktifitas Jenggala lainnya di antaranya diperkirakan dari proses persamaan kata (lingua franca). Dari proses persamaan kata ini, kita akan mendapati beberapa fakta bahwa pusat IPTEK Kerajaan Jenggala diperkirakan di kawasan kecamatan Taman. Tempat rekreasi bagi bagi putra-putri kerajaan diperkirakan di daerah Tropodo. Sementara itu Perpustakaan Kerajaan Jenggala (dalam sebuah riwayat di sebut Gedung Simpen) berada di Desa Entalsewu, Kecamatan Buduran. Sebuah sumber menyatakan lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL. Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebutRONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak. Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yangbanyak di sebuah tempat.
Masih berdasar lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala diperkirakan berada di kawasan Buduran. Sebuah sumber mengkaitkan ini dengan kata Budur yang dalam Sansekerta berarti Biara. Kata Budur yang berarti biara ini bisa kita lihat dari kata Borobudur yang berarti biara yang tinggi (Boro: tinggi, Budur: Biara). Bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara. Dengan kata lain Kecamatan Buduran dimasa Jenggala adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.
E. SUNGAI PORONG DAN GUNUNG PENANGGUNGAN PUSAT POLITIK –BANDAR PERDAGANGAN
Pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, bandar dagang di Porong sedang dalam puncaknya. Konon bandar dagang ini dikatakan terbesar kedua setelah Sriwijaya. Banyaknya orang-orang asing yang berdagang semakin menunjukkan bandar dagang ini diperhitungkan di dunia internasional. Boleh jadi lahirnya bandar dagang ini merupakan babak baru bagi perjalanan sejarah Jawa.
Pada awalnya, kerajaan di Jawa bersifat agraris dan berada di lereng-lereng gunung. Segala aktifitas pemerintahan banyak dilakukan di sana. Tingkat interaksi dengan dunia luar tidak secepat Sriwijaya. Dengan keberadaan bandar dagang ini secara tidak langsung memindahkan kerajaan gunung ke kerajaan Pantai. Merubah budaya agraris dengan budaya merkantilis (perdagangan).
Ada dua orang dari negeri Cina yang sempat mencatat keberadaan Bandar dagang Porong.
1. Menurut Chou Yu Kua, menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yang besar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. Kantor-kantor dagang itu mengurusi palawija, emas, gading, perak dan kerajinan tangan yang selalu disenangi dan dikagumi orang Ta-shi (Arab). Pusat perdagangan berada di tempat yang bernama Yeo-thong (Jedong, sekarang wilayah Ngoro). Dibelakangnya ada gunung dengan sembilan puncak yang selalu diselimuti kabut tebal. Gunung yang bernama Pau-lian-an (Penanggungan) itu menjadi pedoman navigasi kapal yang akan masuk pelabuhan Porong.
2. Chou Ku Fei, seorang Pedagang, menuliskan kondisi subur tanah Jung-galuh (Jenggala) yang banyak dikelilingi sungai- sungai besar yang tembus dampai di gunung Pau-lain-an (Penanggungan). Sedangkan Bandar dagang di Porong banyak didatangi oleh para pedagang dari Cina, Arika, Thailand, Ta-shi (Arab) yang mengimpor beras, kayu Cendana, Kayu Gaharu dan bunga-bunga kering seperti Kenanga dan Melati.
Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.
Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.
Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – "hydrogeologie der Brantas vlakte", Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.
Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais - Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang "Prasasti Kelagyan" zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana "Banyu Pindah" dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.
Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaanErlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.
F.SURUTNYA KERAJAAN JENGGALA
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Bandar dagang Porong merupakan sumber perselisihan yang mengarah pada pertumpahan darah. Sri Jayawarsa yang memerintah Kediri (Dhaha) menuntut kepada kerajaan Jenggala agar Bandar dagang di Porong diserahkan pada Dhaha. Tuntutan ini di tolak oleh Raja Jenggala yang mendasarkan pada hasil pembelahan Kahuripan di Jaman Airlangga. Atas jawaban ini raja Dhaha mengancam akan merebut Bandar dagang Porong dan menyerbu Jenggala dengan kekuatan militer. Patut diketahui dalam bidang militer Dhaha lebih unggul dari pada Jenggala. Karenanya dapat dipastikan bila terjadi perang maka Jenggala akan berada di pihak yang kalah.
Untuk menghindari terjadinya peperangan saudara ini, dan juga untuk agar Bandar dagang Porong dikuasai dua kerajaan, maka diusulkan untuk menggelar perkawinan antar dua putra mahkota. Dua orang itu adalah Inu Kertapati anak raja Jenggala, dan Dewi Sekartaji putri. Perkawinan ini diharapkan bisa mereda ketegangan antara Jenggala dan Dhaha.
Tetapi konsensus yang digagas itu kenyataannya tidak berjalan mulus. Walaupun Dewi Sekartaji sangat mencintai Inu Kertapati, tetapi Inu kertapati ternyata tidak mencintai sepupunya itu. Ia lebih memilih Dewi Anggaraini anak patih Jenggala. akibatnya ketegangan memuncak lagi. Kerajaan Dhaha kembali mengancam akan membumi hanguskan Jenggala bila perkawinan politik itu gagal. Oleh Kecemasan akan serbuan Dhaha itu, raja Jenggala membuat kebijakan dengan membunuh Dewi Anggraini. Sehingga diharapkan perkawinan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji bisa berjalan Lancar.
Namun permasalahan tidak berhenti disini. Sedih karena kematian kekasihnya, Inu Kertapati diam-diam meninggalkan istana Jenggala. Ia pergi berkelana. Sedangkan Dewi Sekartaji yang merasa malu karena Inu Kertapati lebih mencintai Orang lain juga melakukan hal yang serupa. Sekartaji (atau juga disebut Galih Candra Kirana) meninggalkan Dhaha.
Dari perjalanan ini pula timbul banyak legenda Jawa yang terkenal sampai sekarang, Ande-ande lumut , entet dan mbok Rondo Dadapan. Dimana dalam cerita itu Inu Kertapati di simbolkan sebagai Ande-ande Lumut, Entit yaitu seorang jejaka anak pungut Mbok Rondo Dadapan yang membuat hati para gadis takluk. Sedangkan Dewi Sekartaji disimbolkan sebagai Klenting Kuning, seorang anak pungut yang disia-siakan saudara dan ibu tirinya, tetapi pada akhirnya ia yang dipilih Ande-ande lumut menjadi istri. Dan disamping itu “ Cah Ayu” yang menggoda “ Si entit ” adalah Dewi Sekartaji yang juga menyamar sebagai wanita desa. Perjalanan kedua putra mahkota ini juga di tulis oleh Mpu Dharmaja, seorang pujangga Dhaha, dalam kekawin Asmaradahana pada pemerintahan Kameswara 1.
Kemudian mereka melaksanakan pernikahan di Dhaha dan Inu Kertapati Marak dinobatkan menjadi Raja Dhaha dengan gelar Kamesywara 1 (1115-1130), bergelar Sri maharaja rake sirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Chandrakapala, dan adanya mpu Dharmaja yang telahmenggubah kitab Asmaradahana (berisi pujian yang mengatakan raja adalah titisan dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat cantik bernama Dewi Candhra Kirana). Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalam cerita Panji. Dengan dinobatkannya Inu Kertapati sebagai Raja Dhaha maka kerajaan Jenggala dan Dhaha disatukan. Peristiwaini terjadi pada tahun 1045 M. Terhitung dari tahun ini Jenggala sebagai kerajaan Besar pelan-pelan menutup buku sejarah.
Dengan diangkatnya Inu Kertapati menjadi raja di Dhaha, maka secara tidak langsung wilayah Kahuripan yang sebelumnya terpecah dapat disatukan lagi. Hanya saja wilayah itu tidak dibawah bendera Jenggala tetapi bendera Kerajaan Dhaha. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Kerajaan Jenggalamulai surut. Raja-raja Jenggala setalah Sri Jayantaka menarik Kerajaan lebih ke jauh di Utara.
Sejarah masih bisa melacak keberadaan Jenggala hingga tahun 1059, peristiwa ini bisa dilihat dari prasasti Kembang Putih di Lamongan. Prasasti ini menulisakn bahwa kraton Jenggala berada di sebelah utara sungai Lanang. Kraton ini berada di sana sampai dengan pemerintahan raja Jenggala terakhir Sri Samarattongga. setelah itu Jenggala hilang dari panggung sejarah.
Sampai saat ini masih belum didapat sebuah sumber yang menjelaskan secara tepat perginya orang Jenggala setelah 1059. Apakah mereka dari raja hingga rakyatnya habis ditumpas bala tentara Dhaha ataukah orang-orang Jenggala itu hijrah ke tempat lain?
G.MITOLOGI CANDI PARI
Salah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M ). Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. Sementara bangunan induknya terletak di sisi timur area.Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang.
1. Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persing gahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.
2. Sedangkan di versi kedua, Candi Pari menjadi simbol pembangkang an rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba. Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur. Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu. Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.
Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan. Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggap pembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa. Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahitbergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelah selatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernah ditemukan. Untuk mengenang suami istri yang berjasa pada daerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukan Padi dan Candi Sumur di daerah itu.
Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkan versi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagi perlawanan terhadap penguasa. Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN
1. Arsip Nasional Suriname, Achtergrondinformatie, 2006
2. Berg, C.C. Penulisan Sejarah Jawa, BHARATA 1976
3. Breg, C.C. Javaansche Geschiedschrijving, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
4. Dinas Purbakala Jawa Timur. Tafsir Kitab Negarakertagama, 1985.
5. De Graf, H. J, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pustaka Grafiti Pers dan KITLF, 1986.
6. De Graf, H. J, Runtuhnya Istana Mataram, Pustaka Utama Grafiti dan KITLF, 1986.
7. Houben, Vincebt, J.H. Kraton and Kumpeni, KITLV press 1994.
8. Iswanto, Syaiful Ary. wawancara dengan Totok Widiardi, Juli 2005.
9. Iswanto, Syaiful Ary. Irisan Airlangga yang diiris Belanda, Januari 2005.
10. Hariyono. Kultur Cina dan Jawa, Pustaka Sinar Harapan 1993.
11. Kartodirjo, Sartono. Ratu adil, Sinar Harapan Jakarta, 1984.
12. Surat Keputusan Gubernur Jendral Stbl. No: 138 13 Juli 1889 Koeli Ordonantie & revisi surat keputusan lain tertanggal 11 Maret 1898, Stbl. No: 78
13. Moll, J.P.A.C. val. De Onlusten in Sidhoardjo (Mei 1904), Archief Java suker industri, 1905.
14. Nortier, J.J. De Japanese aanval op Java Maart 1942, De Bataafse Leeuw, 1994.
15. Panitia Penggalian Sejarah, Sejarah Sidoarjo, 1970
16. Radar Surabaya. Legenda Candi Pari Sarat dengan Nuansa Politik, 25 Juni 2003.
17. Staatsarchief Suriname, Archief Immigratiedepartement Gepubliceerd in Hoefte, 1998
18. Sidoarjo pos, Persembahan untuk Ratu, Minggu ke 2 April 2005.
19. Stapel, Dr. F.W. Geschiedenis van Nederlands Indie, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
20. Toer, Pramoedya ananta. Arok Dedes , Hasta Mitra Jakarta, 2000.
21. Widodo, Imam Dukut. Surabaya Tempo Doeloe, 2002
22. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, Republiek Suriname, 2005
23. Yuanzi, Prof Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Yayasan Obor Indonesia, 2000
Di bawah ini adalah catatan2 sejarah yang berhubungan, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) "Geografi Kesejarahan", lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) "Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik", Slamet Muljana (1968, 2005) "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara", Slamet Muljana (1965, 2005) "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)", Denys Lombard (1990) "Le Carrefour Javanais", James Nash (1932), "Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres", H.J. de Graaf (1949) "de Geschiedenis van Indonesie", J. Brandes (1896) "Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit", buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur ("Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja" dan "Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) "The Geology of Indonesia", dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) " Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, cerita rakyat dan lain2

Related Posts